Topeng Tak Boleh Dipakai Sembarangan: Misteri Rangda yang Menolak Diturunkan

oleh -136 Dilihat
IMG 20250730 WA0014 1

KabarBaik.co – Bagi warga tua di Banjar Bebandem, Karangasem, satu larangan diwariskan turun-temurun: jangan menurunkan topeng Rangda sebelum Galungan. Bahkan jika debu menebal, atau altar penyimpanannya mulai rusak, tidak ada yang berani menyentuhnya. Bukan karena adat semata. Tapi karena ia pernah marah.

Kisah ini melegenda sejak akhir tahun 1980-an, saat seorang pemuda sebut saja Nyoman Pasek  berniat membersihkan pura keluarganya dari sarang laba-laba. Ia membuka pintu lumbung tempat penyimpanan topeng-topeng sakral, termasuk Topeng Rangda berambut panjang, bermata melotot, bertaring runcing.

Menurut kakaknya, sejak sore itu, Pasek tak lagi bicara. Tubuhnya menggigil. Matanya memerah seperti kelilipan pasir panas. Ia tak makan tiga hari, hanya sesekali tertawa cekikikan atau menggonggong seperti anjing.

Warga sepakat memanggil Balian, dan dalam ritual malam hari yang panjang, terungkap satu kalimat: Aku belum waktunya turun.

Siapa Rangda?

Dalam kepercayaan Bali, Rangda adalah perwujudan energi Butha Kala penguasa kekacauan dan kegelapan. Ia adalah widya durga atau penyihir agung, sering disandingkan dengan tokoh Calon Arang dari masa kerajaan. Namun di Bali, Rangda bukan semata simbol jahat. Ia adalah pengimbang Barong. Tanpa Rangda, dunia akan timpang: hanya terang tanpa bayangan.

Topeng Rangda tidak dibuat sembarangan. Menurut I Made Sedana, seorang seniman topeng dari Singapadu, proses pembuatan satu topeng Rangda bisa memakan waktu tiga bulan, dengan upacara di tiap tahap: mulai dari penebangan kayu hingga penanaman rambut. Rambutnya pun bukan sintetis—konon harus dari manusia yang telah siap secara rohani.

Kisah Topeng yang Menangis Sendiri

Tahun 2006, di Desa Bangli, sebuah sanggar tari mencoba menampilkan Tari Rangda untuk kebutuhan lomba pariwisata. Topeng disewa dari rumah adat di desa sebelah. Tapi satu malam sebelum lomba, seluruh alat gamelan terdengar berbunyi sendiri padahal tak ada orang di sanggar. Salah satu penabuh, Kadek Marta, mengaku melihat bayangan perempuan berambut panjang duduk di bale gamelan, tertawa tanpa suara.

Besok paginya, topeng Rangda tersebut tampak basah, seperti habis menangis. Padahal, sanggar itu terkunci rapat sejak malam.

Warga sepakat mengembalikan topeng itu. Tarian dibatalkan. Sejak saat itu, tak ada lagi yang berani menyewa topeng Rangda dari desa tersebut.

Jangan Menatap Terlalu Lama

Dalam upacara ngelebar atau saat pementasan sakral Calonarang, topeng Rangda hanya boleh dilihat dengan hati bersih. Warga lokal percaya, orang dengan niat buruk apalagi sombong atau menantang bisa kesurupan jika menatap mata Rangda terlalu lama.

Pernah ada turis mancanegara yang mencoba mencium topeng Rangda sebagai pengalaman spiritual. Malam harinya, ia pingsan dan menggigiti jari-jarinya sendiri hingga berdarah. Menurut pemandunya, sang turis mengigau dalam bahasa Bali kasar yang tak ia pahami.

Bukan Hantu, Tapi Bukan Manusia Juga

Rangda bukanlah hantu dalam pengertian populer. Ia tidak gentayangan mencari mangsa. Tapi ia hadir dalam dimensi tak kasatmata yang penuh aturan. Salah memperlakukan topeng atau tariannya, dan konsekuensinya bukan sekadar kesialan bisa merenggut kewarasan.

Karena itu, ketika malam mulai pekat di desa-desa Bali, dan angin membawa suara aneh dari hutan atau Pura Dalem, para tetua hanya berkata satu hal: Mungkin ia sedang lewat. Diam sajalah, dan jangan menatap ke arah suara.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Lilis Dewi


No More Posts Available.

No more pages to load.