KabarBaik.co, Nganjuk – Ritual Manusuk Sima sebagai ritual sakral peringatan HUT ke 1.098 Nganjuk bukan sekadar seremonial tahunan. Melainkan sebuah mesin waktu yang mengingatkan warga Nganjuk akan jati diri dan kejayaan leluhur masyarakat Bumi Anjuk Ladang.
“Maknanya apa? Menjadi pemimpin itu ojo pelit-pelit (jangan pelit). Kalau kinerja anak buah bagus, ya berikan penghargaan. Seperti Mpu Sindok yang memberikan hadiah tanah bebas pajak kepada Mpu Anjuk Ladang,” ujar Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi. Jumat (10/4) usai ritual Manusuk Sima di Candilor, Candirejo, Loceret Nganjuk.
Sejarah mencatat penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kesetiaan dan keberanian pasukan Anjuk Ladang yang bahu-membahu bersama pasukan Medang Mataram memenangkan pertempuran melawan Kerajaan Sriwijaya. Sebagai imbalan, wilayah ini ditetapkan sebagai Tanah Perdikan (Sima), wilayah swatantra yang dibebaskan dari 12 jenis pajak.
Nama “Nganjuk” sendiri memiliki akar sejarah yang kuat. Kang Marhaen sapaan akrab Bupati Nganjuk ini menjelaskan bahwa sebutan “Anjuk Ladang” yang digunakan zaman dahulu secara perlahan bertransformasi menjadi kata “Nganjuk” yang kita kenal sekarang.
Melalui prosesi ini, para pejabat dan masyarakat diajak untuk “nyambung” kembali dengan akar sejarah mereka.
“Ayo kabeh nggowo tumpeng. Mau kecil atau besar, tumpeng apa saja boleh. Nanti kita kumpul di Alun-Alun, kita makan bersama-sama sebagai bentuk syukur warga Kabupaten Nganjuk,” pungkasnya.
Setelah sakralnya Manusuk Sima, berbeda waktu dengan kemeriahan Hari Jadi Kabupaten Nganjuk yang akan diperingati pada 6 Juni mendatang melalui prosesi Boyong yang dipadukan dengan Sedekah Bumi.
“Manusuk Sima ini kita gelar juga atas usulan dari Pak Sukadi (Sejarawan Nganjuk) ya, Kalau proses boyong sebagai peringatan perpindahan kabupaten Berbek ke Nganjuk tetap kita gelar nanti di bulan juni, ini pelurusan sejarah antara HUT Nganjuk dan boyong Kabupaten Nganjuk,” jelas Kang Marhaen. (*)






