Dari Desa Kemudi Gresik ke Negeri Beruang Merah: Kisah Inspiratif Prof Khoirul Rosyadi, Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di Rusia

oleh -2444 Dilihat
Prof Dr Khoirul Rosyadi, Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di Rusia, yang lahir dari Desa Kemudi, Duduksampeyan, Gresik, Jatim.

KabarBaik.co- Di balik gemerlap dan salju Moskow yang membeku, kini terselip nama Prof Dr Khoirul Rosyadi. Ia tengah ikut menyalakan ilmu dan budaya Nusantara di negeri beruang merah. Jadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di Rusia.

Ia bukan lahir dari sebuah kota besar. Bukan pula dari keluarga elite.

Kisahnya bukan sekadar narasi tentang pencapaian akademik. Namun, cerita tentang resiliensi (daya tahan), pengabdian, dan bagaimana akar tradisi lokal bisa bersemi menjadi cabang peradaban global. Ia menambah daftar panjang bukti bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari ruang-ruang kecil, dari suara ngaji di surau desa, dari debu jalanan lingkungan pesantren.

Rosyadi tumbuh di lingkungan dengan nuansa religius. Sebagai anak desa, hidupnya tak lepas dari ritme mengaji, masjid, dan pendidikan formal yang sederhana. Lepas dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Maarif Al Ikhwan, ia melanjutkan ke SMP NU 2 Gresik. Ketika SMP itu, Rosyadi juga jadi santri di Pondok Pesantren (Ponpes) KH Mohammad Kholil Gresik, sebuah pesantren yang didirikan oleh murid KH Muhammad Kholil Bangkalan, tokoh penting dalam sejarah keulamaan Madura.

“Kalau siang saya sekolah, malam dan pagi ngaji,” kenangnya. Jadwal padat tak menyurutkan semangat belajarnya. Ia justru menikmati irama hidup yang menyeimbangkan nalar dan nurani.

Setelah lulus SMP, Rosyadi melanjutkan ke SMAN Sidayu, Gresik. Namun, tetap nyantri di Ponpes Baiturrahim, Kecamatan Bungah. Di sana ia menyempurnakan pendidikannya, tak hanya sebagai pelajar, tetapi juga sebagai seorang pencari ilmu yang meresapi nilai-nilai keikhlasan, kesabaran, dan ketekunan.

Tahun 1993 menjadi titik balik besar. Rosyadi diterima sebagai mahasiswa di PTN ternama.  Universitas Gadjah Mada (UGM). Jurusan filsafat. Ia diterima melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Daerah (PBUD). Dari Gresik ke Jogjakarta, ia membawa bekal bukan hanya ijazah. Namun, juga semangat khas santri. Merendah untuk terus belajar, bersahaja dalam berpikir.

Filsafat sepertinya memberinya cara pandang baru. Dunia ide dan logika memperluas cakrawala berpikirnya. Namun, proses intelektualnya tak hanya terjadi di ruang kuliah. Ia aktif juga di Pers Mahasiswa (Persma) Balairung UGM, tempat ia menempa kepekaan sosial dan ketajaman dalam bernalar kritis. Di sinilah, Rosyadi belajar merangkai kata menjadi alat perjuangan dan menyuarakan kegelisahan publik.

Setelah lulus S-1, ia melanjutkan studi S-2 di jurusan Sosiologi UGM. Lulus pada tahun 2001. Dengan dasar ilmu filsafat dan sosiologi, Rosyadi menjadi pemikir yang tidak hanya analitis, melainkan juga reflektif dan humanis.

Selepas kuliah, Rosyadi sempat menjadi wartawan di Majalah Forum Keadilan di Jakarta. Dunia jurnalistik mempertemukannya dengan realitas sosial yang kompleks. Namun, keluarga memintanya kembali ke dunia akademik. Ia pun melamar menjadi dosen, dan pada tahun 2001 diterima di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Tak lama berselang, sahabat karibnya semasa kuliah, Mutmainnah, yang kini menjadi dosen Sosiologi di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), mengajaknya bergabung. Pada akhir 2002, ia resmi menjadi bagian dari UTM, sebuah kampus muda yang tengah berkembang di ujung timur Pulau Madura.

Di UTM, Rosyadi mengajar dengan sepenuh hati. Ia bukan sekadar dosen. Namun, juga pembimbing hidup bagi mahasiswanya. Ia kerap berbagi cerita tentang perjuangannya. Memberikan perspektif global dan mendorong mahasiswa untuk bermimpi besar. Salah satu pendekatan uniknya adalah mendorong mahasiswa untuk memiliki atau membuat paspor. “Siapa yang punya paspor, saya beri nilai bagus,” ujarnya.

Itu bukan gimmick, melainkan strategi membangkitkan kesadaran bahwa dunia tak terbatas di kampus atau kabupaten. Dunia luas dan setiap orang berhak menjelajahinya.

Pada 2010, Rosyadi melanjutkan studi doktoralnya (S-3) di RUDN University, Moskow. Bagi santri dari Gresik itu, Rusia bukan negeri asing. Ia telah menyelami kebudayaan dan ilmu pengetahuan dari negeri yang pernah jadi pusat kekuatan dunia itu. Tak hanya belajar, ia juga aktif di komunitas diaspora Nahdlatul Ulama (NU) sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Istimewa (PCI) INU Rusia (2010–2012).

Pengalaman Rosyadi di Rusia, memperkaya perspektif globalnya. Ia memahami pentingnya diplomasi budaya dan pendidikan dalam membentuk citra bangsa. Ketika kembali ke Indonesia pada 2014, ia melanjutkan tugasnya di UTM dan menjabat sebagai Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB).

Setelah hampir dua dekade mengabdi, dedikasinya dihargai dengan gelar Guru Besar Ilmu Sosiologi. Sebuah pengakuan akademik yang melengkapi dedikasi panjangnya dalam dunia pendidikan. Namun, penghargaan itu tidak menghentikannya untuk terus melangkah.

Tahun 2025, pemerintah memberikan amanah baru. Menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di Moskow. Tugas ini membuatnya kembali ke negeri yang pernah menjadi tempatnya belajar. Namun, kali ini dalam kapasitas sebagai duta bangsa. Ia akan menjembatani kerja sama pendidikan dan budaya, memberikan layanan kepada mahasiswa Indonesia, dan mempromosikan kekayaan intelektual tanah air.

Meski tugasnya di Rusia baru dimulai, Rosyadi sudah menegaskan akan sebuah kerinduannnya. “Setelah selesai, saya akan kembali mengajar di UTM,” katanya.

Bagi Prof Rosyadi, ilmu bukan sekadar pencapaian pribadi. Ilmu adalah amanah, jalan untuk membebaskan, dan alat untuk mengubah dunia. Ia percaya bahwa siapa pun bisa belajar, siapa pun bisa sukses. Asalkan punya tekad, kesabaran, dan semangat untuk terus melangkah.

Ia bukan hanya seorang profesor, tapi juga penjaga api mimpi para santri, mahasiswa, dan pemuda desa yang ragu melangkah. Ia menunjukkan bahwa tak perlu lahir di kota besar dan anak seorang tokoh elite untuk berbicara di panggung global. Cukup berani bermimpi, tekun belajar, dan setia pada pengabdian.

Dari desa kecil di Gresik ke salju Moskow yang membeku, Rosyadi membuktikan satu hal. Bahwa ilmu, jika ditanam dengan ikhlas, akan tumbuh hingga ke ujung dunia. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.