Mariano Peralta: Pemain Terbaik, dari Argentina yang Mengubah Cara Bermain

oleh -115 Dilihat
PERALTA ARGENTINA

ADA pemain yang datang ke sebuah liga lalu butuh waktu untuk dikenal. Ada juga yang datang, menyentuh bola beberapa kali, lalu langsung mengubah cara orang melihat permainan. Mariano Peralta termasuk kategori kedua itu.

Di BRI Super League 2025/2026, nama winger asal Argentina ini tidak sekadar muncul di daftar pencetak gol atau pemberi assist. Peralta muncul sebagai sosok yang menggeser ritme, mengubah ekspektasi, dan pada akhirnya berdiri di panggung tertinggi sebagai Pemain Terbaik (best player) musim ini. Bukan karena sensasi sesaat, tetapi karena konsistensi yang menyebar di setiap pekan kompetisi.

Peralta lahir di Adrogué, Buenos Aires, pada 20 Februari 1998. Ia bukan produk akademi elite Eropa yang langsung dipoles menjadi bintang. Jalurnya lebih berliku, lebih “sepak bola Argentina” dalam arti sebenarnya. Dari akademi San Lorenzo, ia naik ke tim profesional, merasakan kerasnya kompetisi domestik, lalu menjalani masa peminjaman di Unión Santa Fe.

Setelah itu, ia sempat bermain di Uruguay bersama Cerro. Tidak ada loncatan dramatis, tidak ada cerita instan. Hanya perjalanan panjang yang perlahan membentuk pemain yang tahu kapan harus cepat, kapan harus tenang, dan kapan harus menyederhanakan permainan.

Ketika Borneo FC Samarinda membawanya pada 2024, tidak banyak yang menaruh ekspektasi berlebihan. Ia hanyalah salah satu dari banyak pemain asing yang datang ke Indonesia dengan harapan menemukan kembali momentum karier. Tapi sepak bola, seperti sering terjadi, punya cara sendiri untuk membalikkan cerita.

Musim 2025/2026 menjadi titik di mana semuanya berubah. Di tengah padatnya jadwal dan ketatnya persaingan papan atas, Peralta tampil sebagai salah satu pemain paling menentukan di liga.

Dia mencatat sekitar 20 gol dan 14 assist dalam 34 pertandingan, sebuah kontribusi yang membuatnya terlibat langsung dalam lebih dari 30 gol Borneo FC sepanjang musim. Angka-angka itu bukan sekadar statistik, tetapi jejak yang selalu muncul di momen-momen penting.

Namun yang membuatnya berbeda bukan hanya jumlah kontribusi, melainkan cara ia melakukannya. Peralta bukan winger yang hanya menjaga garis dan menunggu bola datang. Ia sering masuk ke ruang-ruang sempit di antara lini, menerima bola dalam tekanan, lalu mengubah situasi yang tampak buntu menjadi peluang.

Ada momen ketika ia tampak seperti tidak punya ruang, namun dalam satu atau dua sentuhan, permainan berubah arah. Dari situ lahir gol, assist, atau sekadar chaos yang membuka struktur pertahanan lawan.

Dari momen-momen seperti itulah julukan “pemain editan” lahir di kalangan suporter Borneo FC. Bukan karena berlebihan, tetapi karena ada kesan bahwa apa yang ia lakukan sering kali terasa “terlalu rapi untuk jadi kebetulan”. Dribel dalam ruang sempit, kombinasi cepat satu-dua sentuhan, hingga penyelesaian akhir dari sudut sulit menjadi bagian dari paket yang terus berulang sepanjang musim.

Tetapi Peralta tidak hidup dari highlight semata. Ada sisi lain yang lebih sunyi, yang justru membuatnya menjadi pemain yang utuh. Ia aktif dalam pressing, rajin turun membantu build-up, dan tidak segan mengorbankan posisi menyerang demi menjaga struktur tim. Dalam sistem Borneo FC yang mengandalkan intensitas dan transisi cepat, ia bukan hanya kreator, tetapi juga bagian dari mekanisme kerja kolektif yang berjalan tanpa banyak sorotan.

Di banyak pertandingan, ia tidak selalu menjadi pencetak gol. Namun hampir selalu ada jejaknya—umpan terakhir, pergerakan yang membuka ruang, atau pressing yang memaksa lawan kehilangan bola. Konsistensi semacam ini yang membuatnya tidak hanya produktif, tetapi juga relevan di setiap fase pertandingan.

Ketika musim mencapai titik akhirnya, penghargaan individu pun jatuh ke tangannya. Ia dinobatkan sebagai Pemain Terbaik BRI Super League 2025/2026, mengungguli sejumlah nama besar lain yang juga tampil impresif sepanjang musim. Di tengah daftar kandidat seperti David da Silva, Federico Barba, Allano, dan Juan Villa, Peralta berdiri di posisi paling atas bukan karena satu momen puncak, tetapi karena musim yang hampir tidak pernah benar-benar turun dari level tinggi.

Di sisi lain, Borneo FC juga menjalani musim yang kompetitif hingga akhir, bersaing di papan atas dalam perebutan gelar yang ditentukan sampai pekan-pekan terakhir. Dalam tekanan itu, Peralta menjadi salah satu alasan utama tim tetap berada di jalur persaingan. Ia bukan sekadar pemain yang mempercantik permainan, tetapi pemain yang mengangkat tim saat situasi menuntut lebih.

Kini, setelah musim berakhir, Peralta tidak lagi hanya dilihat sebagai pemain asing yang sukses di Indonesia. Ia sudah menjadi bagian dari cerita besar satu musim kompetisi—sebuah musim di mana satu winger dari Argentina tidak hanya mencetak gol dan assist, tetapi juga mengubah cara sebuah tim percaya pada serangan mereka sendiri.

Dan seperti semua cerita yang sedang berada di puncak, bab berikutnya belum ditulis. Yang tersisa hanyalah pertanyaan yang menggantung di udara. Apakah ia akan tetap melanjutkan kisah ini di Samarinda, atau membawa “sentuhan editan”-nya ke panggung yang lebih besar lagi? Yang pasti, nilai kontraknya bisa jadi bakal melambung lagi. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.