KabarBaik.co – Petilasan Sri Aji Jayabaya, Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri mengadakan tradisi warisan leluhur yakni upacara kirab 1 Suro 2024.
Rangkaian acara kirab upacara ritual 1 Suro 2024, sudah dimulai sejak Jumat (5/7). Yakni menggelar campursari dan keroncong Mahkota Buana, lalu pencucian batu manik hingga kenduri atau doa bersama dan wayang pada Sabtu (6/7),
Berlanjut dengan pemberangkatan prosesi upacara Kirab 1 Suro, pada Minggu (7/7)zalu menggelar kesenian Jaranan Putro Joyoboyo pada 28 Juli, ruwatan sengkolo 4 Agustus dan ditutup oleh pagelaran Wayang Kulit dengan dalang Ki Dalang Slamet Sugianto pada 4 Agustus 2024.
Chatarina Etty Pengurus Yayasan Hondodento mengatakan, melalui upacara kirab 1 Suro yang berupa doa dan bimbingan kepada sang prabu Aji Jayabaya bertujuan agar membersihkan diri.
“Resik pikirannya, resik atine, resik tindak tanduknya dan resik dalam perbuatan, setelah itu kita mohon bimbingan dalam kesucian hidup kita,” ucapnya Senin (8/7).
Selain itu, Chatarina juga berharap upacara ini bisa rutin dan tanpa putus. Sebab bisa menjadi contoh dan teladan bagi masyarakat bagaimana sifatnya seorang pemimpin sejati yang jujur, tidak korupsi, mencintai rakyatnya, berkorban untuk rakyatnya dan sangat nguri kabudayan, suka berlaku adil.
“Itu beliau persembahkan ya untuk rakyatnya supaya rakyatnya hidup makmur, rukun, damai, sejahtera dan sentosa,” pungkasnya.
Perlu diketahui jika upacara ziarah satu suro dimulai dengan berjalan dari Pendopo Kelurahan sampai dengan Pamuksan Sang Prabu Sri Aji Jayabaya. Lalu berlanjut menuju ke Sendang Tirta Kamandanu yang dianggap menjadi tempat sang prabu membersihkan diri ketika akan bertapa.
Sang Prabu Sri Aji Jayabaya juga bisa meramalkan kejadian kedepan dan tidak ada yang meleset, artinya semua terbukti.
Sementara itu, Linda Endrawati Kepala Desa Menang mengaku dengan banyaknya antusias dari warga tidak mempengaruhi kekhidmatan acara ini. Bahkan melalui acara ini sekaligus bisa memutar roda ekonomi.
“Kalau masyarakat bisa banyak yang jual makanan,, terus juga parkirnya juga banyak dari warga kami. Selain melestarikan adat budaya juga mengangkat ekonomi setiap tahun,” pungkasnya. (*)







