Dropping MBG 3B di Nganjuk, Bangun Kapasitas Warga Rawat Kesehatan Keluarga

oleh -130 Dilihat
2bbdc9f8 8340 4ff2 a14c 67ce395e4a50
MBG 3B di Nganjuk

KabarBaik.co – Bukan sekadar makanan bergizi yang diberikan secara cuma-cuma, seruan untuk membangun fondasi kesehatan yang kokoh meriahkan peluncuran program Dropping Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diselenggarakan serentak di 10 desa Kecamatan Berbek Kabupaten Nganjuk

Program yang fokus pada kelompok 3B (Bumil, Busui, dan Balita non-PAUD) membawa misi jauh lebih luas yakni mengubah paradigma gizi dan membangun kapasitas masyarakat untuk merawat kesehatan keluarga sendiri.

Sebelum paket makanan sampai ke tangan penerima manfaat, proses panjang telah dilakukan bukan hanya untuk pendataan, tetapi juga untuk merancang konten yang tepat sasaran. Setiap komponen dalam paket MBG dirancang berdasarkan analisis gizi lokal dan kondisi kesehatan masyarakat.

Tidak hanya menyediakan nutrisi yang dibutuhkan, tetapi juga menjadi media edukasi tentang variasi makanan lokal yang dapat dimanfaatkan.

“Saat kami memberikan paket MBG, kami juga mengajarkan cara mengolahnya bersama bahan-bahan yang ada di sekitar rumah mereka,” jelas Taufin Arifiyah seorang petugas di hadapan perwakilan warga, Sabtu (24/1)

Dengan memberikan tata cara dan proses memasak sayur maupun lauk yang benar diharapkan masyarakat dapat mempraktikkan di rumah.

“Tujuannya adalah agar mereka bisa terus menerapkan pola makan sehat bahkan setelah program ini berjalan,” ungkapnya.

Para kader posyandu juga dilatih khusus untuk melakukan pemantauan pertumbuhan balita dan memberikan konseling tentang kebiasaan hidup bersih dan sehat. Setiap kunjungan untuk penyaluran MBG juga menjadi kesempatan untuk memeriksa kondisi kesehatan ibu dan anak secara berkala.

Program ini menyasar kelompok 3B bukan hanya sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai agen perubahan dalam keluarga. Ibu hamil dan ibu menyusui yang mendapatkan pendidikan gizi melalui MBG diharapkan dapat menjadi contoh bagi anggota keluarga lainnya, bahkan bagi tetangga di sekitar mereka.

Camat Berbek, Toni Soesanto, menekankan bahwa makna MBG bukan sekadar pemberian makanan.

“Ini adalah investasi jangka panjang. Ketika seorang ibu memahami pentingnya gizi, dia akan mampu mengatur makan untuk seluruh keluarga. Ketika seorang balita tumbuh dengan nutrisi yang cukup, dia akan memiliki dasar yang kuat untuk belajar dan berkembang menjadi orang yang produktif di masa depan,” ujarnya.

Selain itu, program ini juga mendorong pemanfaatan lahan pekarangan untuk menanam sayuran dan buah-buahan bergizi. Beberapa desa bahkan telah membentuk kelompok belajar untuk berbagi pengetahuan tentang pertanian keluarga sederhana, sehingga masyarakat bisa mandiri memenuhi kebutuhan gizi mereka sendiri.

Kerjasama yang terbangun tidak hanya antara pemerintah dan tenaga kesehatan, tetapi juga dengan pelaku usaha lokal. Beberapa bahan dalam paket MBG diperoleh dari UMKM makanan sehat di Kecamatan Berbek, sehingga program ini juga memberikan dorongan bagi perekonomian lokal.

“Kami bekerja sama dengan kelompok wanita yang membuat makanan olahan bergizi dari bahan lokal, dengan demikian, program MBG tidak hanya meningkatkan kesehatan masyarakat tetapi juga membantu meningkatkan pendapatan mereka. Ini adalah bentuk sinergi yang benar-benar bermanfaat ganda,” jelas Camat Toni.

Pada hari peluncuran, di setiap desa juga digelar penyuluhan tentang manajemen sampah dan sanitasi lingkungan karena kesehatan dan gizi tidak bisa dipisahkan dari kebersihan sekitar. Para peserta juga diajak untuk membuat komitmen bersama untuk menjaga kesehatan diri dan keluarga.

Sementara itu, Yuniarti, seorang ibu menyusui dari Desa Semare mengaku merasakan perubahan bukan hanya pada dirinya tetapi juga pada lingkungannya.

“Sebelum ada program ini, saya sering bingung apa yang harus saya makan agar asi cukup dan sehat. Sekarang saya tidak hanya mendapatkan makanan, tetapi juga tahu cara membuat makanan sehat dari bahan yang mudah ditemukan. Saya bahkan sudah mulai menanam bayam dan kemangi di pekarangan rumah saya,” katanya bercerita

Program MBG dirancang agar tidak berjalan selamanya sebagai bantuan, tetapi sebagai tahap awal untuk membangun kemandirian masyarakat dalam hal gizi dan kesehatan.

Rencana ke depannya adalah untuk membentuk kelompok masyarakat yang mandiri, yang mampu terus memelihara program kesehatan dan gizi bahkan tanpa dukungan langsung dari pemerintah.

“Kita ingin MBG menjadi cikal bakal perubahan budaya tentang kesehatan dan gizi di Kecamatan Berbek, Bukan hanya makanan yang diberikan, tetapi semangat untuk hidup lebih sehat dan mampu membangun masa depan yang lebih baik bagi diri sendiri dan generasi berikutnya,” pungkas Toni. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Agus Karyono
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.