KabarBaik co- Ketupat, hidangan ikonik yang selalu hadir di momen Lebaran, tak hanya lezat disantap, tetapi juga menyimpan makna dan tradisi yang mendalam.
Asal Usul Tradisi Ketupat
Asal usul ketupat terikat erat dengan sejarah dan budaya Jawa. Konon, tradisi ketupat diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga pada masa penyebaran agama Islam di tanah Jawa.
Bentuk ketupat yang terinspirasi dari dua butir janur yang dianyam melambangkan dua kalimat syahadat, pondasi utama agama Islam. Kata “ketupat” pun diyakini berasal dari bahasa Jawa “ngaku lepat”, yang bermakna “mengakui kesalahan”.
Tradisi ketupat di momen Lebaran menjadi simbol permohonan maaf dan silaturahmi, di mana umat Islam saling memaafkan dan menjalin hubungan yang lebih erat setelah sebulan penuh berpuasa.
Filosofi di Balik Ketupat
Ketupat tak hanya sarat makna, tetapi juga mengandung filosofi yang mendalam. Bentuk ketupat yang bersisi delapan melambangkan delapan arah mata angin, yang mengingatkan kita untuk selalu menyebarkan kebaikan ke segala penjuru.
Proses pembuatannya pun sarat makna. Anyaman janur yang rumit dan kokoh melambangkan kesabaran dan ketekunan dalam menjalani kehidupan.
Butir beras yang terbungkus rapi di dalam janur melambangkan hati yang bersih dan suci setelah sebulan penuh berpuasa.
Saat ketupat dipotong, dan isinya terurai, hal ini melambangkan terbukanya hati untuk saling memaafkan dan menerima.
Ketupat: Lebih dari Sekadar Hidangan
Ketupat bukan hanya hidangan lezat yang dinikmati bersama keluarga dan kerabat, tetapi juga simbol tradisi dan budaya yang sarat makna.
Di balik kelezatannya, ketupat mengingatkan kita tentang nilai-nilai penting seperti kesabaran, ketekunan, kesucian hati, dan semangat untuk saling memaafkan.
Tradisi ketupat di momen Lebaran menjadi pengingat untuk selalu menjaga tali silaturahmi dan menyebarkan kebaikan kepada sesama.
Semoga tradisi ketupat terus lestari dan menjadi bagian dari budaya Indonesia yang kaya dan penuh makna.








