KabarBaik.co– Sejumlah petani di Kelurahan Kepanjenkidul, Kota Blitar, mempertanyakan pembangunan Sekolah Rakyat yang mulai dikerjakan di atas lahan bengkok.
Salah satu petani, Shodiq Asyhari, menyebut bahwa lahan tersebut belum sepenuhnya bebas dari garapan petani, namun aktivitas pengeboran sudah dilakukan di lokasi.
“Tanah itu belum bebas dari petani. Kami memang sudah dijanjikan relokasi, tapi sampai sekarang belum ada kepastian. Tiba-tiba sudah mulai dilakukan pengeboran,” ujar Shodiq, Senin ( 10/11).
Ia menambahkan, para petani sebenarnya hanya meminta agar tetap diberikan lahan pengganti untuk digarap, sebagaimana hak mereka selama ini. Namun, dalam proses sosialisasi sebelumnya, ia menilai pertemuan tidak melibatkan dinas terkait secara lengkap.
“Waktu sosialisasi kemarin, yang hadir hanya perangkat kelurahan. Padahal, seharusnya ada perwakilan dari Dinas PUPR dan Dinas Pertanian,” katanya.
Menurut Shodiq, pembangunan sekolah tersebut rencananya berada di belakang Kantor Urusan Agama (KUA) Kepanjenkidul, di atas lahan bengkok seluas kurang lebih lima hektare. Ia berharap pemerintah memberikan relokasi yang sesuai aturan agar petani tidak kehilangan lahan garapan.
Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Kota Blitar Erna Santi, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, membenarkan bahwa status lahan tersebut masih dalam tahap pembahasan.
“Terkait tanah itu masih kami bahas dalam rapat dengan kementerian terkait,” ujarnya.(*)







