Cerita Warga Jember Jadi Korban Malpraktik RS Singapura, Menteri P2MI Beri Bantuan

oleh -46 Dilihat
IMG 20241220 WA0021
Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Abdul Kadir Karding, saat melihat kondisi pekerja migran di Jember (Ist).

KabarBaik.co – Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Abdul Kadir Karding mengunjungi pekerja migran asal Jember, Septia Kurnia Rini. Kunjungan itu bertujuan memberikan perhatian khusus kepada pekerja migran yang mengalami kendala akibat keberangkatan tidak secara prosedural.

Septia merupakan pekerja migran Jember yang tinggal di Perumahan Taman Gading, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates.

“Saya sengaja menengok Mbak Septia karena Kementerian P2MI bertanggung jawab terhadap semua proses, mulai dari sebelum keberangkatan hingga kepulangan. Namun, beliau ini berangkat tidak prosedural, sehingga tanggung jawab agensi atau majikan hampir tidak ada,” ujar Abdul, Jumat (20/12).

Ia menjelaskan, memang risiko keberangkatan tidak prosedural bisa kehilangan beberapa hak perlindungan, salah satunya asuransi kerja.

“Kalau berangkat lewat prosedur yang benar, insyaallah masalah seperti ini bisa kita atasi. Tapi kalau tidak prosedural, kita tidak punya data atau informasi yang memadai untuk membantu,” katanya.

Dari kasus yang dialami Septia, ia mengingatkan kepada masyarakat agar tidak sembrono memilih agen. Apalagi tergiur dengan janji-janji manis dari pihak yang tidak bertanggung jawab itu.

“Ini tentunya pelajaran bagi masyarakat yang ingin jadi PMI. Harus teliti, ketahui betul prosedurnya. Jangan sampai tergoda iming-iming online atau janji gaji tinggi yang justru membahayakan nyawa sendiri,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, pemerintah akan memperketat regulasi dan memperbanyak sosialisasi di desa-desa serta media sosial.

“Kita harus menegakkan hukum bagi pelaku sindikasi atau individu yang melakukan penyelundupan pekerja migran,” jelasnya.

Menyinggung kondisi kesehatan Septia Kurnia Rini yang diduga menjadi korban malpraktik di Singapura, Abdul Kadir berkomitmen memberikan pendampingan melalui pemerintah daerah.

“Meski secara legal kami sulit membantu karena keberangkatannya tidak prosedural, kami tetap akan mendukung atas dasar kemanusiaan,” ucapnya.

Sementara itu, Septia mengaku berangkat ke Singapura pada 2021 lalu untuk bekerja menjadi baby sitter atas inisiatif sendiri.

“Suami saya bekerja di Jember sebagai wiraswasta, sedangkan anak pertama baru masuk SMA, dan yang kedua masih SD,” ujarnya.

Awalnya, kata Septia, penyakit yang ia derita hanya bisul saja di bagian selangkangannya.

“Dari itu saya memutuskan pergi ke klinik, dan klinik juga bilang kalau ini bisul. Tapi gak ada matanya, hanya merah saja,” katanya.

Setelah itu, pihak klinik merekomendasikan jika bisul di tubuhnya mengeluarkan darah, maka harus dibawa ke rumah sakit.

Beberapa hari berselang, ia akhirnya pergi ke Sengkang Hospital Singapore untuk memeriksa penyakitnya.

“Dokter Sengkang bilang itu bisul dan harus operasi. Akhirnya saya operasi. Habis operasi saya koma selama 9 hari. Setelah bangun dari koma, tangan dan kaki sudah hitam,” bebernya.

Selama perawatan di Sengkang, Septa mengaku tangan dan kakinya seperti diikat, sehingga seakan-akan seperti orang lumpuh.

“Saya kurang tahu kenapa diikat. Setelah 13 hari di RS, entah kenapa pihak employee minta saya pulang,” ujarnya.

Sekeluarnya dari rumah sakit itu ia langsung dipulangkan ke Batam dan melanjutkan perawatan di sana.

“Satu minggu lebih di sana, akhirnya saya minta pulang ke Jember, dijembatani Kedutaan Bedar Republik Indonesia (KBRI),” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dwi Kuntarto Aji
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.