Cerita Sejarah Dewi Sekardadu, Ibu Sunan Giri yang Makamnya Ramai Diziarahi

oleh -865 Dilihat
Dewi Sekardadu
Makam Dewi Sekardadi di di Desa Kepetingan (Achmad Adi Nurcahya)

KabarBaik.co, Sidoarjo – Perjalanan menuju makam Dewi Sekardadu bukan sekadar ziarah biasa. Di tengah rimbunnya hutan mangrove dan aliran sungai di pesisir Sidoarjo, tersimpan kisah panjang tentang jejak awal penyebaran Islam yang masih dipercaya hingga kini.

Makam Dewi Sekardadu yang berada di kawasan pesisir Kecamatan Buduran menjadi tujuan wisata religi yang ramai dikunjungi, terutama menjelang Ramadan hingga libur Lebaran. Banyak peziarah datang untuk berdoa sekaligus menelusuri jejak sejarah Islam yang berkembang di wilayah pesisir Sidoarjo.

Dalam catatan sejarah dan cerita tutur masyarakat, Dewi Sekardadu dikenal sebagai ibu dari Sunan Giri, salah satu tokoh utama Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di tanah Jawa. Kisah ini menjadikan keberadaan makamnya memiliki nilai historis sekaligus spiritual.

Cerita yang berkembang menyebutkan bahwa Dewi Sekardadu berasal dari wilayah Blambangan. Dalam perjalanan hidupnya, jasad beliau diyakini terbawa arus hingga ditemukan di kawasan pesisir Sidoarjo, yang kini menjadi lokasi makam tersebut.

Sutris, 68, juru kunci makam mengatakan, kisah tersebut telah lama dipercaya secara turun temurun oleh masyarakat.

“Menurut cerita yang kami terima, Dewi Sekardadu adalah ibu Sunan Giri dan ditemukan di kawasan pesisir ini,” ujarnya.

Seiring waktu, makam ini tidak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga simbol jejak awal penyebaran Islam di wilayah pesisir Sidoarjo. Nilai sejarah yang melekat membuatnya terus dikunjungi berbagai kalangan.

Keunikan lainnya terletak pada akses menuju lokasi. Makam berada di Desa Kepetingan yang dikelilingi hutan mangrove, sehingga pengunjung harus menggunakan perahu untuk mencapainya.

Perjalanan menyusuri sungai di antara rimbunnya mangrove menjadi pengalaman tersendiri. Seorang pengemudi perahu menyebutkan, perjalanan ini justru menjadi daya tarik bagi peziarah.

“Peziarah biasanya naik perahu dari dermaga, lalu menyusuri sungai sampai ke makam,” katanya.

Sepanjang perjalanan, pengunjung disuguhi panorama alam pesisir serta aktivitas nelayan, menghadirkan suasana tenang yang berpadu dengan nuansa spiritual.

Bagi sebagian pengunjung, ziarah ini juga menjadi sarana edukasi sejarah bagi keluarga.

“Selain berdoa, kami ingin anak-anak mengenal sejarah tokoh penyebar Islam,” ujar suntono, 54, salah satu peziarah yang ada di lokasi tersebut.

Menyusuri jejak Dewi Sekardadu bukan hanya tentang ziarah, tetapi juga memahami bagaimana Islam berkembang melalui tokoh-tokoh penting di masa lalu.

Keberadaan makam ini menegaskan bahwa Sidoarjo tidak hanya dikenal sebagai kota kuliner, tetapi juga memiliki warisan sejarah religi yang terus hidup di tengah masyarakat. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Achmad Adi Nurcahya
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.