Atasi Krisis Sampah di TPA, DPRD Jember Pelajari Pengelolaan TPST BLE Banyumas

oleh -119 Dilihat
Anggota Komisi A DPRD Jember Tabroni. (Aji)
Anggota Komisi A DPRD Jember Tabroni. (Aji)

KabarBaik.co, Jember – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jember melakukan studi banding ke Kabupaten Banyumas untuk mempelajari sistem Pengelolaan Sampah Terpadu Berwawasan Lingkungan dan Edukasi (TPST BLE).

Kunjungan kerja ini bertujuan untuk mengadopsi sistem manajemen sampah yang efektif sekaligus bernilai ekonomis bagi masyarakat.

Anggota Komisi A DPRD Jember Tabroni, mengungkapkan bahwa TPST BLE Banyumas dipilih sebagai rujukan karena dinilai sukses mengatasi persoalan sampah yang saat ini juga tengah menjadi momok di Kabupaten Jember.

“TPST BLE ini merupakan salah satu lokasi dengan predikat pengelolaan sampah terbaik di tingkat nasional,” ujar Tabroni saat dikonfirmasi pada Minggu (24/5).

Melalui diskusi bersama Kepala UPT TPST BLE Banyumas, Tabroni mengaku mendapatkan gambaran utuh mengenai rantai pengelolaan sampah, mulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga hingga proses akhir di pabrik pengolahan. Namun, ia menekankan bahwa kesuksesan Banyumas tidak diraih dalam semalam.

Sejak tahun 2017, Pemkab Banyumas telah membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dan mulai merintis TPST BLE. Usaha tersebut diperkuat dengan bantuan alat pengolahan sampah dari APBN, hingga akhirnya sistem ini dapat beroperasi penuh sejak tahun 2021.

“Pengelolaan sampah ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh proses bertahap. Di Banyumas, mereka memulainya dengan membangun kesadaran masyarakat melalui sosialisasi masif agar mau memilah sampah rumah tangga menjadi organik, anorganik, dan B3,” jelasnya.

Politisi PDI Perjuangan itu juga mengatakan setelah pemilahan di hulu berjalan, KSM akan mengambil sampah tersebut untuk diolah secara mandiri menggunakan alat yang memadai. Residu atau sisa sampah yang tidak bisa diolah oleh KSM barulah dikirim ke TPST BLE untuk diproses kembali menjadi produk bernilai ekonomis.

“Residu yang diolah dengan baik di TPST BLE bisa diubah menjadi bahan bakar alternatif untuk pabrik, diproduksi menjadi paving block, dan produk bernilai ekonomi lainnya,” tambah Tabroni.

Kondisi di Banyumas sangat berbanding terbalik dengan situasi di Jember saat ini. Tabroni membeberkan bahwa volume sampah di Kabupaten Jember saat ini mencapai 1.000 hingga 1.300 ton per hari. Padahal, kapasitas tampung tempat pembuangan hanya berkisar antara 300 sampai 400 ton per hari.

“Kondisi TPA kita saat ini masih menggunakan sistem open dumping (sampah ditumpuk terbuka) tanpa adanya pengolahan yang maksimal. Dampak lingkungannya tentu sangat besar,” tegasnya.

Melihat urgensi tersebut, Tabroni mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember untuk segera mengambil langkah konkret melalui dua strategi utama:

Menggerakkan seluruh instrumen pemerintahan dan elemen masyarakat untuk mulai memilah sampah dari rumah.

“Selain itu harus dilakukan pembentukan KSM/Bank Sampah,” imbuhnya.

Ia juga menyarankan agar Pemkab Jember mulai membangun komunikasi intensif dengan kementerian terkait maupun wakil rakyat di tingkat pusat guna mendapatkan kucuran bantuan alat pengolahan sampah dari APBN.

“Jika langkah-langkah ini dijalankan secara bertahap, ke depan sampah di Jember tidak lagi menjadi sumber masalah dan polusi, melainkan berubah menjadi peluang yang menggerakkan roda ekonomi masyarakat,” pungkasnya.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dwi Kuntarto Aji
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.