Menghidupkan Narasi Humas di Era Digital, Mengapa Kerangka LATED Penting untuk Pemerintah?

oleh -506 Dilihat
I Gede Alfian Septamiarsa

Di tengah derasnya arus informasi hari ini, pekerjaan humas pemerintah tidak lagi sesederhana menyebarkan rilis atau mengunggah poster layanan publik. Narasi kita diuji bukan hanya oleh kecepatan media sosial, tetapi oleh trust publik yang semakin mahal. Masyarakat tidak lagi percaya hanya karena kita bilang “program ini baik”. Mereka ingin melihat konteks, memahami proses, dan merasakan kehadiran pemerintah secara manusiawi.

Justru di titik inilah saya merasa formula LATED (Location, Action, Thought, Emotion, Dialogue) yang digagas kreator konten Agus Halim bukan sekadar teknik menulis, tetapi kerangka berpikir yang membantu humas merangkai cerita yang lebih hangat, hidup, dan dekat dengan warga. Hal tersebut diharapkan bisa menjadi solusi praktis untuk mengubah komunikasi yang formal menjadi narasi lebih manusiawi, emosional, dan berdampak.

Apa sih sebenarnya LATED itu?

1. Location: Mengajak Publik Masuk ke Dalam Cerita

Sering kali, rilis pemerintah terasa seperti “pengumuman.” Jaraknya jauh, nadanya datar. Padahal, sentuhan tempat dan waktu saja bisa membuat pesan terasa nyata.

Saat kita menuliskan “Pagi itu di Krian, antrian ibu-ibu sudah mengular jauh sebelum tenda Pasar Murah dibuka”, publik langsung diajak hadir dalam konteks. Mereka bisa membayangkan suasananya, merasakan relevansinya.

Narasi bukan hanya apa yang kita sampaikan, tapi ruang yang kita ciptakan agar publik mau masuk.

2. Action: Pemerintah Harus Tampak Bergerak, Bukan Sekadar Bicara

Cerita menjadi hidup ketika kita menggambarkan tindakan.
Bukan “Pemprov Jatim menyalurkan bantuan”, tetapi:

“Para kader menenteng kotak PMT menuju rumah balita, memastikan satu per satu anak terpenuhi gizinya.”

Di era video pendek dan visual storytelling, elemen action sangat penting untuk menunjukkan pemerintah hadir, bukan sekadar hadir dalam kata-kata.

3. Thought: Perspektif yang Menguatkan Makna

Saya percaya bahwa pekerjaan humas adalah meramu makna dari sebuah data.
Angka-angka memang penting, tetapi tanpa perspektif, ia hanya deretan statistik.

Formula LATED mengingatkan kita bahwa narasi yang kuat lahir dari sudut pandang.
Mengapa program ini penting? Apa tantangannya? Apa nilai yang ingin dibangun?

Ketika pemerintah menjelaskan “kenapa”, publik lebih mudah menerima “apa” dan “bagaimana.”

4. Emotion: Sentuhan Manusia yang Membuat Pesan Melekat

Boleh saja program pemerintah dirancang dengan struktur teknokratik yang rapi. Namun, publik tergerak oleh rasa, bukan angka.

Emotion dalam narasi bukan berarti melodrama. Cukup menggambarkan apa yang dirasakan warga, tenaga kesehatan, guru, nelayan, atau siapa pun yang menjadi bagian dari cerita.

Contoh sederhana:

“Mimik lega seorang ibu saat beras murah sampai di tangannya jauh lebih kuat dari seribu kalimat teknis soal inflasi.”

Inilah yang saya sebut human-centered storytelling.

5. Dialogue: Kutipan Autentik Menghidupkan Narasi

Dialog membuat cerita lebih kredibel dan hidup. Bukan sekadar “Gubernur meninjau”, tetapi:

“Bu, harganya benar-benar lebih murah ya?” tanya Gubernur Khofifah sambil tersenyum ketika menyapa warga Benowo.”

Dialog memecah jarak birokrasi.
Menunjukkan bahwa ada manusia yang berbicara kepada manusia lain.

Mengapa LATED Penting bagi Humas Pemerintah Hari Ini?

Karena pemerintah berada dalam masa di mana legitimasi dibangun oleh trust, bukan hanya prosedur, narasi harus menggerakkan, bukan sekadar menginformasikan, publik ingin melihat kehadiran pemerintah secara nyata, bukan administratif.

Komunikasi harus mengedepankan empati, bukan sekadar retorika. Humas membutuhkan formula yang membuat data terasa hidup, kebijakan terasa dekat, dan kehadiran pemerintah terasa nyata. Di situlah LATED memainkan peran.

Bagi saya, LATED adalah jembatan antara struktur kebijakan dan cerita manusia. Dan hari ini, narasi kemanusiaan adalah jantung dari komunikasi publik.

Penutup: Dari Data Menjadi Cerita, Dari Program Menjadi Makna

Pada akhirnya, tugas humas bukan hanya menyusun kalimat.
Tugas kita adalah menyampaikan makna.

Narasi yang baik bukan hanya membuat publik mengerti, tetapi juga membuat mereka merasa dihargai, didengarkan, dan dilibatkan.

Jika humas ingin menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat, maka kerangka LATED adalah salah satu alat yang bisa membantu kita bekerja dengan lebih manusiawi, strategis, dan berdampak.

Aktivitas komunikasi yang bisa dibilang efektif, saat kita punya lawan bicara memahami konteks dan intisari dari apa yang kita komunikasikan.

Karena pada akhirnya, setiap program pemerintah bukan hanya tentang angka,
tetapi tentang manusia yang hidup di baliknya.

 

*Penulis adalah seorang Pranata Humas Ahli Muda Biro Administrasi Pimpinan Setda Prov. Jatim.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: I Gede Alfian Septamiarsa
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.