KabarBaik.co, Solo- Kekalahan dramatis yang dialami Jakarta Electric PLN Mobile dari Jakarta Pertamina Enduro (JPE) di laga pamungkas final four seri Solo Proliga 2026, bukan sekadar hasil pertandingan. Namun, kembali menjadi pukulan telak yang memastikan langkah Agustin Wulandari dkk terhenti menuju grand final.
Bertanding di GOR Sritex Arena, Minggu (12/4), tim asuhan pelatih Chamnan Dokmai harus menyerah 2-3 setelah sempat memaksa laga hingga lima set. Hasil ini sekaligus memupus asa mereka untuk mengulang keberhasilan di final four seri Surabaya, ketika mampu menumbangkan Megawati Hangestri dkk dengan skor identik.
Ake, technical support tim Electric PLN, kepada awak media tak menampik kekecewaan tersebut. Dia menilai timnya sebenarnya tampil kompetitif. Sayangnya, kelemahan mendasar pada penerimaan bola menjadi faktor pembeda. “Ini pertandingan yang bagus dan kami juga bermain baik hingga lima set. Tapi dari evaluasi, receive kami kurang maksimal, sementara servis lawan sangat menekan,” ujarnya seusai pertandingan.
Perlawanan sengit yang dipimpin Neriman Ozsoy dan Kara Bajema sempat membawa Electric PLN bangkit setelah tertinggal dua set. Bahkan, momentum sempat berpihak pada mereka saat berhasil menyamakan kedudukan 2-2. Namun, inkonsistensi di momen krusial membuat mereka kehilangan kendali di set kelima yang berakhir 15-8 untuk JPE.
Asisten pelatih sekaligus direktur teknik Electric PLN, Anantachai Yoonprathom, mengakui perubahan strategi yang diterapkan tim sudah berjalan cukup baik, meski belum mampu mengamankan kemenangan. “Meski kami kalah, permainan tim hari ini sudah bagus. Tapi, kami harus mengakui Pertamina tampil lebih solid,” katanya.
Kegagalan tersebut membuat Jakarta Electric PLN harus mengalihkan fokus untuk perebutan posisi ketiga. Mereka berpeluang menghadapi Jakarta Popsivo Polwan dalam laga yang dijadwalkan berlangsung di GOR Amongrogo, Yogyakarta, pada 16–21 April mendatang.
Hasil di Solo menjadi ironi tersendiri bagi Electric PLN. Setelah sempat menunjukkan kapasitas sebagai penantang serius di Surabaya, performa mereka tak cukup konsisten untuk menjaga asa ke grand final. Bahkan, spiker Neriman Ozsoy masih menjadi top scorer di musim ini. Kini, satu-satunya target realistis adalah menutup musim dengan podium ketiga.
Era Dominasi Berakhir Usai 2017
Kejayaan Jakarta Electric PLN Mobile sebagai salah satu kekuatan utama di kompetisi Proliga kini tinggal cerita. Setelah terakhir kali mengangkat trofi pada 2017 silam, tim putri yang pernah begitu dominan itu belum lagi mampu kembali ke puncak.
Sepanjang lebih dari satu dekade, Electric PLN dikenal sebagai tim papan atas dengan tradisi juara yang kuat. Mereka tercatat mengoleksi enam gelar Proliga, menjadikannya salah satu tim tersukses dalam sejarah kompetisi kasta tertinggi voli tanah air. Dominasi itu mencapai puncaknya pada periode 2015 hingga 2017, saat mereka mampu meraih gelar secara konsisten dan tampil sebagai kekuatan yang sulit ditandingi.
Namun, setelah musim 2017, grafik performa tim mulai mengalami penurunan. Persaingan yang semakin ketat, munculnya kekuatan baru, serta inkonsistensi permainan membuat Electric PLN perlahan kehilangan posisi sebagai penguasa liga.
Sejak 2018, langkahnya kerap terhenti sebelum partai grand final. Bahkan, dalam beberapa musim, mereka harus puas finis di luar dua besar. Satu-satunya pengecualian terjadi pada 2024, ketika mereka berhasil menembus grand final, meski akhirnya harus puas sebagai runner-up.
Perubahan komposisi pemain dan pelatih turut mewarnai perjalanan tim dalam beberapa tahun terakhir. Meski sempat diperkuat sejumlah pemain asing dan lokal berkualitas, Electric PLN belum mampu menemukan kembali formula terbaik yang membawa mereka berjaya di masa lalu.
Kini, status sebagai tim besar masih melekat, namun dominasi yang dulu begitu kuat telah memudar. Electric PLN tetap menjadi pesaing yang diperhitungkan, tetapi tidak lagi menjadi kekuatan yang selalu difavoritkan untuk meraih gelar.
Berakhirnya era kejayaan ini menjadi penanda bahwa peta persaingan Proliga telah berubah. Electric PLN bukan lagi satu-satunya raksasa, melainkan bagian dari kompetisi yang kini semakin terbuka dan kompetitif. (*)







