KabarBaik.co, Surabaya – Di sudut kawasan Gunung Anyar Tambak, Kota Surabaya, geliat ekonomi rakyat kembali terasa. Kampung yang dikenal sebagai sentra kerupuk ini perlahan bangkit, seiring hadirnya pendampingan dari kalangan perguruan tinggi yang memberi napas baru bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Aroma gurih kerupuk ikan yang dijemur di halaman rumah warga kini bukan sekadar rutinitas lama. Ia menjadi simbol kebangkitan. Para pelaku UMKM yang sebelumnya berjalan dengan cara tradisional, kini mulai beradaptasi dengan tuntutan pasar yang kian modern.
Sebanyak 18 pelaku UMKM di Kampung Kerupuk Gunung Anyar Tambak mendapat pendampingan dari tim pengabdian masyarakat STIESIA Surabaya. Program ini tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga bantuan peralatan produksi seperti alat pengemas, blender, kompor gas, regulator, hingga dandang pengukus.
Ketua Tim Pelaksana Pengabdian Masyarakat STIESIA Surabaya, Nur Handayani, menjelaskan bahwa pendampingan ini difokuskan pada peningkatan kualitas produk, terutama dari sisi pengemasan dan pelabelan.
“Melalui pelatihan dan bantuan ini, kami berharap para pelaku UMKM dapat menjalankan usahanya secara berkelanjutan dan semakin berkembang,” ujarnya, Minggu (12/4).
Perubahan mulai terlihat. Produk kerupuk yang sebelumnya dikemas sederhana, kini tampil lebih rapi dan informatif. Label produk dibuat lebih menarik, sehingga mampu meningkatkan daya saing di pasar yang lebih luas.
Koordinator UMKM Kampung Kerupuk, Inayah, mengakui bahwa pendampingan ini membawa dampak nyata bagi para pelaku usaha. Menurutnya, pelatihan dan bantuan peralatan sangat membantu dalam menjaga kualitas sekaligus meningkatkan produksi. “Kami sangat terbantu. Dengan pendampingan ini, kami bisa mempertahankan usaha dan membuatnya lebih baik lagi,” katanya.
Salah satu produk yang kini mulai mencuri perhatian adalah kerupuk kemplang ikan. Camilan tradisional khas Indonesia ini kembali menunjukkan eksistensinya di tengah gempuran produk modern dan impor.
Dari hasil pantauan di lapangan, kemplang ikan produksi UMKM setempat kini mulai merambah platform e-commerce dan media sosial. Meski sebagian masih dikemas dalam plastik transparan sederhana, permintaan pasar justru terus meningkat.
Kekuatan utama kemplang terletak pada cita rasanya yang otentik. Perpaduan daging ikan segar dengan bumbu rempah menghasilkan rasa gurih yang khas dan sulit ditiru oleh produk pabrikan.
Selain itu, sebagian besar pelaku UMKM tetap mempertahankan proses produksi tradisional tanpa bahan pengawet. Hal ini menjadi nilai tambah di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap makanan sehat.
“Kami mengutamakan kualitas ikan. Walaupun kemasannya sederhana, rasa tidak bisa bohong. Itu yang membuat pelanggan kembali membeli,” ujar Umi, salah satu pelaku UMKM kemplang.
Dengan harga yang relatif terjangkau, berkisar antara Rp15.000 hingga Rp35.000 per bungkus, kemplang ikan mampu menjangkau berbagai kalangan. Produk ini pun fleksibel, bisa dinikmati sebagai camilan maupun pelengkap berbagai hidangan, mulai dari nasi, bakso, hingga pempek.
Ke depan, peluang pengembangan masih terbuka lebar. Dengan sentuhan rebranding yang lebih modern dan strategi pemasaran yang tepat, kemplang ikan dari Kampung Kerupuk Gunung Anyar berpotensi menembus pasar ritel hingga ekspor.
Lebih dari sekadar camilan, kemplang ikan kini menjadi bagian dari cerita kebangkitan ekonomi lokal. Di balik setiap kerenyahannya, tersimpan harapan para pelaku UMKM untuk terus bertahan dan tumbuh di tengah persaingan zaman. (*)








