KabarBaik.co, Roma– Sepak bola Italia resmi memasuki fase Apocalisse alias “kiamat”. Kekalahan dramatis lewat adu penalti dari Bosnia dan Herzegovina di babak playoff bukan sebatas kegagalan biasa, melainkan vonis mutlak yang memastikan Timnas Italia absen di tiga edisi Piala Dunia secara beruntun (2018, 2022, 2026).
Tragedi itupun memicu gempa bumi hebat yang langsung meruntuhkan struktur kekuasaan di tubuh sepak bola Negeri Pizza.
Publik dan media olahraga Italia sepakat bahwa situasi saat ini adalah titik nadir paling memalukan dalam sejarah emas Gli Azzurri.
Tidak ada ruang untuk alasan. Hanya beberapa saat setelah peluit panjang di Sarajevo dibunyikan, Gennaro Gattuso langsung mengambil langkah kesatria. Pria yang baru sembilan bulan menukangi timnas menggantikan Luciano Spalletti itu resmi meletakkan jabatannya pada awal April 2026.
Meski taktiknya di lapangan menuai badai kritik, sikap Gattuso di luar lapangan justru memanen penghormatan. Di tengah kemarahan nasional, media lokal membongkar fakta bahwa Gattuso secara sukarela merobek sisa kontraknya dan menolak pesangon senilai €200.000 (sekitar Rp 3,4 miliar).
Kabaranya, dia menyerahkan haknya itu agar seluruh staf dan asisten pelatihnya bisa langsung menerima kompensasi penuh tanpa harus terjebak birokrasi berbelit. Sebuah pengorbanan finansial berkelas yang mengingatkan publik pada kepergiannya dari AC Milan pada 2019.
Kemarahan publik Italia tidak berhenti di ruang ganti pemain. Badai kritik justru menghantam keras para petinggi Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). Kegagalan mencetak hattrick absen di Piala Dunia menyadarkan bahwa mengganti pelatih tidak akan mengobati penyakit kronis di sistem pembinaan dan kompetisi domestik.
Desakan reformasi total menggema. Tekanan politik dan publik yang begitu masif akhirnya memaksa Presiden FIGC, Gabriele Gravina, dan Kepala Delegasi Timnas, Gianluigi Buffon, ikut mundur dari jabatan mereka. Italia kini benar-benar berada di fase Anno Zero (Tahun Nol), sebuah keharusan untuk meratakan semuanya dengan tanah dan mulai membangun fondasi dari awal.
Dengan kosongnya kursi pelatih kepala, bursa calon allenatore baru langsung mendidih. Antonio Conte, yang kini masih terikat di Napoli, mendominasi tajuk utama sebagai kandidat terkuat. Publik merindukan grinta (kegigihan) dan ketegasan militan ala Conte untuk merombak mentalitas skuad yang hancur lebur.
Di bawah Conte, nama Massimiliano Allegri yang tengah membawa AC Milan melaju jauh di Liga Champions juga terus digoda media berkat pendekatan pragmatisnya. Di sisi lain, Roberto Mancini, sosok yang memberikan trofi Euro 2020, tetap masuk dalam bursa sebagai opsi wajah lama yang paham seluk-beluk timnas.
Revolusi Maldini vs Stabilitas Malagò
Namun, siapa pun pelatihnya nanti akan sangat bergantung pada hasil pemilihan Presiden FIGC yang dijadwalkan pada 22 Juni 2026. Pertarungan politik olahraga ini mengerucut pada dua poros utama. Pertama, Poros Teknis (Paolo Maldini). Legenda AC Milan ini mendapat dorongan kuat, termasuk dari Menteri Olahraga Andrea Abodi, untuk mengambil alih komando. Publik memimpikan karisma dan integritas Maldini untuk memimpin revolusi sepak bola Italia dari akar rumput.
Kedua, Poros Birokrasi (Giovanni Malagò) Mantan Presiden Komite Olimpiade Italia (CONI) ini menawarkan stabilitas institusi dan kepiawaian lobi politik. Jika Malagò menang, media memprediksi Roberto Mancini akan menjadi favorit utama untuk kembali melatih timnas berkat kedekatan historis mereka.
Satu hal yang pasti, sepak bola Italia sedang berdarah. Hari-hari ke depan hingga musim panas 2026 akan menjadi masa transisi paling brutal sekaligus paling menentukan. Apakah Anno Zero ini akan melahirkan kebangkitan epik, atau justru menenggelamkan Gli Azzurri lebih dalam di dasar sejarah? Dunia sedang menunggu jawabannya. (*)







