OLEH: M. SHOLAHUDDIN*)
BEJO Sugiantoro. Jasadnya memang telah terkubur. Ia meninggal Selasa sore (25/2) tadi. Saat bermain bola di lapangan PT SIER Surabaya. Usianya sejatinya masih belum tua, 48 tahun. Belum genap 50 tahun. Nama Bejo rasanya akan selalu terkenang. Terutama bagi Bonek, julukan suporter Persebaya maupun masyarakat bola Jatim dan Tanah Air.
Saya termasuk satu di antara puluhan ribu, bahkan jutaan penggemar, yang mengetahui masa keemasannya. Keemasan Persebaya. Saat Green Force nyaris tanpa lawan tanding sebanding. Kemenangannya mantap betul. Tebal-tebal. Bejo dan kawan-kawan. Era 1990-an. Ada Carlos de Melo, Eri Irianto, Yusuf Ekodono, Khairil Pace Anwar, Jacksen F Tiago, Anang Makruf, Aji Santoso, dan lainnya.
Stadion Tambaksari menjadi saksi hidup. Betapa keperkasaan Bajul Ijo. Di era itu, saya pun kerap melipir ke Tambaksari. Ingat saya, tiket ekonomi masih Rp 5.000. Tapi zaman itu sudah besar. Harga bensin cuma Rp 500 per liter.
Saya selalu menyisihkan uang kiriman dari orang tua setiap bulan. Dari jatah Rp 80 ribu sampai Rp 100 ribu per bulan, Rp 25 ribu untuk bayar kos, Rp 20.000 untuk nonton Persebaya. Sisanya, untuk makan dan sebagainya. Cukup nggak cukup segitu. Dulu, saat mahasiswa di Unair. Kalau tidak cukup, nebeng ditraktir makan teman. Ijabnya gantian saat dapat kiriman. Atau, cari-cari alasan saat ditagih uang kos oleh Ibu Kos. Pasang wajah melas.
Jika terpaksa pulang ke kampung untuk minta uang ortu lagi, alasannya tentu bukan untuk menonton Persebaya. Tapi, buat beli buku dan macam-macam. Maaf… saya sudah mengaku bersalah ke ibu.
Kalau laga home, sering langsung ke tribun. Jika away, saya memang tidak pernah menonton. Khwatir kuliah molor. Cukup mendengarkan radio. Nguping. Yang salah seorang penyiarnya adalah Mas Ambari Taufik, yang kini jadi teman tapi sudah rasa seperti saudara. Saya pun sering “ketipu” dengan narasinya yang seperti ini: “Ahaaaiii, hampir saja gol saudara-saudara, bola melambung tipis di atas mistar gawang… “.
Padahal, bola bisa jadi melambung jauh. Wong kita tidak tahu. Tapi, begitu asyiknya mendengarkan siaran sepak bola dari radio saat itu. Seolah-olah dekat. Terkadang juga kerap mengumpat-umpat, kalau tidak jadi gol.
Bejo lahir di Surabaya, Jawa Timur, 2 April 1977. Bejo debut di sepak bola melalui Indonesia Muda, klub internal Persebaya. Pada 1994, saat usianya baru 17 tahun, Bejo sudah mendapatkan kontrak di tim senior Persebaya. Bejo tidak hanya menjadi pemain. Namun, juga salah seorang arsitek keberhasilan Persebaya.
Prestasi tertinggi diraihnya saat Persebaya meraih gelar juara Liga Indonesia pada musim 1996-1997 dan 2004.N ah, saat 1996-1997 itulah saya begitu menggilai Persebaya. Saat mahasiswa. Saat keemasan. Sampai kini pun sebetulnya tetap seneng. Tapi, tidak “segila” dulu karena latar dan suasananya.
Asal tahu, di musim itu Persebaya menjadi tim paling subur. Mencetak sebanyak 82 gol sepanjang musim itu. Rinciannya 62 gol di fase grup, 14 gol di babak 12 besar, tiga gol di semifinal, dan tiga gol di final. Persebaya selalu memuncaki klasemen. Sejak fase grup hingga babak 12 besar. Jacksen F Tiago sebagai pencetak gol terbanyak, 26 gol. Persebaya selalu menang saat bermain di Stadion Gelora 10 November Tambaksari. Sepanjang Liga Indonesia 1996-1997. Skor 6-1 melawan Arema menjadi rekor kemenangan terbesar sepanjang sejarah Persebaya atas rivalnya.
Nah, dalam momen tersebut, Bejo menjadi pilar kokoh di lini belakang Persebaya. Kokoh seperti tembok. Begitu sulit lawan melewatinya. Bahkan, lawan seolah sudah keder melihatnya. Bolanya boleh saja lewat, tapi tidak dengan orangnya. Karena itu, wajar Bejo pun menjadi pilihan dalam line up skuad timnas Merah Putih. Mulai tahun 1997 hingga 2004.
Prestasi terbaik timnas di masa itu adalah meraih medali Perak di SEA Games 1997 dan perunggu di SEA Games 1999. Dan, pada 2014, ia mengakhiri karier bermainnya di sepak bola. Bejo mulai menjadi asisten pelatih Persebaya.
Bejo termasuk di antara sedikit bintang sepak bola yang jauh dari glamour. Dunia gemerlap. Ia sederhana. Khas warga kampung. Belakangan saya tahu, ia adalah jemaah aktif Pengajian PP Bumi Sholawat yang diasuh KH Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali). Beberapa kali saya bertemu di forum pengajian itu. Di kalangan jemaah, ia biasa dipanggil Wak Kaji Bejo. Ia memang sudah berangkat haji.
Nama Bejo berasal dari bahasa Jawa. Secara harfiah berarti “beruntung” atau “mendapat keberuntungan”. Dalam tradisi penamaan Jawa, nama-nama seperti ini sering dipilih orang tua. Harapannya tentu si anak kelak hidup penuh berkah, kesuksesan, dan terhindar dari malapetaka. Nama “Bejo” juga mencerminkan nilai filosofis Jawa yang sederhana. Namun bermakna dalam, yakni kepercayaan bahwa nama bisa membawa pengaruh baik bagi kehidupan seseorang.
Kata “bejo” dalam budaya Jawa kerap dikaitkan dengan nasib baik, rezeki, atau kemujuran. Contohnya, frasa “sing bejo yo sing eling” (yang beruntung adalah yang selalu ingat Tuhan) menggambarkan konsep keberuntungan yang sejalan dengan kesadaran spiritual. Wajar nama “Bejo” cukup umum ditemukan di kalangan masyarakat Jawa, terutama generasi tua. Biasanya disematkan sebagai nama depan atau tengah, seperti Bejo Sutrisno, Bejo Pranoto, dan lainnya.
Meski namanya berarti “beruntung”, kesuksesan Bejo Sugiantoro di dunia sepak bola lebih didukung oleh kerja keras, konsistensi, dedikasi, dan bakatnya. Namun, tetap saja bagi sebagian suporter kala itu, nama “Bejo” seolah menjadi kabar baik. Pertanda bahwa ia adalah sosok yang membawa “keberuntungan” bagi setiap laga Persebaya.
Dalam budaya populer Jawa, nama “Bejo” kadang pula digunakan dalam peribahasa satire atau paradoks untuk menggambarkan ironi. Misalnya: “Jenenge Bejo, ning uripe sengsoro (Namanya Bejo/beruntung, tapi hidupnya sengsara)”. Tentu, hal ini tentu tidak berlaku bagi sang legenda Persebaya Bejo Sugiantoro.
Bejo dikenang bukan karena keberuntungan. Bejo menjadi salah seorang simbol kebanggaan bagi Persebaya. Bahwa hidup bukan sekadar uang atau gaji besar. Kecintaan terhadap klub asal dan kampung, juga tak bernilai. Konsistensi, dedikasi, kemampuannya, kesederhanaannya. Sosok yang terbilang langka di masa kini. Semoga menginspirasi
Selamat jalan Wak Kaji. Kini, kau telah “berkumpul” dengan almarhum Eri Irianto. Yang namanya menjadi inspirasi nama Rahmat Irianto, putramu yang juga mewarisi bakatmu di sepak bola. Berbisiklah pada Nya: Semoga Persebaya tetap menjadi kebanggaan dengan penuh kedamaian. Lahul Fatihah (*)
—
*) M. SHOLAHUDDIN. penulis tinggal di Gresik







