Merawat Identitas Lewat Seni, Pameran Budaya di Jombang Tampilkan Ludruk hingga Wayang Topeng

oleh -376 Dilihat
WhatsApp Image 2026 04 01 at 12.45.03 PM
Pengunjung menikmati pameran “Cagar Budaya, Aksaragata, dan Seni Visual” di Aula Disdikbud Jombang (istimewa)

KabarBaik.co, Jombang — Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jombang menjadi ruang pertemuan antara seni visual kontemporer dan kekayaan budaya lokal.

Pameran bertajuk “Cagar Budaya, Aksaragata, dan Seni Visual” ini resmi dibuka dan akan berlangsung hingga 2 April 2026.

Mengusung kolaborasi dua fotografer dengan latar belakang berbeda, Sofan Kurniawan (Sofanka) dan Luhur Wahyu Wijaya, pameran ini menghadirkan perspektif yang kontras namun saling melengkapi dalam mengangkat tema budaya dan identitas.

Sofan Kurniawan, alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, menampilkan karya berjudul “Travesti: Dialektika Tubuh dan Perlawanan”.

Melalui karya tersebut, ia mengangkat fenomena travesti dalam kesenian ludruk, yakni laki-laki yang memerankan tokoh perempuan.

Lewat bidikan kameranya, Sofan melihat tubuh sebagai ruang ekspresi sekaligus simbol perlawanan dalam konteks sosial.

“Ini merupakan bagian dari perjalanan sejarah ludruk yang sempat mengalami pembatasan pada masa Orde Baru karena dianggap kritis, sebelum akhirnya kembali berkembang di tengah masyarakat,” ujarnya, Rabu (1/4).

Sementara itu, Luhur Wahyu Wijaya menghadirkan karya bertema “Wayang Topeng Jatiduwur: Nafas Lama dalam Tubuh Baru”.

Selain berprofesi sebagai aparatur sipil negara di lingkungan Pemkab Jombang, Luhur juga aktif sebagai pegiat fotografi budaya.

Melalui karyanya, ia berupaya mendokumentasikan keberlangsungan kesenian tradisional agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

“Wayang topeng Jatiduwur kami tampilkan sebagai representasi tradisi yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya,” kata Luhur.

Tak hanya menampilkan foto dan lukisan, pameran ini juga menghadirkan artefak arkeologi serta ragam aksara nusantara klasik yang jarang diperlihatkan kepada publik.

Pengunjung diajak menelusuri jejak sejarah sekaligus memahami nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Salah satu pengunjung, Saskia, mengaku mendapatkan banyak wawasan dari pameran tersebut.

“Pameran ini jadi sarana literasi, baik secara visual maupun tekstual. Banyak hal yang bisa dipelajari,” ujarnya.

Pameran ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati perpaduan seni dan budaya dalam satu ruang, sekaligus mengenal lebih dekat kekayaan cagar budaya lokal sebelum resmi ditutup pada 2 April 2026. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.