KabarBaik.co, Jember – Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Diskop UKM) serta Perdagangan Kabupaten Jember mematangkan strategi revitalisasi pasar tradisional. Program ini akan difokuskan pada dua pilar utama: modernisasi sarana prasarana (sarpras) dan inovasi sistem pengelolaan.
Sekretaris Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan Kabupaten Jember, Wiwik Supartiwi, menjelaskan bahwa perbaikan fisik merupakan prioritas utama demi menciptakan lingkungan belanja yang nyaman dan menarik bagi masyarakat.
“Revitalisasi yang kami lakukan mencakup dua aspek, yakni dari sisi sarana prasarana (sarpras) dan dari sisi sistem pengelolaannya,” ujar Wiwik, Jumat (10/4).
Ia menyebutkan bahwa peningkatan target pendapatan daerah diharapkan mampu memperkuat alokasi anggaran untuk merenovasi pasar-pasar yang kondisinya sudah tidak layak. Dengan fasilitas yang lebih baik, kios-kios yang sebelumnya terbengkalai diharapkan dapat kembali fungsional.
“Jika target pendapatan meningkat, akan ada pengembalian anggaran untuk perbaikan sarpras bagi pasar-pasar yang sudah waktunya direnovasi,” jelasnya.
Salah satu proyek strategis yang menjadi sorotan di tahun 2026 adalah Pasar Tanjung. Pemkab Jember telah mengusulkan revitalisasi pasar tersebut ke Kementerian Pekerjaan Umum (PU) agar bertransformasi menjadi pasar tradisional yang modern, aman, dan nyaman.
Selain fisik, Pemkab Jember juga mendorong perubahan pola pikir dalam pengelolaan pasar agar mampu bersaing di era digital. Beberapa langkah inovatif yang disiapkan.
“Kami melakukan pelatihan digital hingga menghidupkan kembali pasar yang sepi dengan konsep tematik atau memiliki ikon tertentu,” kata Wiwik.
“Kami ingin pasar memiliki daya tarik unik. Misalnya di Pasar Tegalboto, ke depan bisa dikembangkan menjadi pusat transaksi dengan tema tertentu agar pedagang dan pembeli kembali berminat datang,” imbuhnya.
Pemerintah daerah juga menyoroti fenomena pergeseran perilaku pedagang yang kini lebih memilih berjualan dari rumah dengan jam operasional 24 jam. Meski belum memiliki data statistik yang pasti mengenai jumlah pedagang yang beralih ke tren ini, Wiwik menegaskan bahwa fenomena tersebut menjadi masukan berharga bagi pemerintah.
“Fenomena ini memang ada. Hal tersebut menjadi tantangan sekaligus masukan bagi kami untuk mendorong pasar tradisional agar bisa mengadopsi pola fleksibilitas serupa agar tetap relevan,” pungkasnya. (*)






