Dahsyatnya Samalas dan Pelestarian Rekam Jejaknya Dalam Ingatan Dunia

oleh -75 Dilihat
1000809207
Sejumlah pelajar mengamati maket Gunung Samalas-Rinjani di ruang pameran Museum NTB, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (ANTARA/Sugiharto Purnama)

KabarBaik.co – Letusan besar sering kali dicatat sebagai bencana. Namun bagi Nusa Tenggara Barat (NTB), letusan Gunung Samalas pada abad ke 13 justru menjadi penanda bahwa wilayah ini pernah berada di pusat pusaran sejarah dunia.

Abu dan sulfur yang terlempar dari Samalas pada 1257 masehi tidak hanya menimbun kampung di kaki gunung, tetapi juga melintasi benua, memengaruhi iklim global, memicu gagal panen, kelaparan, dan perubahan sosial di Eropa serta Asia.

Jejak itu kini perlahan kembali muncul dari lapisan lahar dingin, dari cerita tutur masyarakat, dari artefak yang tersimpan di rumah warga, dan dari kesadaran baru pemerintah daerah bahwa NTB menyimpan narasi peradaban dunia yang belum sepenuhnya dituturkan.

Gagasan pembangunan 50 museum baru yang dilontarkan Pemprov NTB tidak bisa dilepaskan dari konteks tersebut. Ia bukan sekadar rencana memperbanyak gedung, tetapi sebuah upaya menata ulang cara memandang sejarah, kebudayaan, dan identitas daerah.

Pertanyaannya, sejauh mana letusan Samalas dan warisan sejarahnya dapat menjadi fondasi kuat bagi pembangunan museum, sekaligus menjadi instrumen pelayanan publik yang mendidik, memberdayakan, dan mencerahkan.

Cerita dunia

Gunung Samalas bukan hanya bagian dari lanskap Gunung Rinjani. Ia adalah simpul penting dalam sejarah iklim dunia. Penelitian internasional yang kemudian dirujuk berbagai media ilmiah menyebutkan letusan Samalas sebagai salah satu erupsi terbesar dalam dua milenium terakhir.

Dampaknya tercatat dalam anomali cuaca ekstrem di Eropa pada 1258 masehi, yang dikenal sebagai tahun tanpa musim panas. Di Lombok sendiri, letusan itu memusnahkan Kerajaan Pamatan di kawasan Tanak Beaq, Lombok Tengah, dan memaksa eksodus besar-besaran penduduk ke berbagai penjuru pulau.

Tercatat bahwa setiap aktivitas penggalian tanah di Tanak Beaq kerap memunculkan artefak peradaban lampau. Peralatan memasak, gerabah, hingga sisa-sisa hunian menjadi bukti konkret bahwa kawasan tersebut pernah menjadi pusat kehidupan yang maju pada masanya.

Sayangnya, sebagian besar artefak itu masih tersimpan secara mandiri oleh warga, tanpa sistem pendataan dan perlindungan yang memadai.

Di titik inilah sejarah global bertemu dengan persoalan lokal. Jejak Samalas yang berdampak dunia justru terancam hilang di tingkat tapak. Tanpa kebijakan penyelamatan yang cepat dan terukur, artefak bisa berpindah tangan, rusak, atau lenyap tanpa jejak.

Padahal, nilai sejarahnya bukan hanya milik NTB, melainkan bagian dari memori kolektif peradaban manusia.

Museum

Usulan membangun 50 museum baru di NTB mencerminkan perubahan paradigma dalam melihat museum. Museum tidak lagi diposisikan semata sebagai ruang penyimpanan benda kuno, tetapi sebagai simpul edukasi, literasi, dan ekonomi budaya.

Saat ini NTB memiliki lima museum daerah dan delapan museum desa yang terdaftar secara nasional. Angka ini menjadi pijakan awal bahwa pengembangan museum bukan wacana kosong, melainkan agenda yang sudah berjalan.

Konsep museum tematik yang sedang disiapkan Museum NTB menjadi contoh pendekatan baru. Museum tematik Samalas dan Tambora dirancang tidak hanya memamerkan artefak, tetapi juga menyajikan narasi tentang hubungan manusia, alam, dan bencana.

Dengan teknologi imersif dan ruang pamer digital, museum diarahkan menjadi ruang belajar lintas generasi, terutama bagi generasi muda yang akrab dengan visual dan pengalaman interaktif.

Namun, tantangan terbesar bukan pada pembangunan fisik, melainkan pada narasi dan pengelolaan. Lima puluh museum baru akan kehilangan makna jika hanya menjadi etalase benda tanpa cerita.

Samalas memberi pelajaran penting bahwa sejarah harus dirangkai sebagai alur sebab akibat, dari letusan gunung, perubahan iklim, migrasi manusia, hingga transformasi sosial. Narasi semacam ini yang membuat museum relevan dan hidup.

Selain itu, museum juga harus berkelindan dengan masyarakat sekitar. Pengalaman Rinjani Color Run III pada Agustus 2025 menunjukkan bahwa ketika museum hadir di ruang publik, antusiasme warga meningkat.

Ribuan peserta tidak hanya berlari, tetapi juga belajar tentang gunung purba Samalas, melihat maket Rinjani, dan memahami bahwa Lombok memiliki sejarah yang berdampak global. Model ini membuktikan museum dapat keluar dari tembok gedung dan menjangkau publik lebih luas.

Kebijakan berkelanjutan

Rencana pembangunan 50 museum baru perlu diterjemahkan ke dalam kebijakan yang realistis dan berkelanjutan.

Pertama, prioritas harus diberikan pada kawasan yang memiliki nilai sejarah kuat dan risiko kehilangan artefak tinggi, seperti Tanak Beaq. Museum geologi dan arkeologi di kawasan ini dapat menjadi laboratorium terbuka bagi pendidikan kebencanaan dan sejarah lingkungan.

Kedua, penguatan museum desa menjadi strategi penting. Museum desa memungkinkan masyarakat lokal menjadi subjek, bukan objek, dalam pengelolaan warisan budaya.

Dengan pendampingan yang tepat, museum desa dapat menggerakkan ekonomi lokal melalui wisata berbasis komunitas, sekaligus menanamkan kebanggaan terhadap sejarah sendiri.

Ketiga, integrasi museum dengan sistem pendidikan perlu diperkuat. Museum harus menjadi perpanjangan ruang kelas, tempat siswa belajar sejarah, geografi, dan kebencanaan secara kontekstual.

Samalas, Tambora, dan lanskap NTB menyediakan materi pembelajaran nyata tentang relasi manusia dan alam, yang relevan dengan tantangan perubahan iklim hari ini.

Pembangunan museum harus dipahami sebagai investasi jangka panjang dalam membangun kesadaran sejarah dan nasionalisme.

Jejak Samalas mengingatkan bahwa Indonesia bukan sekadar penonton dalam sejarah dunia, tetapi pernah menjadi episentrum peristiwa global.

Menuturkan kisah itu melalui museum berarti mengembalikan posisi Indonesia dalam narasi besar peradaban.

Jika dirancang dengan visi yang jelas, museum-museum di NTB dapat menjadi ruang di mana lahar masa lalu berubah menjadi cahaya pengetahuan masa depan.

Dari sana, publik tidak hanya diajak melihat artefak, tetapi juga memahami bahwa sejarah adalah fondasi untuk membaca masa kini dan menata masa depan. (ANTARA)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.