KabarBaik.co, Blitar – Penyakit leptospirosis pada ternak masih menjadi ancaman serius, terutama di lingkungan yang kurang bersih dan lembap. Karena itu, upaya pencegahan dinilai harus dimulai dari hal paling mendasar, yakni menjaga sanitasi lingkungan.
Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar menegaskan bahwa strategi “sanitasi total” menjadi langkah utama dalam menekan risiko penyebaran penyakit tersebut, baik di lingkungan rumah maupun kandang ternak.
Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Disnakkan Kabupaten Blitar Lusia Adityaningtyas, menjelaskan bahwa faktor lingkungan memiliki peran besar dalam berkembangnya bakteri leptospira.
“Lingkungan yang kotor dan lembap sangat mendukung penyebaran bakteri ini, sehingga kebersihan harus menjadi perhatian utama,” ujarnya.
Selain faktor lingkungan, keberadaan tikus juga menjadi salah satu pemicu utama penularan. Hewan tersebut diketahui sebagai perantara yang membawa bakteri melalui urine yang mencemari air maupun tanah.
“Pengendalian populasi tikus di sekitar pemukiman dan peternakan menjadi langkah penting untuk memutus rantai penularan,” tegasnya.
Tak hanya itu, masyarakat juga diminta lebih waspada saat beraktivitas di area berisiko, seperti kandang ternak, sawah, maupun saluran air.
Penggunaan alat pelindung diri (APD) sederhana, seperti sepatu bot dan sarung tangan, dinilai dapat mengurangi risiko penularan, terutama bagi mereka yang memiliki luka terbuka.
“Gunakan alat pelindung saat beraktivitas di area kotor agar risiko penularan dapat ditekan,” tambahnya.
Ia menekankan, pencegahan leptospirosis tidak bisa dilakukan secara individu, melainkan membutuhkan kesadaran bersama dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Kesadaran kolektif sangat penting agar lingkungan tetap sehat dan bebas dari ancaman penyakit zoonosis,” pungkasnya.(*)






