KabarBaik.co, Bojonegoro – Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Banjarsari mengembangkan inovasi dalam mengatasi persoalan limbah. Salah satu terobosan terbaru adalah pengembangan drum komposter, alat sederhana namun efektif untuk mengolah sampah organik langsung dari skala rumah tangga.
Inovasi ini diharapkan mampu menekan volume sampah yang masuk ke TPA sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Salah satu pengelola TPA Banjarsari, Yono, menjelaskan bahwa saat ini pembuatan drum komposter masih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan sekolah, terutama untuk kegiatan praktikum.
Ide ini muncul dari tingginya persentase sampah organik rumah tangga yang sebenarnya bisa diolah sebelum sampai ke TPA. Data dari laman Satu Data Bojonegoro menunjukkan tren peningkatan volume sampah dari tahun ke tahun. Pada 2025, jumlah sampah yang dikelola mencapai 47.380,36 ton per tahun, meningkat dibandingkan 2024 yang sebesar 45.997,80 ton per tahun.
“Melalui drum komposter ini, kami ingin menunjukkan bahwa sampah dapur atau sisa makanan memiliki nilai manfaat,” ujar Yono, Sabtu (11/4).
Drum komposter bekerja dengan mengubah sampah organik menjadi pupuk cair dan kompos padat. Dengan teknologi sederhana berupa drum plastik bekas yang dimodifikasi, alat ini dilengkapi sistem aerasi (lubang udara) dan keran di bagian bawah untuk memanen pupuk organik cair (POC).
Selain mengurangi bau dan penumpukan sampah, penggunaan drum komposter juga berpotensi menekan emisi gas metana yang biasanya dihasilkan dari timbunan sampah organik di TPA.
Menurut Yono, alat ini sangat cocok digunakan oleh masyarakat perkotaan atau yang tinggal di permukiman padat dan tidak memiliki lahan luas. “Nilai manfaatnya bisa menghasilkan pupuk untuk tanaman hias atau sayuran di pekarangan. Untuk pupuk cair, tinggal membuka keran di bagian bawah,” jelasnya.
Drum komposter dinilai sebagai langkah strategis dalam pengurangan sampah. Jika diterapkan secara konsisten, misalnya dalam satu lingkungan RT, beban sampah di TPA Banjarsari diprediksi akan berkurang secara signifikan.
Saat ini, sosialisasi dan pendampingan masih difokuskan di lingkungan sekolah. Namun, masyarakat umum yang berkunjung ke TPA Banjarsari juga dapat belajar langsung cara merakit drum komposter.
Ke depan, inovasi ini diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan masif di Kabupaten Bojonegoro. Perubahan pola pikir masyarakat pun menjadi kunci, dari sekadar “membuang sampah” menjadi “mengelola sampah”. (*)






