Makam yang Tak Tenggelam: Jejak Karomah KH Anas Al Ayubi di Tengah Lautan Lumpur Lapindo

oleh -792 Dilihat
Komplek Makam KH Anas Al Ayubi (Achmad Adi Nurcahya)

KabarBaik.co – Tragedi semburan lumpur panas Lapindo di Porong, Sidoarjo, pada 29 Mei 2006, menjadi peristiwa kelam yang tak terlupakan dalam sejarah Indonesia. Ribuan rumah, lahan, dan tempat ibadah lenyap ditelan lumpur.

Sekitar 25 ribu jiwa harus mengungsi, meninggalkan desa mereka yang kini hanya tinggal kenangan. Salah satunya adalah Desa Jatirejo, tempat berdirinya Pondok Pesantren Abil Hasan Asy Syadzily, yang kini tak lagi ada di peta.

Namun di antara hamparan lumpur yang mengeras, ada satu titik yang justru menantang logika manusia. Di tengah kawasan yang dulunya tenggelam itu, berdiri kokoh sebuah makam milik KH Anas Al Ayubi, pendiri pesantren di Jatirejo. Sementara bangunan lain hancur, makam ulama ini tetap utuh dan kini dikelilingi taman hijau yang terawat rapi.

KH Anas Al Ayubi dikenal sebagai ulama yang bersahaja, teguh dalam pendirian, dan berani berdakwah di tengah masyarakat yang saat itu belum sepenuhnya mengenal ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah. KH Anas wafat pada tahun 2003, tiga tahun sebelum bencana Lapindo datang menyapu habis seluruh kawasan Jatirejo. Namun, namanya tetap hidup lewat kisah makamnya yang seolah tak tersentuh oleh bencana.

Keberadaan makam tersebut dianggap sebagai pertanda kebesaran Allah dan simbol kekuatan iman yang tak tergoyahkan. Di saat lumpur menelan rumah-rumah warga dan fasilitas umum, makam KH Anas tetap muncul ke permukaan, seolah ingin menunjukkan bahwa cahaya spiritual tidak bisa dikubur oleh tragedi alam.

Tak lama setelah bencana terjadi, makam itu mendapat perhatian besar. Konon, pelestarian makam ini disetujui langsung oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang meminta agar makam ulama tersebut dijaga dan dijadikan tempat ziarah. Sejak saat itu, makam KH Anas menjadi destinasi religi yang ramai dikunjungi, bukan hanya oleh warga Sidoarjo, tetapi juga dari luar daerah.

Makam KH Anas Al Ayubi (Achmad Adi Nurcahya)

Kini, suasana di sekitar makam terasa meneduhkan. Di balik pemandangan bekas bencana yang kering dan retak, area makam justru tampak asri. Angin berhembus lembut, membawa kesunyian yang menenangkan. Dari kejauhan, siluet Gunung Penanggungan dan Arjuna menambah keindahan alam yang memeluk kawasan itu.

Setiap hari, puluhan peziarah datang silih berganti untuk berdoa dan mengenang jasa KH Anas Al Ayubi. Mereka bukan hanya mencari berkah, tapi juga mengambil pelajaran tentang keteguhan hati dan keikhlasan dalam menghadapi cobaan. Beberapa peziarah bahkan mengaku merasakan kedamaian batin setelah berlama-lama di tempat tersebut.

Ponidi, penjaga makam yang telah bertugas selama satu dekade, menyaksikan bagaimana makam ini menjadi pusat perhatian umat. Ia bercerita, setiap malam Jumat, puluhan santri dan jemaah datang berziarah bersama.

“Biasanya Malam Jumat itu ramai sekali, banyak yang datang membaca tahlil dan berdoa. Hari-hari biasa juga tetap ramai, walau tidak sebanyak malam Jumat,” ujarnya kepada KabarBaik.co, Sabtu (25/10).

Menariknya, para peziarah tak hanya berasal dari sekitar Sidoarjo. Banyak yang datang dari luar kota, bahkan dari luar pulau Jawa, hanya untuk berziarah ke makam ulama besar tersebut.

“Ada yang dari Kalimantan, Sulawesi, sampai Sumatera,” kata Ponidi. “Mereka biasanya mendengar cerita tentang makam ini dari media atau dari mulut ke mulut.”

Kini, di tengah sisa lumpur yang membisu, makam KH Anas Al Ayubi berdiri sebagai simbol keteguhan iman dan ketulusan pengabdian. Itu menjadi pengingat bahwa meski bencana bisa menelan tanah dan bangunan, namun tidak pernah mampu menenggelamkan warisan spiritual seorang ulama yang hidup dalam ketaatan dan keikhlasan. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Achmad Adi Nurcahya
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.