Ramuan Abadi Puncak Giri Kedaton, Fermentasi Mengkudu dan Kesembuhan di Antara Langkah Ziarah

oleh -208 Dilihat
34aaf39c 300d 4511 aa71 0920b6ff91ed
Hasan menunjukkan proses frementasi buah mengkudu menjadi jamu (Muhammad Wildan Zaky)

KabarBaik.co – Di sebuah puncak sunyi yang menyisakan jejak-jejak langkah para wali, sebuah musala kecil berdiri seperti titik jeda di antara hiruk dan lirih dunia. Di dalamnya, bukan hanya doa yang berdiam, melainkan juga sebotol harapan yang berwarna keruh kekuning-kuningan, bernama jamu mengkudu.

Barisan toples plastik dari galon air bekas berisi buah mengkudu tua tampak berjejer lurus. Beberapa terlihat berembun di bagian dalam, sebagian lain mengendapkan air bening kekuningan yang lahir dari kesabaran. Jika cukup jeli, toples-toples itu tidak sekadar menyimpan fermentasi buah, tapi menyimpan semacam kenangan yang bersalin wujud menjadi cairan penyembuhan.

Hasan, lelaki sepuh berkulit kuning langsat dengan sorot mata teduh seperti langit sore, menyambut para peziarah yang datang bukan untuk sekadar berdoa, melainkan juga membeli jamu. Ia tak menjajakan barang, melainkan semacam keyakinan, bahwa sesuatu yang jatuh tak selalu berakhir sebagai sampah.

“Ini semua dari buah mengkudu yang jatuh sendiri dari pohon yang dimasukkan untuk frementasi,” ujar Hasan, sambil menepuk-nepuk ringan salah satu toples, Sabtu (18/10).

Tangannya Hasan tampak luwes seperti sudah mengenal aroma fermentasi lebih lama dari mengenal usia.

Prosesnya sederhana namun purba, buah-buah yang jatuh dipungut, dicuci, lalu dimasukkan ke dalam toples. Tak perlu air, sebab buah itu akan menangis sendiri. Dalam beberapa minggu, cairan dari tubuh mengkudu akan memenuhi wadah, dan di situlah ia menjadi jamu.

“Kalau tidak ada riwayat asam lambung, bisa diminum sebelum makan, satu sloki saja. Kalau takut baunya, bisa pakai madu. Tapi kalau punya asam lambung, jangan coba-coba,” terang Hasan sambil tertawa kecil.

Fermentasi ini bukan hasil riset laboratorium atau produk UMKM dengan sertifikat BPOM. Ini adalah tradisi cair yang diwariskan dari satu nama ke nama lainnya dari Bakhrul asal Malang, lalu Gilang, kemudian Ismail, berlanjut sebentar kepada Pak Hasan setelah pandemi COVID-19 dan kini berpindah ke Edi. Jamu ini tidak punya label, tidak punya nama dagang, apalagi barcode. Namun ia punya silsilah, dan mungkin, iman.

Meski tanpa promosi, orang-orang berdatangan. Dari Gresik, dari luar kota, bahkan Jakarta. Beberapa datang karena kabar burung, sebagian lain karena harapan yang tak muat lagi ditampung obat pabrikan. Saat pandemi COVID-19, jalur menuju Giri Kedaton tak pernah sepi oleh mereka yang percaya bahwa kesehatan bisa lahir dari buah yang kebetulan jatuh dari pohon.

“Saya pernah tahu ada yang punya diabet basah. Alhamdulillah, setelah rutin minum ini, kering. Kalau enggak terbukti, masa mereka rela naik ke atas sini hanya untuk beli ini berkali-kali?,” tanya Hasan

Setiap botol dijual seharga Rp 50 ribu untuk ukuran besar, dan Rp 25 ribu untuk yang sedang. Hasil penjualannya bukan untuk Pak Hasan pribadi, melainkan untuk keperluan musala. Jamu itu bukan mata pencaharian, melainkan bentuk sedekah cair yang bisa diteguk.

Namun, di balik itu semua, tetap ada ironi kecil. Jamu ini belum punya merek, belum pula tersentuh izin. Hasan mengakui bukan karena tak mau, tapi karena malas berurusan dengan keruwetan birokrasi.

“Kalau ada yang bantu, ya saya terbuka saja,” ujarnya.

Giri Kedaton adalah bukit sejarah. Konon, dari sinilah Sunan Giri menyusun strategi dakwah dan pendidikan. Kini, di puncaknya, tersisa pohon-pohon mengkudu yang terus menjatuhkan buahnya seperti tetesan waktu yang sabar. Dan dari buah jatuh itu, lahirlah ramuan yang tak pernah ditawarkan di apotek manapun.

Jamu itu bukan hanya tentang penyembuhan, tapi tentang bagaimana manusia memaknai keberlimpahan di sekitarnya. Tentang pohon yang memberi, bumi yang memeluk, dan manusia yang mau menampung apa yang dianggap tak berguna.

Di tempat itu, segala sesuatu yang jatuh tidak dibuang, melainkan disambut. Karena barangkali, sebagian dari kita juga tengah menanti untuk jatuh ke tempat yang tepat, seperti mengkudu yang jatuh ke toples, lalu menjadi harapan dalam bentuk cair. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Muhammad Wildan Zaky
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.