KabarBaik.co – Tekad Sumarni (53) untuk memastikan putri semata wayangnya tetap bersekolah tak pernah pudar meski hidup serba kekurangan. Warga Dusun Wringinjejer, Desa Gondek, Kecamatan Mojowarno, Jombang itu, harus berjuang sendiri menghidupi keluarga setelah sang suami meninggal tiga tahun lalu.
Sumarni tinggal bersama putri dan ibunya yang sudah lanjut usia di rumah sederhana berdinding bata dan beratap genting. Sebagian lantai rumahnya masih berupa tanah, sementara kusen hingga pintu dibuat seadanya. “Mendiang suami saya yang bangun rumah ini. Setelah beliau pergi, kondisinya ya tetap begini,” ujar Sumarni saat ditemui di rumahnya, Senin (1/12).
Untuk menyambung hidup, Sumarni bekerja sebagai buruh kupas bawang merah. Setiap hari ia mengambil sekitar 20 kilogram bawang dari desa tetangga, lalu mengupasnya di rumah dengan upah Rp 1.800 per kilogram. Upah tersebut baru diterimanya dua minggu sekali. Selain itu, ia juga mengumpulkan bulu ayam untuk dijual sebagai tambahan pemasukan.
“Kalau setiap hari ya kupas bawang terus, upahnya nanti dibayar dua minggu sekali,” katanya. Tidak memiliki kendaraan bermotor, Sumarni kerap mengandalkan sepeda pancal atau berjalan kaki saat mengambil bawang.
Keinginan membeli motor harus ia pendam, karena semua uang yang ada lebih dulu diprioritaskan untuk pendidikan anaknya yang duduk di kelas 7 MTs di Kecamatan Jogoroto. “Kalau ada uang ya untuk keperluan sekolah dulu. Motor masih impian,” ujarnya.
Kesibukan Sumarni dimulai sebelum matahari terbit. Ia memasak, mencuci, dan menyiapkan kebutuhan sang anak sebelum berangkat sekolah. Setelah itu ia mengambil bawang untuk dikupas sambil menjaga ibunya di rumah. Di tengah segala keterbatasan, ia tetap memastikan pendidikan putrinya tidak terganggu. Ia selalu mengingatkan putrinya untuk tekun belajar dan hidup hemat.
“Yang penting anak bisa sekolah terus, biar pintar. Kalau ada uang, ya buat sekolah dulu,” tegasnya. Kisah Sumarni menjadi gambaran perjuangan seorang ibu yang tak menyerah pada keadaan. Ia yakin suatu hari kerja kerasnya akan terbayar lewat keberhasilan anaknya meraih cita-cita. (*)








