Duka di Bawah Pagar Masjid: Tragedi Penculikan dan Pembunuhan Balita, Mengguncang Nurani Para Orang Tua

oleh -1226 Dilihat

KabarBaik.co- Rafa Fauzan, bocah berusia 1 tahun 11 bulan, ditemukan sudah tak bernyawa setelah sempat dinyatakan hilang selama empat hari tiga malam. Peristiwa tragis ini terjadi di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, dan mengguncang emosi publik. Terutama para orang tua yang merasakan duka mendalam atas nasib malang balita yang tak berdosa ini.

Dari informasi yang dihimpun, Rafa dinyatakan hilang pada Selasa (10/6), sekitar pukul 11.30 WIB, saat berada di rumah pengasuhnya di Gang Kapas, Kelurahan Sekip Lama, Kecamatan Singkawang Tengah. Hilangnya sang anak membuat keluarga dan warga sekitar panik. Upaya pencarian dilakukan secara besar-besaran.

Namun, misteri kepergian bocah mungil ini baru terungkap setelah jasadnya ditemukan dalam karung di depan Masjid Husnul Khotimah, Jalan Veteran, Kelurahan Roban, pada Jumat (13/6) dini hari,  pukul 03.30 WIB. Jarak antara lokasi hilang dan penemuan jasad sekitar 3,5 kilometer.

Belakangan terungkap bahwa Rafa diculik. Pelaku penculikan sekaligus pembunuhan adalah seorang pria bernama Uray Abadi alias AB, warga RT 14 RW 05 Sekip Lama, Kecamatan Singkawang Tengah. Ia tinggal tak jauh dari rumah pengasuh korban.

Ironisnya, saat proses pencarian berlangsung, pelaku sempat berpura-pura membantu warga mencari keberadaan Rafa, demi menghindari kecurigaan.

Di hadapan awak media setempat, Kapolres Singkawang melalui Kasatreskrim AKP Deddi Sitepu mengungkap bahwa motif pelaku adalah rasa sakit hati terhadap pengasuh Rafa. Berdasarkan pengakuannya, pelaku tersinggung oleh ucapan pengasuh dan ingin membuat pengasuh disalahkan oleh orang tua korban.

Dalam keadaan diliputi dendam, pelaku nekat menculik Rafa dari rumah pengasuhnya itu pada siang hari saat situasi sedang sepi. Lalu, AB membawa Rafa ke rumahnya, kemudian membekapnya menggunakan tangan. Tanpa pikir panjang, ia memasukkan tubuh Rafa yang masih hidup ke dalam karung.

Karung tersebut lalu dibawa dengan sepeda menuju area pemakaman. Karung itu sempat ditinggalkan di teras masjid dekat komplek pemakaman. Namun, pada malam harinya, AB kembali mengambil dan membawanya berputar-putar dengan sepeda, sebelum akhirnya membuangnya ke semak-semak di kawasan Jalan Man Model.

Menurut keterangan polisi, Rafa sudah dalam kondisi meninggal dunia saat dibuang. Pelaku mengaku tak memukul korban atau menggunakan alat bantu kekerasan. Ia berdalih tak berniat membunuh, bahkan sempat mengeluarkan pengakuan nyeleneh bahwa ia hanya ingin “bersedekah ke masjid”.

Pengungkapan kasus ini didukung oleh sejumlah barang bukti berupa baju korban, popok, rekaman CCTV, serta sidik jari yang ditemukan di lokasi penemuan jenazah. Polisi juga menyita keset kaki dan tali penutup pagar samping masjid, di mana sempat ditemukan tetesan darah.

Keluarga korban menolak permintaan autopsi terhadap jenazah Rafa. Balita malang itu dimakamkan di daerah Sekip Lama, Singkawang Tengah pada Jumat (13/6), hari yang sama ketika ia ditemukan tak bernyawa. Pemakaman dilakukan dalam suasana duka mendalam, dengan linangan air mata dari keluarga dan warga sekitar yang merasa kehilangan.

Polisi memastikan bahwa pelaku bertindak sendiri dan tidak ada keterlibatan pihak lain. AB ditangkap pada Sabtu (14/6), di sekitar Pasar Hongkong, Jalan Budi Utomo, Kota Singkawang. Saat diamankan, pelaku tidak melakukan perlawanan.

Kasus pembunuhan balita ini menyisakan luka mendalam bagi masyarakat. Bukan hanya karena usia korban yang masih sangat belia, tetapi juga karena kejahatan itu dilakukan oleh orang yang berada di lingkungan terdekat korban. Motif yang sepele, yakni sakit hati karena ucapan, menjadi pemicu tindak kejahatan yang berujung pada hilangnya nyawa seorang anak kecil yang belum mengerti apa-apa.

Tragedi Rafa mengingatkan kepada semua akan pentingnya menjaga lingkungan yang aman untuk anak-anak. Orang tua, pengasuh, dan masyarakat luas diharapkan meningkatkan kewaspadaan terhadap siapa pun di sekitar mereka. Sebab, terkadang ancaman bisa datang dari orang yang tak terduga.

Di tengah rasa duka, publik kini menanti jalannya proses hukum agar pelaku mendapat hukuman setimpal atas perbuatannya yang tak manusiawi. Semoga Rafa Fauzan mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan, dan kasus ini menjadi pembelajaran penting untuk seluruh bangsa. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi


No More Posts Available.

No more pages to load.