Kebangkitan Petani, Kebangkitan Nasional

oleh -257 Dilihat
WhatsApp Image 2025 03 07 at 07.41.04
Petani Indonesia. (Foto: Ist)

Oleh:

Kuntoro Boga Andri

Kepala Pusat BRMP Perkebunan, Kementerian Pertanian.

Pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke 117 tanggal 20 Mei 2025, bangsa Indonesia dapat bersyukur menyaksikan tanda-tanda kebangkitan luar biasa pada sektor pangan. Pertanian Indonesia menunjukkan kinerja luar biasa yang patut dirayakan sebagai wujud semangat Kebangkitan Nasional. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor pertanian tumbuh 10,52% (yoy) pada Triwulan I 2025, tertinggi di antara semua sektor ekonomi. Pertumbuhan dua digit ini merupakan yang pertama kalinya dicapai dalam 15 tahun terakhir. Data BPS juga mencatat produksi padi melonjak 51,45% dan jagung naik 39,02% yoy pada periode yang sama, menandai panen raya yang kembali normal pasca-El Nino dan memperkokoh pasokan pangan nasional.

Pencapaian ini sekaligus membuktikan ketahanan pangan nasional semakin kuat. Produksi beras dalam negeri melonjak,  pada Triwulan I-2025 mencapai 8,61 juta ton, naik 53% dibanding tahun sebelumnya. Hasil panen yang melimpah memungkinkan Bulog menyerap gabah petani dalam jumlah besar. Perum Bulog mencatat cadangan beras pemerintah mencapai rekor 3,7 juta ton per pertengahan Mei 2025. Bahkan, pemerintah mulai menyiapkan opsi ekspor kelebihan pasokan beras ke negara-negara tetangga. Data ini menggambarkan surplus beras yang kokoh, selaras dengan visi kedaulatan pangan nasional yang mandiri.

Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan program pemerintah secara komprehensif. Pemerintah mendorong perbaikan rantai pasok agar manfaatnya benar-benar sampai ke petani kecil. Salah satu kebijakan strategis adalah pupuk bersubsidi dengan tata kelola baru. Melalui Peraturan Presiden No. 6 Tahun 2025, proses penyaluran pupuk dibuat lebih sederhana dan tepat sasaran. Kini alur distribusi hanya melalui produsen pupuk ke distributor, lalu ke pengecer, gapoktan, poktan, atau koperasi, baru sampai ke petani. Langkah ini menjadikan penyaluran pupuk lebih efisien dan tepat sasaran, mendukung upaya swasembada pangan.

Demikian pula dalam sarana irigasi pengairan lahan pertanian, pemerintah memacu pembangunan fasilitas air. Misalnya, ratusan embung (waduk kecil) dibangun untuk menampung air hujan dan suplai irigasi saat kemarau. Salah satunya adalah embung Desa Tambahmulyo (Jawa Tengah), yang dibangun atas inisiatif pemerintah desa, lengkap dengan geomembran untuk mencegah rembesan air. Bersama pembangunan jaringan irigasi baru dan rehabilitasi saluran, program ini memantapkan ketahanan air pertanian, sehingga lahan tanam lebih tahan kekeringan sepanjang tahun.

Pemerintah juga memperkuat jaminan pasar dan cadangan pangan. Selain mempertahankan stok beras di Bulog, pemerintah memberi dukungan luas untuk penguatan kelembagaan pangan. Salah satunya melalui Cadangan Pangan Pemerintah (CBP) di Bulog. Hingga Mei 2025, Bulog telah menyerap gabah petani setara 2,1 juta ton beras, capaian tertinggi sepanjang sejarah lembaga. Selain menjamin ketersediaan pangan pokok, Bulog menyediakan mekanisme stabilisasi harga agar petani kecil lebih terlindungi dari fluktuasi pasar. Dengan stok beras melimpah ini, Indonesia justru mampu menjadikan surplus panen sebagai kekuatan, bahkan membuka peluang ekspor ke luar negeri.

Di sisi hulu rantai pasok, reformasi kelembagaan pertanian semakin dirasakan manfaatnya oleh petani kecil. Presiden menginstruksikan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih di seluruh Indonesia, dengan target sekitar 80.000 koperasi, masing-masing di setiap desa. Setiap koperasi dilengkapi gudang dan cold storage, sehingga hasil panen desa dapat terserap dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Lewat jaringan koperasi ini, petani desa memperoleh akses modal usaha dan pasar, serta menjual panennya dengan harga yang adil. Inisiatif ini mengangkat posisi petani kecil dalam rantai nilai, memutus ketergantungan pada tengkulak dan memperbaiki distribusi hasil tani.

Sinergi antar kebijakan ini telah meningkatkan kesejahteraan petani secara nyata. Lahan kering yang sebelumnya tak termanfaatkan kini produktif, petani memperoleh pupuk dan akses pasar lebih mudah, serta terlindungi oleh jaringan koperasi. Penguatan penyuluhan membantu transfer teknologi, sehingga produktivitas petani kecil terus naik. Dukungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) berbunga ringan, asuransi pertanian, dan program magang tani bagi generasi muda turut memperkuat kemandirian serta kemampuan petani kecil. Pelatihan dan pembinaan berkelanjutan membuat mereka lebih adaptif menghadapi tantangan baru.

Selaras dengan upaya domestik, komoditas unggulan pertanian Indonesia juga memperkuat posisi di pasar global. Ekspor buah tropis seperti durian, mangga, pisang, dan manggis serta komoditas perkebunan (kopi, kakao, kelapa sawit, karet, kelapa) menunjukkan tren positif berkat peningkatan kualitas dan promosi pasar. Kementan terus memperluas akses internasional melalui teknologi karantina modern dan diplomasi perdagangan. Keberhasilan panen dan cadangan dalam negeri membuat Indonesia dapat memanfaatkan kelebihan hasil panen sebagai peluang ekspor ke pasar global. Bahkan, beras Indonesia kini mulai diekspor ke Malaysia dan negara tetangga lain, menandakan Indonesia beralih dari importir menjadi calon pengekspor pangan.

Momentum kebangkitan ini harus terus dijaga agar membawa kedaulatan pangan yang berkelanjutan. Ke depan tantangan besar masih menanti, yaitu perubahan iklim, fluktuasi harga global, hingga kebutuhan diversifikasi pangan lokal. Oleh karena itu, inovasi agritech, budidaya ramah lingkungan, dan peningkatan kapasitas petani menjadi kunci penting. Semangat gotong royong serta kolaborasi antar-lembaga pemerintah, swasta, dan masyarakat harus terus diperkuat. Petani gurem, sebagai tulang punggung ketahanan pangan, harus terus diberdayakan agar dapat bermain peran lebih besar dalam pembangunan pertanian berkelanjutan.

Kita merayakan kebangkitan nasional di sektor pertanian sebagai bukti bahwa kerja keras bersama membawa kemajuan luar biasa. Pencapaian produksi pangan dan ketahanan pangan saat ini adalah tonggak sejarah yang patut dibanggakan, namun sekaligus awal tanggung jawab baru. Kebangkitan ini bukan akhir tujuan, melainkan langkah awal menuju ketahanan pangan jangka panjang dan keadilan agraria. Dengan semangat para pendahulu di era Kebangkitan Nasional, mari kita lanjutkan perjuangan ini, untuk pertanian Indonesia maju, petani kecil sejahtera, dan cita-cita kedaulatan pangan terwujud.(*)

 

Tentang Penulis: 

Kuntoro Boga Andri, adalah Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Perkebunan, Kementerian Pertanian, sejak 25 Maret 2025. Sebelumnya, sejak Juli 2024, Kepala Pusat BSIP Perkebunan. Kuntoro Boga menjabat sebagai Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi di Kementerian Pertanian sejak Maret 2018. Ia sebelumnya merupakan Peneliti Utama di Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

Kuntoro pernah menjabat sebagai Kepala Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) pada tahun 2016, setelah sebelumnya menjabat sebagai Kepala BPTP Riau (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Riau) sejak tahun 2016. Ia juga pernah menjadi Kepala LPTP Sulawesi Barat pada tahun 2016 dan Koordinator Program dan Evaluasi BPTP Jawa Timur dari tahun 2014 hingga 2015. Sepanjang kariernya, ia telah menjadi pemimpin dan konsultan untuk banyak proyek penelitian dan pengembangan baik nasional maupun internasional.

Meraih gelar Sarjana (B.Sc.) dalam bidang Sosial Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor, Indonesia, pada tahun 1998. Ia kemudian kemudian memperoleh gelar Magister Agronomi (M.Agr.) dalam bidang Ekonomi dan Pemasaran Pertanian dari Sekolah Pascasarjana Pertanian, Universitas Saga, Jepang, pada tahun 2004, dan gelar Doktor (Ph.D.) dalam bidang Ilmu Kebijakan dan Ekonomi Pertanian dari Sekolah Pascasarjana Pertanian Gabungan, Universitas Kagoshima, Jepang, pada tahun 2007.

Pada tahun 2016, Kuntoro Boga Andri dianugerahi beasiswa program International Visitor Leadership Program (IVLP) untuk mengunjungi Amerika Serikat oleh Biro Pendidikan dan Kebudayaan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Sebelumnya, pada tahun 2000, ia terpilih sebagai Yoshinogari Goodwill Ambassador dari Prefektur Saga untuk kolaborasi dalam pertukaran ilmu pengetahuan dan budaya oleh Pemerintah Prefektur Saga, Jepang. 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.