Harga Plastik Naik Tajam, Picu Lesunya Daya Beli Pedagang di Sidoarjo

oleh -167 Dilihat
Riski saat melayani pembeli plastik. (Foto: Achmad Adi Nurcahya)
Riski saat melayani pembeli plastik. (Foto: Achmad Adi Nurcahya)

KabarBaik.co, Sidoarjo – Meroketnya harga plastik sejak sepuluh hari menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah berdampak langsung pada turunnya daya beli pedagang dan konsumen. Kenaikan harga rata-rata mencapai 50 hingga 60 persen membuat daya beli kemasan plastik menjadi lebih terbatas.

Lonjakan harga tersebut diduga dipicu oleh dampak konflik global yang memengaruhi distribusi serta bahan baku. Harga yang sebelumnya naik perlahan, mendadak melonjak drastis sejak akhir bulan lalu.

Riski, 25, pedagang di Pasar Larangan Sidoarjo, mengaku penurunan daya beli sangat terasa sejak harga plastik naik tajam. “Pembeli sekarang lebih hemat, biasanya beli banyak sekarang dikurangi karena harga naik,” ujarnya pada KabarBaik.co, Senin (6/4).

Ia menyebut kenaikan paling signifikan terjadi pada plastik merek tomat dan kantong kresek. Harga plastik merek tomat naik dari Rp30 ribu menjadi Rp50 ribu, sementara kantong kresek dari Rp23 ribu menjadi Rp46 ribu.

Tak hanya plastik, sejumlah bahan kemasan lain seperti mangkuk karton dan kertas minyak juga mengalami kenaikan. Kertas minyak misalnya, naik dari Rp18 ribu menjadi Rp24 ribu per pak.

Menurutnya, kondisi ini membuat pedagang harus memutar otak agar tetap bisa berjualan di tengah lesunya daya beli. Selain karena harga tinggi, ketersediaan barang juga mulai sulit didapat dari pabrik.

“Barang susah dicari, dari pabrik juga terbatas. Kita nggak tahu ini karena distribusi atau ada penimbunan,” jelasnya.

Untuk menyiasati kondisi tersebut, Riski memilih berburu barang ke agen yang masih memiliki stok lama dengan harga lebih murah. Cara ini dinilai cukup membantu meski tidak selalu tersedia.

“Kalau ada agen yang masih punya stok lama, kita langsung ambil. Tapi harus cepat karena banyak yang cari,” tambahnya.

Ia juga menuturkan, kenaikan harga tidak terlalu berdampak pada semua jenis kemasan. Sedotan misalnya, kenaikannya relatif kecil dibanding plastik dan kantong kresek.

Usaha yang dijalankan Riski merupakan usaha keluarga sejak tahun 1998. Ia berharap kondisi harga segera stabil agar daya beli kembali pulih dan aktivitas jual beli kembali normal.

“Harapannya harga bisa turun lagi, supaya pembeli nggak keberatan dan kita juga bisa jualan seperti biasa,” pungkasnya.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Achmad Adi Nurcahya
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.