KabarBaik.co – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Forum Komunikasi (Forkom) Pemuda Tangguh mengungkapkan kekecewaannya setelah agenda rapat dengar pendapat (hearing) dengan Pemerintah Kota Surabaya yang dijadwalkan hari ini, Senin (26/1), batal secara mendadak.
Neno (Tino) perwakilan mahasiswa dari Universitas Airlangga (Unair), menyatakan bahwa pembatalan tersebut diterima pihak mahasiswa sekitar pukul 07.00 WIB pagi tadi. Alasan yang disampaikan adalah adanya agenda mendadak pemerintah dengan pihak rektorat.
“Kami mengira awalnya ini bentuk itikad baik. Tapi tiba-tiba pagi ini, tidak ada angin tidak ada hujan, dibatalkan tanpa kabar jelas sebelumnya. Tentu kami kecewa karena orang tua mahasiswa sudah siap hadir di depan sana,” ujar Tino saat ditemui di gedung DPRD.
Ancaman Putus Kuliah
Tino menekankan bahwa kehadiran mahasiswa hari ini membawa aspirasi kritis terkait kebijakan biaya pendidikan. Mahasiswa menagih janji pemerintah mengenai program “Satu KK Satu Sarjana”. Menurutnya, ketidakpastian kebijakan dan tingginya biaya UKT saat ini mengancam masa depan pendidikan banyak mahasiswa di Surabaya.
“Jika kebijakan berubah dan UKT tetap tinggi, bukan tidak mungkin banyak teman-teman yang akan drop out (putus sekolah). Tidak semua anak mampu membiayai sendiri, apalagi dalam tempo sesingkat ini. Banyak yang UKT-nya tinggi bukan karena kemauan sendiri, tapi karena ditentukan pihak universitas,” tegasnya.
Siap Hadir Besok Tanpa Anarkistis
Meski kecewa, Tino menyatakan pihak mahasiswa masih mencoba berpikiran positif dan berharap ada solusi yang menguntungkan semua pihak dalam pertemuan yang dijadwalkan ulang besok. Ia memastikan bahwa massa mahasiswa akan tetap hadir memenuhi undangan DPRD esok hari.
Terkait kekhawatiran adanya tindakan anarkis, Tino menjamin bahwa mahasiswa yang hadir adalah masyarakat terpelajar yang menjaga etika.
“Harapan orang tua, kami adalah masyarakat terpelajar. Kami tidak akan anarkis. Namun untuk jumlah massa, bisa dilihat besok karena jumlah penerima yang merasa dirugikan cukup banyak,” tambahnya.
Mahasiswa berharap pemerintah tidak lagi melakukan penundaan dan memberikan sosialisasi yang transparan agar tidak ada lagi mahasiswa yang merasa putus asa akibat kendala biaya pendidikan.(*)








