KabarBaik.co – Aksi solidaritas untuk Affan Kurniawan di depan Mapolresta Malang Kota pada Jumat (29/8) malam berlangsung ricuh. Bahkan, aksi tersebut terus berlanjut hingga Sabtu (30/8) dini hari.
Massa mulai berdatangan sejak pukul 18.36 WIB. Awalnya mereka membakar water barrier serta merusak dan membakar baliho bergambar Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Nanang Haryono dan Wakapolresta AKBP Oskar Syamsuddin.
Kericuhan memuncak sekitar pukul 21.46 WIB, saat massa kembali membakar barrier tambahan serta melempari batu dan petasan ke arah gedung Polresta. Belasan personel TNI yang berjaga di pintu masuk Polresta tak mampu meredam situasi.
Sekitar pukul 22.00 WIB, pasukan Brimob tiba di lokasi. Satu jam berselang, aparat menembakkan gas air mata untuk memukul mundur massa. Aksi saling lempar batu dan bentrok pun tak terhindarkan setelah sebagian massa terpancing provokasi.

Hingga pukul 00.00 WIB, massa masih bertahan di sekitar kawasan Polresta Malang Kota, bahkan meluas hingga kawasan PLN Kayutangan. Awak media yang meliput mulai mundur dari area kerusuhan, sebagian terjebak di pertokoan dan ada yang menyelamatkan diri ke dalam area Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang.
Sebelumnya, Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Nanang Haryono bersama Pangdivif 2 Kostrad Mayjen TNI Susilo sempat menemui massa sebelum kericuhan kembali pecah. Dalam kesempatan itu, Nanang menyampaikan permintaan maaf dan menegaskan bahwa anggota Brimob yang diduga terlibat dalam insiden tewasnya Affan Kurniawan sudah ditahan serta menjalani pemeriksaan.
“Kami memohon maaf dengan serendah-rendahnya hati atas kejadian yang menimpa saudara kita almarhum Affan Kurniawan. Oknum pelaku saat ini sudah ditahan dan dalam proses pemeriksaan. Semoga almarhum diberikan tempat terbaik oleh Allah SWT,” kata Nanang.
Sementara itu, akibat petasan yang beterbangan membuat sejumlah penjaga pasien panik. Irawan, warga asal Pasuruan yang tengah menjaga anaknya di rumah sakit, mengaku kaget dengan situasi tersebut. “Saya mendengar suara ledakan dari dalam kamar lalu turun melihat. Anak saya yang berusia 7 tahun sedang sakit hidung rapuh sempat kaget,” ungkapnya. (*)