Mengenang 7 Hari Kepergian Legenda Arema Kuncoro: Ketika Sepak Bola Menjadi Jalan Pulang

oleh -394 Dilihat
KUNCORO AREMA
Kuncoro, semasa muda. (Foto IST)

Kini, Abah Kun telah sampai di garis finisnya. Tanpa warna, tanpa tribun, tanpa sorak. Hanya damai. Dan mungkin, di sanalah sepak bola menemukan makna paling sejatinya.

TUJUH  hari telah berlalu sejak Stadion Gajayana berhenti sejenak dari hiruk-pikuknya. Lapangan hijau yang biasanya dipenuhi sorak, tawa, dan nostalgia, pada Minggu (18/1) lalu, berubah menjadi ruang hening yang menyimpan duka. Di sanalah Kuncoro—Abah Kun—menutup perjalanan panjangnya dalam sepak bola Indonesia.

Laga charity memperingati 100 tahun Stadion Gajayana sejatinya adalah perayaan. Ajang silaturahmi para legenda Malang, pertemuan orang-orang yang pernah berlari di lapangan yang sama, mengejar bola dan mimpi. Kuncoro pun hadir, bahkan sempat tampil di babak pertama.

Geraknya mungkin tak lagi secepat masa muda, tetapi semangatnya tetap utuh—seperti anak Malang yang tak pernah benar-benar pergi dari sepak bola.

Namun takdir berjalan dengan caranya sendiri. Seusai meninggalkan lapangan, Kuncoro mendadak kolaps di bangku cadangan. Pertandingan dihentikan. Waktu seolah terlipat. Upaya medis dilakukan secepat mungkin, namun Tuhan memanggilnya pulang di tempat yang sangat ia kenal. Stadion yang dulu menjadi awal kariernya, kini menjadi saksi akhir perjalanannya.

Dari Arema, Merantau ke Surabaya, Lalu Kembali

Lahir di Malang pada 7 Maret 1973, Kuncoro memulai karier profesionalnya bersama Arema sejak 1991 di era Galatama. Lima tahun mengabdi, memainkan banyak peran. Bek kanan, stopper, hingga gelandang bertahan. Ia bukan pemain yang gemar mencari sorotan, tetapi selalu menjadi jawaban ketika tim membutuhkan kestabilan.

Pada pertengahan 1990-an, Kuncoro mengambil langkah penting dalam hidupnya. Merantau ke Kota Pahlawan Surabaya. Bergabung dengan Mitra Surabaya selama satu musim. Di kota yang identik dengan rivalitas panas dan fanatisme kuat, Kuncoro belajar satu hal penting bahwa sepak bola lebih besar dari sekadar warna jersey.

Di Surabaya, Kuncoro bukan “Kera Ngalam” atau “orang luar”. Dia adalah pesepakbola. Bekerja, berlatih, dan bertanding bersama rekan-rekan barunya. Di sanalah karakter Kuncoro semakin matang bahwa lapangan hijau adalah ruang persaudaraan, bukan medan permusuhan.

Perjalanan membawanya kembali berkelana ke klub-klub besar lain. Mulai Persija Jakarta, PSM Makassar, Persik Kediri, hingga berbagai tim daerah. Namun, pada 2010, takdir kembali membawanya ke Surabaya. Kuncoro mengakhiri karier profesionalnya bersama Green Force di Divisi Utama.

Sebuah penutup yang sunyi namun bermakna. Mantan pemain Arema, yang pernah memperkuat Mitra Surabaya, justru gantung sepatu di Persebaya, klub dengan rivalitas historis yang panjang. Seolah hidup Kuncoro ingin mengatakan bahwa sepak bola tak pernah tentang kebencian, ia tentang perjalanan.

Setia Tanpa Banyak Bicara

Selepas pensiun, Kuncoro memilih jalan pulang. Bukan ke panggung besar, bukan ke klub lain. Dia kembali ke Arema pada 2012 sebagai asisten pelatih. Sejak saat itulah, hidupnya nyaris menyatu dengan Singo Edan.

Kuncoro tak pernah mengejar jabatan pelatih kepala. Namun, saat Arema goyah, namanya selalu disebut. Berkali-kali dipercaya menjadi caretaker, menenangkan ruang ganti, meredam gejolak, menjaga agar kapal tetap berlayar. Kesetiaannya tak tercatat di papan skor, tetapi hidup di ingatan banyak pemain yang pernah ia dampingi.

Humoris, tegas, dan setia kawan. Itulah Kuncoro bagi mereka yang mengenalnya dekat.

Kepergian Kuncoro mesti menjadi cermin. Dia pernah membela Arema, Mitra Surabaya, dan Persebaya. Dia dicintai di Malang, pernah bekerja di Surabaya, dan dihormati di banyak kota. Hidupnya adalah bukti bahwa sepak bola tak pernah meminta kita saling membenci.

Rivalitas seharusnya berhenti di peluit akhir. Fanatisme seharusnya berhenti sebelum berubah menjadi kebutaan. Karena pada akhirnya, semua pemain berjalan di lapangan yang sama, menghirup udara yang sama, dan pulang dengan tubuh yang sama lelahnya.

Kuncoro telah pergi, tetapi dia seperti meninggalkan pesan tanpa kata bahwa sepak bola adalah ruang persaudaraan. Tempat manusia belajar menang tanpa merendahkan, kalah tanpa membenci, dan mendukung tanpa kehilangan kemanusiaan.

Kini, Abah Kun telah sampai di garis finisnya. Tanpa warna, tanpa tribun, tanpa sorak. Hanya damai. Dan mungkin, di sanalah sepak bola menemukan makna paling sejatinya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.