KabarBaik.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Batu terus mendorong pembangunan pariwisata yang berkelanjutan di tengah tekanan degradasi lingkungan, kemacetan, dan stagnasi ekonomi lokal. Sejumlah pemangku kepentingan lintas sektor dikumpulkan dalam sebuah forum diskusi untuk menyusun strategi kolaboratif guna mengarahkan pembangunan pariwisata yang lebih sehat dan berdaya tahan.
Diskusi bertajuk “Jejaring, Kebijakan, dan Kolaborasi Investasi Pariwisata yang Berkelanjutan” ini digelar di halaman Balai Kota Among Tani, Sabtu (2/8). Kegiatan ini sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Batu Bisnis Festival 2025 dan Jambore Desa Wisata Kota Batu yang diprakarsai Dinas Pariwisata Kota Batu
Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, menegaskan pentingnya menggali potensi lokal sebagai fondasi pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Ia memperkenalkan pendekatan One Village, One Destination, yakni konsep pengembangan desa wisata berbasis potensi khas di tiap wilayah.
“Kami ingin wisata di Batu bukan sekadar tempat singgah, tapi menjadi ruang pembelajaran dan pertumbuhan. Produk pertanian harus naik kelas, tidak sekadar dijual mentah, tetapi diolah dan bernilai ekspor,” ujar Heli.
Heli juga menekankan pentingnya menggali potensi destinasi baru seperti wisata olahraga dan wisata petik buah, yang selama ini belum tergarap secara maksimal.
Sementara itu, Kepala Kejaksaan Negeri Batu, Andy Sasongko, menyoroti pentingnya kepastian hukum dan kemudahan perizinan untuk mendukung tumbuhnya investasi di sektor pariwisata.
“Berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 2021, kejaksaan berperan dalam mengamankan investasi. Kami siap mendampingi secara hukum dan mendorong percepatan izin agar investor merasa nyaman,” jelas Andy.
Menurut Andy, kepastian hukum akan memberikan dampak positif terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan keberlanjutan program pembangunan pariwisata.
Dalam kesempatan yang sama, Kapolres Batu AKBP Andi Yudha Pranata mengungkapkan langkah-langkah konkret yang telah diambil untuk mengurai kemacetan salah satu persoalan utama sektor wisata Kota Batu.
“Kami menerapkan analisis berbasis data, seperti menghitung okupansi hotel mingguan dan memprediksi arus kendaraan. Jika dibutuhkan, kami terapkan rekayasa lalu lintas seperti sistem satu arah,” ujarnya.
Langkah ini dinilai cukup efektif, khususnya saat Operasi Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta Lebaran, dalam mengurangi kepadatan lalu lintas di kawasan wisata utama Kota Batu.
Forum diskusi ini diharapkan dapat menjadi titik awal terbentuknya kebijakan bersama lintas sektor, yang menjadikan pariwisata sebagai lokomotif pembangunan daerah tanpa mengorbankan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal. (*)







