Gejolak Global Tekan Importir, GINSI Jatim Ajak Pelaku Usaha Perkuat Adaptasi

oleh -85 Dilihat
GINSI Jatim Ajak Pelaku Usaha Perkuat Adaptasi
GINSI Jatim menekankan bahwa krisis selalu menyimpan peluang bagi mereka yang mampu berinovasi dan bergerak cepat.

KabarBaik.co, Surabaya — Ketidakpastian ekonomi global kian terasa dampaknya bagi pelaku usaha di dalam negeri. Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat memicu gejolak pada sektor energi dan logistik dunia.

Ketua Gabungan Importir Nasional Indonesia (GINSI) Jawa Timur, Hana Belladina, menegaskan bahwa situasi global saat ini sedang berada dalam tekanan berat. Lonjakan harga minyak dunia serta terganggunya jalur distribusi internasional, khususnya di kawasan strategis seperti Selat Hormuz, berdampak langsung pada meningkatnya biaya logistik dan ketidakpastian pasokan.

“Ketidakpastian kini menjadi tantangan sehari-hari bagi pelaku usaha, mulai dari fluktuasi harga, perubahan regulasi, hingga hambatan operasional di lapangan,” ujar Bella saat pelantikan Badan Pengurus Daerah (BPD) GINSI Jawa Timur di Surabaya, Jumat (10/4).

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi ujian sekaligus momentum bagi pelaku usaha untuk memperkuat daya tahan dan kemampuan adaptasi. Ia menekankan bahwa krisis selalu menyimpan peluang bagi mereka yang mampu berinovasi dan bergerak cepat.

“Setiap krisis selalu menghadirkan peluang. Kuncinya adalah adaptasi. Kita tidak boleh kehilangan optimisme, justru saat inilah ketangguhan kita diuji,” tegasnya.

Dalam konteks itu, GINSI Jawa Timur diharapkan tidak sekadar menjadi organisasi, tetapi juga berperan sebagai wadah strategis yang mampu memberikan solusi, perlindungan, serta arah bagi para anggotanya.

Bella juga mengajak seluruh pelaku usaha untuk tetap berani mengambil langkah dan membangun kepercayaan di tengah tekanan global. Ia menilai, masa depan dunia usaha tidak ditentukan oleh besarnya tantangan, melainkan oleh kemampuan bertahan dan terus melangkah maju.

Sementara itu, Ketua Umum GINSI, Subandi, menyoroti pentingnya peran importir dalam menjaga keberlangsungan industri nasional. Ia mengungkapkan bahwa sebagian besar industri di Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor, termasuk industri plastik.

Menurutnya, kenaikan harga minyak dunia telah mendorong lonjakan biaya pengiriman barang impor (freight cost), yang berdampak pada kenaikan harga produk berbahan plastik hingga 40–50 persen. Di sisi lain, tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semakin memperberat beban pelaku usaha.

“Biaya mendatangkan barang kini menjadi perhatian utama. Jika terus meningkat, bukan tidak mungkin aktivitas impor menurun, yang berujung pada terganggunya pasokan bahan baku industri,” jelasnya.

Ia mengingatkan, apabila kondisi tersebut tidak segera diantisipasi, maka dapat menghambat roda produksi industri nasional yang pada akhirnya berdampak pada perekonomian secara luas.

Untuk itu, Subandi mendorong pemerintah agar hadir memberikan solusi konkret bagi pelaku usaha. Beberapa langkah yang dinilai krusial antara lain menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, memastikan kecukupan cadangan devisa, serta memberikan insentif dan relaksasi pajak.

Selain itu, penyederhanaan perizinan juga dinilai penting guna memperlancar arus impor bahan baku yang dibutuhkan industri.

“Pemerintah perlu memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga, sekaligus memberikan kemudahan bagi pelaku usaha agar tetap mampu bertahan dan berkembang di tengah tekanan global,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.