KabarBaik.co– Gresik Phonska Plus Pupuk Indonesia (GPPI) sedang berada di titik yang dulu hanya jadi angan. Setelah bertahun-tahun berkali-kali jatuh di ambang juara, kini mereka berdiri paling depan. Namun justru di puncak inilah, ujian sesungguhnya dimulai.
Memasuki Proliga 2026, Gresik tampil dengan wajah baru yang jauh lebih mewah dan menyala. Kedatangan pelatih asal Italia, Alessandro Lodi, menjadi simbol keseriusan klub Jawa Timur itu mengakhiri kutukan enam kali runner up. Hasilnya langsung terasa. Hingga pekan ketiga, GPPI sudah memastikan diri sebagai juara putaran pertama, meski baru memainkan lima pertandingan.
Tak sekadar menang, Gresik menang dengan cara meyakinkan. Empat kemenangan diraih dengan skor telak 3-0, dan hanya sekali kehilangan satu set saat berhadapan dengan Jakarta Pertamina Enduro. Koleksi 15 poin membuat mereka tak terkejar Bandung BJB Tandamata, yang maksimal hanya bisa mengumpulkan 12 poin meski Gresik kalah di laga terakhir putaran pertama.
Namun, sejarah mengajarkan satu hal, dominasi awal tak selalu berujung trofi.
Musim lalu, Jakarta Popsivo Polwan mencatatkan performa nyaris sempurna di fase reguler. Tak terkalahkan di putaran pertama dengan 17 poin, lalu hanya sekali kalah di putaran kedua dengan tambahan 14 poin. Total 31 poin berhasil dikumpulkan Popsivo. Sebuah standar tinggi yang kini membayangi langkah Gresik.
Pertanyaannya, mampukah Gresik Phonska Plus melampaui atau setidaknya menyamai konsistensi luar biasa itu?
Baca juga: Pekan 4 Proliga 2026 di Gresik: Ini Jadwal Lengkap, Yuk Ramaikan GOR Tri Dharma
Jawabannya masih terbuka. Banyak faktor bisa menentukan, mulai dari kedalaman skuad, kondisi fisik dan mental pemain, hingga faktor nonteknis yang kerap muncul di fase-fase krusial. Meski secara performa terlihat trengginas sejak seri Pontianak, Medan, hingga Bandung, skuad asuhan Alessandro Lodi juga sempat beberapa kali diuji secara mental di lapangan.
Ujian berikutnya datang di waktu dan tempat yang tidak biasa. Kandang sendiri.
Pada 29 Januari hingga 1 Februari, Gresik akan menjadi tuan rumah di GOR Tri Dharma. Medi Yoku dan kawan-kawan dijadwalkan menjalani dua laga, menghadapi Jakarta Livin Mandiri (29 Januari) dan Medan Falcons (1 Februari). Di atas kertas, Gresik lebih diunggulkan. Namun justru status favorit itulah yang bisa berubah menjadi jebakan.
Jakarta Livin Mandiri pernah menjadi pesaing langsung Gresik di Proliga 2025, bahkan hanya terpaut satu poin dalam perebutan tiket final four. Sementara Medan Falcons datang tanpa beban, dengan potensi memberi kejutan jika Gresik lengah.
Baca Juga: Empat S dalam Hidup Daconi Khotob, Nahkoda Baru PT Petrokimia Gresik
Konsistensi, bukan sekadar kemenangan, kini menjadi kata kunci. Jika ingin benar-benar naik takhta dan membawa pulang trofi Proliga ke Jawa Timur untuk pertama kalinya, Gresik harus membuktikan bahwa mereka bukan hanya kuat saat mengejar, tetapi juga tangguh saat dikejar.
Di kandang sendiri, sorak penonton bisa menjadi energi—atau tekanan. Dari GOR Tri Dharma inilah, arah perjalanan Gresik menuju juara Proliga 2026 akan mulai ditentukan. (*)






