KabarBaik.co, Surabaya – Meningkatnya kasus pertusis atau batuk rejan di sejumlah negara, termasuk Indonesia, kembali menjadi perhatian kalangan medis. Penyakit infeksi saluran pernapasan yang sangat menular ini bukan sekadar batuk biasa, melainkan dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama pada bayi dan anak-anak.
Untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut, vaksinasi menjadi langkah perlindungan yang dinilai paling efektif. Salah satunya melalui vaksin Tdap (Tetanus, reduced Diphtheria, acellular Pertussis) yang berfungsi sebagai vaksin booster guna mempertahankan kekebalan terhadap tetanus, difteri, dan pertusis.
Dokter Spesialis Anak National Hospital Surabaya, dr Achmad Y Heryana SpA menjelaskan vaksin Tdap kini menjadi bagian penting dari konsep perlindungan kesehatan sepanjang hayat atau lifecourse immunization.
“Vaksin Tdap diberikan sebagai booster untuk memberikan perlindungan terhadap tetanus, difteri, dan pertusis. Dengan meningkatnya kasus pertusis secara global, termasuk di Indonesia, upaya pencegahan melalui vaksinasi menjadi semakin penting,” ujar dr Achmad di Nasional Hospital, Selasa (9/6).
dr Achmad menjelaskan perlindungan terhadap pertusis sebenarnya telah dimulai sejak usia bayi melalui imunisasi DTP yang diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan. Imunisasi tersebut kemudian diperkuat melalui booster pada usia 18 bulan dan 5-7 tahun.
Namun, kekebalan terhadap pertusis dapat menurun seiring waktu. Karena itu, saat memasuki usia remaja, diperlukan penguatan kembali melalui vaksin Tdap yang dianjurkan pada rentang usia 10-18 tahun.
Tak hanya remaja, vaksin Tdap juga direkomendasikan bagi orang dewasa. Pemberiannya dilakukan satu kali sebagai booster dan dapat diulang setiap 10 tahun untuk menjaga kadar antibodi tetap optimal.
Meski sama-sama memberikan perlindungan terhadap tetanus, difteri, dan pertusis, vaksin DTaP dan Tdap memiliki perbedaan fungsi. DTaP digunakan pada bayi dan anak-anak karena mengandung antigen dalam jumlah lebih tinggi untuk membentuk kekebalan dasar yang kuat. Sementara Tdap memiliki kandungan antigen yang lebih rendah sehingga lebih sesuai digunakan sebagai booster pada remaja dan orang dewasa.
Salah satu kelompok yang paling dianjurkan menerima vaksin Tdap adalah ibu hamil. Berdasarkan rekomendasi terbaru Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), vaksin ini sebaiknya diberikan pada usia kehamilan 27 hingga 36 minggu pada setiap kehamilan.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi National Hospital, dr Hendera Henderi, SpOG, mengatakan vaksinasi selama kehamilan bertujuan membentuk antibodi pada ibu yang kemudian dapat diteruskan kepada janin melalui plasenta.
“Pemberian Tdap pada ibu hamil sangat penting karena bayi usia kurang dari dua bulan belum dapat menerima vaksin pertusis primer. Padahal kelompok usia ini memiliki risiko komplikasi paling tinggi apabila terinfeksi pertusis,” kata dr Hendera.
Menurutnya, antibodi yang terbentuk setelah ibu menerima vaksin dapat memberikan perlindungan pasif kepada bayi sejak lahir hingga cukup usia untuk menerima imunisasi dasar.
Pendekatan ini menjadi bagian dari strategi pencegahan modern yang tidak hanya berfokus pada bayi, tetapi juga pada kesehatan ibu selama masa kehamilan. Kolaborasi antara dokter anak dan dokter kandungan pun dinilai semakin penting untuk memastikan perlindungan bayi dimulai bahkan sebelum dilahirkan.
Data medis menunjukkan sekitar satu dari tiga bayi berusia di bawah satu tahun yang terinfeksi pertusis memerlukan perawatan di rumah sakit. Dalam kondisi tertentu, penyakit ini dapat menyebabkan pneumonia, gangguan pernapasan hingga kematian.
Karena itu, para dokter mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan pentingnya vaksinasi booster. Vaksin Tdap tidak hanya melindungi individu yang menerima vaksin, tetapi juga membantu menciptakan perlindungan bagi keluarga dan lingkungan sekitar, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi baru lahir.
Dengan perlindungan yang berkelanjutan dari masa kanak-kanak hingga dewasa, vaksin Tdap menjadi salah satu upaya penting untuk mencegah munculnya kembali penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi. (*)








