KabarBaik.co, Batu – Lima kesenian tradisional di Kota Batu menghadapi ancaman serius akibat krisis regenerasi pelaku seni. Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu mencatat banyak seniman senior kini memasuki usia tidak produktif, sementara generasi penerus belum tumbuh signifikan.
Kepala Disparta Kota Batu, Onny Ardianto, menyebut persoalan utama bukan sekadar minimnya panggung pertunjukan, melainkan berkurangnya sumber daya manusia (SDM) yang aktif terlibat dalam pementasan. “Persoalan utama yang membayangi bukan hanya ruang tampil, tetapi ketersediaan pemain. Regenerasinya sangat minim,” ujar Onny, Kamis (26/2).
Lima kesenian yang terdampak yakni Wayang Orang, Ludruk, Jaran Dowo, Gumbingan, dan Tari Sembromo. Menurut Onny, kondisi paling memprihatinkan terjadi pada Wayang Orang. Saat ini hanya tersisa satu kelompok, yakni Sasono Kridho Budoyo di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo. Namun kelompok tersebut dalam keadaan pasif karena kekurangan pemain.
“Banyak anggota sudah berkeluarga dan belum ada penerus. Akibatnya, meski sempat ditawari tampil dalam agenda rutin Padang Bulan di kawasan Arjuna Wiwaha, mereka belum bisa memenuhi kebutuhan pemain untuk satu pementasan,” jelasnya.
Ludruk pun menghadapi persoalan serupa. Meski masih bertahan melalui satu kelompok, jumlah pelaku yang terbatas membuat keberlanjutannya bergantung pada segelintir anggota yang relatif muda. Tanpa penambahan pemain baru, eksistensi kesenian ini dinilai tetap rawan.
Sementara itu, Jaran Dowo, Gumbingan, dan Tari Sembromo sebelumnya sempat berada pada fase hampir tidak dikenal publik akibat minimnya pelaku aktif. Pelatihan yang digelar tahun lalu mulai menunjukkan hasil positif, salah satunya Tari Sembromo yang mampu tampil kolosal dengan melibatkan sekitar 50 penari.
Namun demikian, capaian tersebut dinilai masih membutuhkan kesinambungan agar tidak kembali redup. Sebagai langkah antisipasi, Disparta Kota Batu kini memperkuat upaya regenerasi melalui pelatihan rutin, pendampingan sanggar, serta perluasan kegiatan ekstrakurikuler seni tradisi di sekolah-sekolah.
“Rendahnya minat generasi muda menjadi faktor dominan tersendatnya kaderisasi. Perkembangan teknologi dan pergeseran selera hiburan membuat seni tradisi kurang diminati sebagai ruang ekspresi,” tandasnya. (*)







