{"id":71008,"date":"2025-07-18T05:08:02","date_gmt":"2025-07-17T22:08:02","guid":{"rendered":"https:\/\/kabarbaik.co\/bertani\/?p=71008"},"modified":"2025-07-18T05:08:02","modified_gmt":"2025-07-17T22:08:02","slug":"petani-muda-bangkit-dari-desa-yess-cetak-67-ribu-wirausahawan-pertanian-di-jawa-barat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kabarbaik.co\/bertani\/2025\/07\/18\/petani-muda-bangkit-dari-desa-yess-cetak-67-ribu-wirausahawan-pertanian-di-jawa-barat\/","title":{"rendered":"Petani Muda Bangkit dari Desa: YESS Cetak 67 Ribu Wirausahawan Pertanian di Jawa Barat"},"content":{"rendered":"<p><strong>Bertani<\/strong> \u2013 Dari ladang kopi di Cianjur hingga peternakan domba di Sukabumi, semangat regenerasi pertanian sedang menyala di Jawa Barat. Melalui Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS), ribuan anak muda kini memilih pertanian bukan sebagai jalan terakhir, tetapi sebagai pilihan masa depan yang menjanjikan.<\/p>\n<p>Hingga pertengahan 2025, Program YESS melalui Provincial Programme Implementation Unit (PPIU) Jawa Barat telah menjangkau 83.587 calon penerima manfaat (CPM) di lima kabupaten\u2014Bogor, Cianjur, Sukabumi, Subang, dan Tasikmalaya. Dari jumlah itu, 67.728 pemuda telah diintervensi langsung dan kini mulai tumbuh menjadi pengusaha muda di sektor agribisnis.<\/p>\n<p>\u201cDari Jawa Barat kita melihat anak-anak muda bangkit menjadi petani milenial yang melek teknologi, mampu menciptakan lapangan kerja, dan menjaga ketahanan pangan nasional. Mereka membuktikan bahwa bertani itu keren, menguntungkan, dan masa depan,\u201d tegas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.<\/p>\n<p>Tak hanya itu, sebanyak 929 pemuda telah menerima hibah individu, dan 23 klaster wirausaha terbentuk dengan omzet kolektif menyentuh lebih dari Rp32 miliar per tahun. Produk-produk unggulan mereka, seperti kopi, rempah, hingga hortikultura organik, bahkan telah menembus pasar ekspor.<br \/>\nDari Keraguan Menjadi Keyakinan<\/p>\n<p>Saat pertama kali hadir, Program YESS menghadapi tantangan besar: mayoritas petani Indonesia berusia di atas 50 tahun, sementara generasi muda enggan berkecimpung di dunia tani. Tapi dengan pendekatan vokasi, pendampingan, dan inkubasi bisnis, kepercayaan itu tumbuh pelan-pelan.<\/p>\n<p>\u201cAwalnya banyak yang ragu. Tapi kami yakin bahwa dengan metode yang tepat, pertanian bisa kembali menarik,\u201d ujar Aminudin, Project Manager YESS PPIU Jawa Barat. Ia menyebut keberhasilan ini sebagai buah dari kerja kolaboratif Polbangtan Bogor yang terlibat penuh dari perencanaan hingga pendampingan lapangan.<\/p>\n<p><strong>Dari Desa ke Dunia<\/strong><\/p>\n<p>Tak hanya mengembangkan usaha lokal, program YESS juga membuka pintu pasar global bagi petani muda. Mereka didampingi untuk menghasilkan produk bernilai tambah, bersertifikasi, dan siap ekspor. Fasilitas inkubasi dan akses permodalan menjadi pilar penting keberhasilan ini.<\/p>\n<p>Total akses pendanaan yang telah dimanfaatkan oleh penerima manfaat YESS di Jawa Barat mencapai lebih dari Rp132 miliar hingga 2025. Dana ini berasal dari berbagai skema, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan dana bergulir, yang membantu usaha pertanian tumbuh dari skala mikro ke skala komersial.<\/p>\n<p>Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyebut YESS sebagai lebih dari sekadar program. \u201cYESS adalah gerakan perubahan. Generasi muda tidak lagi melihat pertanian sebagai pilihan terakhir, tetapi sebagai peluang emas,\u201d ujarnya.<br \/>\nMenjelang Akhir, Menuju Keberlanjutan<\/p>\n<p>Dengan masa program yang akan berakhir pada Desember 2025, PPIU Jawa Barat menegaskan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan hasil yang telah dicapai. Penguatan klaster, pembentukan koperasi petani muda, hingga integrasi ke kebijakan daerah menjadi langkah strategis ke depan.<\/p>\n<p>\u201cDari desa-desa di Jawa Barat, kita sedang menyiapkan generasi emas pertanian yang tidak hanya bisa bertahan, tapi juga memimpin di era teknologi,\u201d pungkas Aminudin penuh optimisme. (^)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bertani \u2013 Dari ladang kopi di Cianjur hingga&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":71010,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[37,168],"tags":[2247,492,2415,2472],"newstopic":[],"class_list":["post-71008","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-headline","category-petani-muda","tag-kementan","tag-petani-milenial","tag-petani-muda","tag-yess"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kabarbaik.co\/bertani\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/71008","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kabarbaik.co\/bertani\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kabarbaik.co\/bertani\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarbaik.co\/bertani\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarbaik.co\/bertani\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=71008"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/kabarbaik.co\/bertani\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/71008\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":71009,"href":"https:\/\/kabarbaik.co\/bertani\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/71008\/revisions\/71009"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarbaik.co\/bertani\/wp-json\/wp\/v2\/media\/71010"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kabarbaik.co\/bertani\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=71008"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarbaik.co\/bertani\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=71008"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarbaik.co\/bertani\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=71008"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarbaik.co\/bertani\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=71008"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}