Panggilan Langit

oleh -72 Dilihat
HUD HAJI
Penulis M. Sholahuddin (duduk kanan bawah) saat menjadi PPIH bagian MCH pada tahun 2013.

Saudara pembaca yang budiman, sebuah perjalanan spiritual monumental, ibadah haji, bukan hanya sekadar ritual. Di dalamnya tersemat lautan hikmah, pelajaran hidup yang mendalam, dan jejak sejarah para nabi yang menggetarkan jiwa. Kali ini, tim redaksi menghadirkan sebuah perspektif yang unik dan personal dari Tanah Suci.

Melalui lensa Pemimpin Redaksi KabarBaik.co yang pernah berkesempatan menunaikan rukun Islam kelima ini, kita akan diajak menyelami setiap detik perjalanan. Bukan hanya sekadar laporan faktual, namun juga refleksi batin, pergulatan emosi, dan penemuan-penemuan spiritual yang dialami langsung di tengah jutaan umat dari seluruh penjuru dunia.

Setiap harinya, Anda akan disuguhkan catatan-catatan perjalanan yang tidak hanya informatif. Namun, juga inspiratif. Kita akan bersama-sama merasakan keharuan saat pertama kali menatap Ka’bah, khusyuknya wukuf di Arafah, semangat melempar jumrah, hingga tawaf perpisahan yang sarat makna. Lebih dari itu, kita akan menggali hikmah di balik setiap rangkaian ibadah, mencoba memahami pesan-pesan universal yang terkandung di dalamnya.

Selain itu, ada berita regular dan kabar-kabar terkini seputar haji. Rubrik Berhaji ini hadir sebagai jendela bagi Anda untuk turut merasakan atmosfer spiritual Tanah Suci, memahami lebih dalam makna ibadah haji, dan mungkin, terinspirasi untuk suatu saat menjejakkan kaki di sana. Ikuti terus rubrik Berhaji hanya di KabarBaik.co. Selamat membaca!

Menjemput Langit dari Jalanan Surabaya (1)

Tahun 2013 adalah tahun yang mungkin bagi banyak orang biasa saja. Angka yang tak terlalu istimewa di kalender, dan sore itu pun bukan sore yang tampak mencurigakan. Langit Surabaya teduh dalam wajah biasa-biasa saja. Seolah semesta tengah menikmati rutin kepadatannya. Namun bagi saya, hari itu adalah ketika langit turun lebih dekat ke bumi, menyapa saya bukan dari langit-langit masjid atau mimbar ceramah, melainkan dari getaran telepon genggam di tengah jalanan kota.

Saya sedang menunggang sepeda motor, menyusuri jalur menuju Graha Pena Surabaya. Kantor di mana tempat saya belajar sekaligus mengais rezeki. Angin sore mengibaskan kerah baju saya, aroma aspal bercampur dengan asap kendaraan yang menempel di dedaunan pinggir jalan. Sebuah panggilan telepon masuk. Suara dari seberang sana adalah suara yang saya kenal baik, seorang staf sekretaris redaksi. Bukan suara yang biasa membawa berita besar. Tapi, kali ini—entah kenapa—ada desau lain dalam suaranya. Ia berkata singkat. “Sampeyan diminta segera menyiapkan diri untuk haji, ikut mendaftar sebagai MCH (media center haji).”

Kalimat itu, sederhana. Tapi maknanya seperti petir yang menyambar kepala tanpa mendung. Sejenak bahkan saya lupa sedang berkendara. Langit rasanya turun, menyelimuti tubuh saya yang mendadak hangat oleh ketakpercayaan. Benarkah? Saya wartawan. Saya penulis berita, bukan penulis takdir. Saya bukan siapa-siapa. Tapi sore itu, saya diundang untuk menjadi bagian dari peristiwa spiritual terbesar umat manusia.

Motor saya pacu lebih cepat. Saya seperti hendak mengejar sesuatu yang tak terlihat. Mungkin waktu. Mungkin takdir. Mungkin hanya ingin memastikan dunia belum gila dengan benar-benar menyentuh realitas dengan tangan saya sendiri. Sesampainya di kantor, semuanya nyata. Benar. Surat undangan itu memang ada. Berkop Kemenag. Memang bukan nama saya yang tercantum. Kepadanya atasan saya. Pemimpin redkasi. Entah dengan pertimbangan apa nama itu berubah. Saya tidak bertanya. Mungkin memang ada tangan tak terlihat yang lebih dulu menuliskan nama saya di daftar tamu Allah.

Saya hanya anak kampung. Terlahir dari rahim ibu yang sederhana, dibesarkan oleh seorang ayah yang lebih banyak menanam harapan di ladang tambak bandeng dan di ruang-ruang madrasah. Kami hidup dengan cukup. Tidak lebih, tidak kurang. Ketika saya membawa kabar itu kepada ibu, matanya seperti genangan embun yang tak mampu menampung sinar matahari. Ia menangis. Tangis bahagia. Tangis syukur. Sayang, ayah telah lebih dulu kembali ke pangkuan tanah dua tahun sebelumnya. Tapi, saya tahu, dalam diamnya, kabar ini sampai juga ke telinganya.

Di sana, di ruang sunyi yang tak bersuara, saya percaya ayah tersenyum. Itulah mungkin satu di antaranya doa-doanya ketika ibadah haji pada 1998 silam. Anak-anaknya mesti berangkat juga ke Tanah Suci.

Perjalanan menuju haji bukan hanya tentang mengurus paspor dan vaksin meningitis. Ini adalah perjalanan menanggalkan ego, menundukkan ambisi, dan membiarkan diri dibimbing oleh hal-hal yang lebih besar dari nalar manusia.

Saat saya duduk di kantor, mulai mengisi formulir demi formulir, saya seperti sedang membuka pintu-pintu yang selama ini tertutup rapat. Tak ada yang saya lakukan untuk ‘layak’ mendapat panggilan ini, selain menjadi diri sendiri—menjalani profesi saya dengan jujur, menulis dengan hati, dan bekerja tanpa pamrih.

Mungkin, haji bukan tentang siapa yang mampu membayar lebih dulu, tapi siapa yang hatinya telah siap lebih dulu.

Ada sesuatu yang aneh ketika seseorang tiba-tiba dipanggil untuk ke Tanah Suci. Seolah semesta sedang mengisyaratkan sesuatu. Seperti ditarik dari arus sungai dan ditempatkan di tengah lautan hikmah. Sering kali, yang dipanggil bukan yang paling rajin berdoa, bukan pula yang paling suci hidupnya. Tapi justru mereka yang diam-diam menjaga harapan, menyulam iman dalam sunyi, dan bersandar pada ketidakpastian hidup dengan tenang.

Saya menatap nama saya di surat tugas itu. Rasanya seperti melihat diri saya dari tempat yang sangat jauh. Saya yang dulu berjalan kaki ke madrasah. Saya yang membantu ayah di tambak. Saya yang mengirim naskah lewat disket. Sekarang akan berdiri di hadapan Ka’bah, mengabarkan berita bukan tentang dunia, tapi tentang jiwa.

Haji adalah perjalanan ke dalam. Ia dimulai dari langkah-langkah kaki, tapi akhirnya adalah pencapaian nurani. Dalam pesawat menuju tanah haram, saya merasa seperti sedang melakukan lompatan ke dimensi yang berbeda. Pakaian ihram tidak sekadar kain putih. Ia adalah bendera jiwa yang menyerah. Ia melepas pangkat, profesi, status, dan ambisi. Ia membiarkan kita telanjang di hadapan misteri, dan hanya membawa satu bekal: keikhlasan.

Menjadi wartawan di tanah suci pun bukan seperti menjadi wartawan biasa. Saya tidak lagi memburu berita politik, korupsi, atau sensasi. Saya mencatat air mata orang-orang yang mencium Hajar Aswad. Saya merekam wajah-wajah renta yang berjalan dengan kaki bengkak demi menyempurnakan thawaf. Saya memotret peluk haru antara suami-istri yang entah untuk kali keberapa mengulang doa yang sama. Dan di antara semua itu, saya bertanya dalam hati: Apa yang sedang saya lakukan di sini?

Saya bukan nabi. Saya bukan ulama. Tapi saya diundang untuk menyaksikan kisah-kisah kecil yang luar biasa. Dan itulah yang saya catat. Di antara ribuan kilatan kamera dan sorotan lampu, saya menemukan cahaya yang paling terang justru dalam sunyi. Dalam malam-malam di Muzdalifah. Dalam tenda panas di Mina. Dalam kerikil-kerikil kecil yang dilempar ke dinding jumrah—simbol pemberontakan kita terhadap nafsu sendiri.

Ketika saya kembali ke Indonesia, tubuh saya kembali. Tapi jiwa saya tertinggal di sana. Di lorong-lorong masjid Nabawi, di jalanan Makkah yang berdebu, di wajah seorang tua yang menangis ketika tak bisa menyelesaikan thawafnya. Saya kembali membawa oleh-oleh yang tidak dijual di toko: rasa syukur yang meruah, rasa kecil di hadapan semesta, dan keyakinan bahwa hidup ini bukan tentang cepat atau lambat, tapi tentang tepat.

Saya sadar, panggilan itu bukan prestasi. Tapi juga bukan kebetulan. Ia adalah tanda, bahwa kadang kita dipilih bukan karena kehebatan kita, tapi justru karena kelemahan kita. Karena di sanalah Allah menunjukkan bahwa kasih sayang-Nya melampaui logika.

Saya masih wartawan. Tapi saya tidak lagi sama. Saya masih menulis berita. Tapi saya tahu, setiap kata bisa menjadi doa. Setiap kalimat bisa menjadi benih pahala. Saya masih anak kampung. Tapi saya tahu, langit bisa saja mampir ke jalanan Surabaya, membisikkan takdir melalui getaran telepon yang sederhana.

Dan mungkin, seperti saya, kamu pun akan tahu: bahwa terkadang, panggilan langit tidak datang melalui suara petir. Tapi melalui suara lirih, yang datang ketika kamu sedang tidak bersiap.

Itulah saat ketika semesta memintamu menjemput langit. (Bersambung)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.