Humor; Strategi Rahasia Menang Pilkada

oleh -2608 Dilihat
HUD BARU OKE

OLEH: M. SHOLAHUDDIN*) 

HUMOR. Dalam sebuah acara bersama Dokter Alif, panggilan dr Asluchul Alif MKes, yang Anda sudah tahu siapa. Juga, sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Gresik, dan beberapa rekan lain. Namun, waktunya dulu sekali. Bukan belakangan ini. Kami semua menyimaknya.

Ini cerita seorang teman. Tokoh sosial di kampungnya. Rumahnya dekat masjid. Sebagaimana lazimnya, setiap ada orang meninggal di kampung, selalu diumumkan melalui pengeras suara di masjid atau musala. Niat dan tujuannya tentu baik. Agar warga mengetahui, kemudian ikut memandikan, mengkafani, mensalati, dan menguburkan si mayit. Sekaligus pengingat: Kita pun mesti bersiap diumumkan begitu. Kapan saja. Hari ini, esok, lusa?

Nah, suatu hari, teman kami itu diminta mengumumkan berita duka tersebut. Yang datang dan memintanya adalah keluarga almarhum. Bergegaslah dia ke masjid. Lalu, mengumumkan kabar kematian tersebut. ‘’Innalillahi waa innailahi rajiun, sampun tilar donyo si Fulan, warga RT sekian, dan seterusnya….

Mendengar itu, satu per satu warga mulai berdatangan ke rumah duka. Warga yang lain pun bersiap-siap.

Tidak berselang lama setelah turun dari masjid, keluarga almarhum datang lagi ke rumahnya. Meminta pengumuman pembatalan. Ternyata, si almarhum yang diumumkan telah meninggal itu, masih hidup. Tidak jadi meninggal, Teman kami tadi pun bergegas kembali ke masjid. ‘’Pengumuman bahwa si Fulan tidak jadi meninggal dunia…

Eh, beberapa waktu kemudian, ternyata si Fulan akhirnya betul-betul meninggal dunia. Datanglah keluarga itu ke rumah teman kami itu lagi. Meminta tolong agar mau mengumumkan lagi kepada warga. Pertanyannya, apakah teman kami itu bersedia atau tidak? Bersambung….

Wkkkk. Yang jelas, mendengar cerita demikian, kami semua tertawa terpingkal-pingkal. Bukan menertawakan orang yang telah meninggal. Namun, cerita dan ekspresinya itu. Ternyata, dalam berita duka pun ada humor.

***

Definisi sederhana, humor itu hiburan. Apapun yang menenangkan tubuh, melonggarkan pernafasan, menciptakan senyum, atau menyebabkan kebahagiaan, bisa disebut humor. Humor tidak selalu mendatangkan tawa. Tawa hanya bagian dari salah satu efek saja. Jadi, tidak berarti jika tidak dapat menciptakan tawa maka tidak humoris. Tidak.

Ada satu kalimat yang menarik dari Dale Carnegie. Penulis buku How to Win Friends and Influence People itu mengatakan: “People rarely succeed unless they have fun in what they are doing.” Orang jarang berhasil jika mereka tidak menjadikan aktivitasnya sebagai kesenangan bagi dirinya. Ini menunjukkan, kesenangan dan kebahagiaan dalam aktivitas itu sangat penting. Karena itu, pentingnya humor adalah menciptakan rasa nyaman, senang, dan bahagia di setiap aktivitas.

Nah, dalam kepemimpinan, humor itu sangat penting. Jangan diremehkan perannya. Sayangnya, tidak semua bisa menjalaninya. Menjadi orang yang bisa melucu, itu tidak semudah membetulkan resleting ataupun kancing baju. Begitu banyak orang dan tokoh sebetulnya hendak melucu, malah terkadang garing. Bahkan, blunder.

Seorang pemimpin, menguasai komunikasi interpersonal saja tidak mudah. Butuh waktu. Apalagi ada warna humor. Ibarat mau menurunkan berat badan saja susahnya minta ampun, malah harus disuruh membentuk bodi six-pack seperti Cristiano Ronaldo.

Kepemimpinan tidak selalu identik dengan hal yang kaku, tegang, tegas, kasar, atau bahkan kurang senyum. Humor juga menjadi salah satu aspek penting. Tanpa ada karakter pemimpin yang berhumor, percayalah anak buah atau anggota tim cenderung tidak produktif. Hubungan yang terjalin antarindividu menjadi sangat kaku dan tidak cair.

Terkadang, seorang pemimpin berperan ingin terlihat serius supaya disegani. Hanya, dari penelitian, hal ini justru bisa menjadi bumerang. Boleh jadi malah dianggap kurang serius oleh orang-orang di sekitarnya.

Humor adalah urusan serius. Stanford Graduate School of Business pun membuka sebuah mata kuliah “Humor: Serious Business’’. Anda sudah tahu, Stanford itu salah satu sekolah bisnis terbaik di dunia. Kerap bersaing keunggulan akademik dengan Harvard Business School dan University of Pennsylvania Wharton School.

Stanford Business School sudah terkenal. Banyak melahirkan pengusaha dan pebisnis hebat serta berpengaruh di dunia. Beberapa di antaranya Mary Barra, CEO dari General Electric sejak 2014. Mary menjadi salah satu dari 7 wanita paling berpengaruh di dunia menurut Forbes. Lalu, ada Jeffrey Skoll, pendiri dari eBay yang sukses di Amerika Serikat.

Humor pun telah menjadi bahan penelitian serius. Saya membaca buku hasil penelitian Aaker & Bagdonas, 2021. Salah satu temuannya mengejutkan. Ternyata, selera humor itu menurun sejalan dengan bertambahnya umur. Salah satu indikasinya, senyum atau tertawa. Survei yang dilakukan oleh Gallup terhadap 1,4 juta secara global menemukan bahwa bertambahnya umur menjadikan kita semakin jarang tersenyum atau tertawa.

Anak umur 4 tahun dapat tertawa sebanyak 300 kali dalam sehari. Bandingkan dengan yang berumur 40 tahun. Mereka tertawa 300 kali, tetapi dalam rentang 2,5 bulan.

Selingan humor sehat dalam kadar yang pas sangat bermanfaat. Pertama, meningkatan kuasa (power). Sebab, humor akan dapat meningkatkan persepsi terhadap status dan kecerdasan, mempengaruhi perilaku, dan pengambilan keputusan, serta menjadikan ide lebih mudah diingat.

Masih dari penelitian, pimpinan yang mempunyai selera humor dipandang 27 persen lebih memotivasi dan dikagumi, dibandingkan dengan yang tidak. Bawahan juga 15 persen lebih tertarik untuk melibatkan diri. Tim pimpinan yang humoris juga dua kali lebih baik dalam memecahkan tantangan kreativitas, yang ujungnya adalah kinerja yang membaik.

Kedua, selera humor juga meningkatkan hubungan (bond). Sebab, dapat mempercepat rasa percaya dalam membangun hubungan dan membuat kita lebih puas dengan hubungan yang terjalin sejalan dengan waktu.

Tertawa bersama juga mempercepat kedekatan dan kepercayaan. Hal ini akan menjadikan mereka yang sering berbagi kebahagiaan bersama menjadi sahabat dekat. Sahabat dekat di tempat kerja, ternyata mempengaruhi kinerja. Salah satu penjelasannya, gaji bukan satu-satunya alasan seseorang bersemangat dalam bekerja. Demikian temuan penelitian Gallup.

Ketiga, selera humor juga meningkatkan kreativitas. Humor akan membantu kita menghubungkan berbagai hal yang terlewat dan menjadi kita lebih merasa aman menyampaikan ide-ide tidak konvensional dan yang berisiko. Ternyata, selain memberikan perasaan bahagia, senyum juga bisa membuat orang meningkatkan kemampuan berpikir secara holistik.

Keempat, selera humor juga membuat resiliensi (resilience) semakin baik atau tahan banting. Humor akan mengurangi momen stres dan juga membuat kita lebih mudah bangkit dari keterpurukan.

Sebuah studi lain menemukan, orang yang tertawa lepas secara ikhlas ketika menceritakan orang-orang terkasihnya mempunyai 80 persen lebih sedikit kemarahan dan 35 persen lebih sedikit stres, dibandingkan dengan mereka yang tertawanya tidak ikhlas atau tidak tertawa sama sekali.

Ujungnya, orang yang suka tersenyum sebagai tanda perasaan bahagia ternyata lebih panjang umurnya selama tujuh tahun dibandingkan dengan mereka yang suka marah. Tentu, tidak tersenyum-senyum sendiri. Apalagi di jalanan.

Nah, di tengah kontestasi Pilkada serentak 2024, silakan Anda menjadikan salah satu indikator humor pada kandidat itu untuk menjatuhkan pilihan. Namun, bisik teman kami itu, selucu-lucunya Komika atau film Dono Kasino Indro (Warkop DKI) dulu, saat ini rasanya humor terbaik dan terheboh adalah yang sedang terjadi di pusat itu. (*)

—-

*) M. SHOLAHUDDIN, penulis tinggal di Gresik

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.