KabarBaik.co- Di tengah tuduhan isu feodalisme di dunia pesantren, sebuah penelitian yang dilakukan Urin Laila Sa’adah, mahasiswa Program Doktoral Psikologi Universitas Negeri Malang (UM), menghadirkan perspektif berbeda. Hasil risetnya menunjukkan bahwa di balik struktur hierarkis pesantren, justru tumbuh nilai-nilai keteladanan, kasih sayang, dan pengabdian yang membentuk karakter santri menjadi pribadi tangguh dan beradab.
Penelitian tersebut dilakukan di sejumlah pesantren salaf besar di Jawa Timur, seperti Lirboyo, Ploso, Langitan, dan beberapa pesantren lainnya. Laila menelusuri dinamika kehidupan santri selama bertahun-tahun, mulai dari proses belajar mengaji, kegiatan harian, hingga hubungan mereka dengan kiai dan sesama santri.
Dari pengamatannya, ia menemukan bahwa kehidupan di pesantren bukan sekadar tentang hafalan kitab kuning atau rutinitas ibadah, tetapi juga proses panjang pembentukan kepribadian, kedewasaan, dan ketahanan mental.
“Santri itu belajar dalam waktu yang panjang, bisa enam sampai dua belas tahun. Mereka tidak hanya diajari ilmu, tapi juga adab, kesabaran, dan ketulusan. Dari situ ketahanan mental mereka terbentuk,” ujar Laila.
Kiai: Sumber Keteladanan, Bukan Figur Feodal
Salah satu temuan menarik dari riset ini adalah peran besar sosok kiai dalam membentuk karakter santri. Bagi para santri, kiai bukan hanya guru yang mengajarkan ilmu agama, melainkan juga panutan hidup yang memberikan teladan melalui sikap dan perilaku.
Menurut Laila, pandangan sebagian orang yang menilai hubungan antara kiai dan santri sebagai bentuk feodalisme adalah keliru. Hubungan tersebut tidak dibangun atas dasar kekuasaan, melainkan atas dasar cinta, hormat, dan penghargaan terhadap ilmu.
“Hubungan antara kiai dan santri sering disalahpahami sebagai feodal. Padahal, di dalamnya ada kasih sayang, doa, dan keteladanan yang tulus,” jelasnya.
Bentuk perhatian kiai kepada santri sering kali terlihat sederhana. Hadir di tengah kegiatan belajar, memberi nasihat ketika santri menghadapi masalah, atau sekadar mendoakan mereka dari jauh. Namun bagi santri, hal-hal kecil demikian itu memiliki makna yang mendalam. Dari sanalah mereka belajar disiplin, keikhlasan, kesabaran, dan makna pengabdian yang sesungguhnya.
“Feodalisme itu muncul kalau hubungan didasari kekuasaan. Di pesantren justru sebaliknya, ada cinta dan hormat karena ilmu,” tambah Laila.
Hidup Bersama, Tumbuh Bersama
Selain keteladanan kiai, kehidupan santri yang dijalani bersama dalam satu lingkungan juga menjadi faktor penting dalam pembentukan karakter. Hidup bertahun-tahun di asrama yang padat, berbagi ruang tidur, tempat belajar, dan makanan, melatih para santri untuk berempati, menahan diri, dan belajar memahami perbedaan.
“Bayangkan, santri dari berbagai daerah hidup bersama bertahun-tahun. Ada yang beda bahasa, beda kebiasaan, beda karakter. Tapi mereka belajar saling memahami. Ini sekolah kehidupan yang sesungguhnya,” kata Laila.
Konflik kecil memang terkadang tak terhindarkan. Entah karena perbedaan pendapat atau hal-hal sepele dalam keseharian. Namun, dari situ para santri justru belajar bagaimana mengendalikan emosi, menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan, dan menghargai satu sama lain. Menurut Laila, proses hidup bersama inilah yang membentuk ketahanan sosial dan emosional santri, bekal penting saat kelak mereka kembali ke masyarakat.
“Nilai-nilai seperti sabar, mengalah, dan gotong royong itu tidak diajarkan lewat teori, tapi lewat pengalaman hidup sehari-hari di pesantren,” ujarnya.

Peran Keluarga Tak Bisa Dikesampingkan
Dalam hasil penelitiannya, Laila juga menekankan bahwa pendidikan di pesantren tidak serta-merta menggantikan peran keluarga. Orang tua tetap memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai dasar dan cinta belajar sejak dini, agar anak siap menghadapi kehidupan pesantren yang penuh disiplin.
“Pesantren mendidik, tapi pondasi nilai dan cinta belajar tetap harus ditanamkan di rumah. Anak yang sejak kecil tumbuh dengan kasih sayang dan dukungan keluarga akan lebih mudah beradaptasi di pesantren dan menikmati proses belajarnya.”
Laila menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan pesantren tidak hanya bergantung pada sistem yang diterapkan di dalamnya, tetapi juga kolaborasi antara pesantren dan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan.
Nilai Pesantren untuk Kehidupan Sosial
Sebagai alumni MAK Tambakberas Jombang, Laila merasakan sendiri bagaimana kehidupan pesantren menanamkan keteguhan hati dan semangat pengabdian. Kini, ia menerjemahkan nilai-nilai itu ke dalam kerja sosialnya sebagai konselor di Komunitas Perlindungan Perempuan dan Anak.
“Pesantren itu tempat belajar yang luar biasa. Santri diajari untuk kuat, tapi tetap lembut hatinya. Untuk taat, tapi juga berpikir terbuka. Kalau kita mau jujur, nilai-nilai itu justru yang dibutuhkan bangsa ini,” ujarnya sambil tersenyum.
Menurutnya, di balik tudingan feodalisme, pesantren sesungguhnya sedang menjalankan peran besar dalam membentuk generasi yang tangguh, beradab, dan berjiwa sosial. Santri-santri yang ditempa di lingkungan penuh disiplin dan kasih sayang ini kelak menjadi pribadi yang siap mengabdi untuk masyarakat dengan ilmu dan hati yang tulus.
Pesantren dan Harapan Bangsa
Data dari Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama mencatat, pada tahun 2020/2021 terdapat lebih dari 4,37 juta santri yang belajar di 30.494 pesantren di seluruh Indonesia. Angka tersebut belum termasuk di pesantren kecil yang belum terdata. Yang jelas, data ini menunjukkan bahwa di tengah arus modernisasi atau globalisasi, sesungguhnya minat masyarakat terhadap pendidikan pesantren tetap tinggi.
Melalui penelitiannya, Laila berharap masyarakat dapat melihat pesantren dari sudut pandang yang lebih utuh. Pesantren bukan sekadar institusi tradisional, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan spiritualitas yang relevan dengan tantangan zaman.
“Kalau kita mau jujur, pesantren adalah tempat di mana generasi muda belajar tentang ketulusan, kemandirian, dan tanggung jawab sosial. Dari sinilah bangsa ini bisa belajar arti keteladanan,” pungkasnya. (*)







