KabarBaik.co – Langit Gresik tak selalu biru. Kadang mendung datang, menyapa lembut perbukitan situs Giri Kedaton yang berada di kelurahan Sidomukti yang menyimpan riwayat lama.
Di atas sana, berdiri sebuah makam yang tak hanya menyimpan jasad, tapi juga cerita tentang kesetiaan, dakwah, dan air mata yang dikenal dengan makam Raden Supeno. Ia adalah putra Sunan Giri, yang diutus bukan membawa pedang, tapi cahaya ajaran.
Langkah demi langkah yang menapaki 109 tangga yang menjulang menuju puncak Giri Kedaton adalah seperti menyusuri guratan waktu. Tangga-tangga itu seakan bukan sekadar batu, melainkan bait-bait doa yang terpahat dari masa silam.
Di kanan-kiri, pohon-pohon mengkudu berdiri seperti para saksi bisu, menciptakan selimut sejuk yang menyelinap lembut ke dalam rongga dada. Udara di sana tidak hanya segar, ia membawa wangi sunyi, wangi suci, dan wangi kesetiaan.
Di tengah hening yang tak pernah sepi, berdiri sebuah musala kecil bernama Musala Giri Kedaton. Tempat itu lebih dari sekadar rumah ibadah, ia seperti menara penjaga keabadian, yang dengan setia mengawal pusara sang pemuda dakwah. Di serambinya, duduk seorang lelaki tua bernama Hasan, wajahnya keriput namun matanya jernih, sejernih telaga yang menyimpan riwayat panjang.
Setiap hari, Hasan datang. Bukan karena tugas, tapi karena cinta. Ia membersihkan makam, menyapu dedaunan, dan menjaga makam agar tetap suci. Di sela waktunya, ia menuturkan kisah tentang Raden Supeno, anak dari pernikahan Sunan Giri dengan Dewi Wardah, cucu dari Sunan Bungkul Surabaya. Raden Supeno, kata Hasan, ditugasi berdakwah di wilayah Beji dan sekitarnya, sebuah misi suci yang kemudian dibayar dengan nyawa.
“Ada dua versi kisah wafatnya,” sebut Hasan saat ditemui KabarBaik.co, Sabtu (18/10)
Dua jalur cerita yang sama-sama dibasahi darah pengabdian. Versi pertama, saat itu datang prajurit Majapahit yang diperintahkan membunuh Sunan Giri. Mereka gagal tetapi diampuni oleh Sunan Giri.
Namun berbekal dendam terselubung, mereka kembali dan justru merenggut nyawa putra Sunan Giri. Raden Supeno pun meninggal dan tak sempat lagi melangkah lebih jauh dalam misi dakwahnya.
Versi kedua lebih magis, seperti cerita dalam babad tua. Raden Supeno yang diperintahkan untuk bersembunyi, tergoda sosok yang menyerupai ayahnya di balik jendela. Ia melangkah dengan rindu, tapi berakhir dengan anak panah yang menyambut tubuhnya. Dan sejak saat itu, kisahnya diam, namun tetap hidup dalam napas umat.
Makamnya tak megah, tapi bersih. Sangat bersih. Seperti hatinya, barangkali. Setiap malam Jumat, dan khususnya pada malam satu Suro, peziarah datang seperti arus sungai yang tak henti mengalir. Mereka datang membawa doa, dzikir, harapan, dan mungkin juga kesedihan mereka sendiri. Di tempat ini, setiap desir angin terasa seperti bisikan masa lalu yang masih enggan pergi.
Puncak Sya’ban, minggu terakhir, menjadi waktu paling sakral. Tiga hari haul digelar oleh masyarakat Sidomukti dan Giri. Dimulai dari khatmil Quran di hari Jumat, disambung dengan hadrah yang menggema pada malam minggu, dan ditutup dengan tahlil di makam menjelang senja.
Di hari-hari itu, tanah Giri Kedaton tak hanya basah oleh embun, tapi juga oleh air mata mereka yang masih merawat cinta kepada leluhur dan dakwahnya.
Hasan, sang penjaga sunyi, menutup kisahnya dengan sebuah pesan sederhana tapi tajam, “Rawatlah sejarah. Terutama tempat-tempat yang pernah menjadi nadi peradaban Islam di Jawa.” Kata-kata itu mengalir seperti embun di ujung daun, menyiratkan harapan yang tak ingin terputus oleh zaman.
Dan di sinilah Raden Supeno berbaring. Dalam sunyi yang abadi. Dalam damai yang tak terganggu. Ia tak banyak meninggalkan jejak fisik, tapi kisahnya adalah warisan yang hidup, seperti desir angin di antara pohon mengkudu, seperti cahaya lembut yang turun dari langit Gresik setiap pagi. (*)







