Salurkan Energi Bersih di Kepulauan Berpasir Putih

oleh -44 Dilihat
WhatsApp Image 2024 10 30 at 18.54.17
Anak-anak remaja menggunakan motor dan sepeda listrik saat menghabiskan waktu di salah satu tempat di Pulau Sapeken, Sumenep, Madura, Jawa Timur, Rabu (30/10). (Foto: Hairul Faisal)

KabarBaik.co – Sejak setahun terakhir motor dan sepeda listrik terus membanjiri jalanan Pulau Sapeken, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Berbagai model dan warna setiap saat mengisi sudut-sudut pulau. Pria dan wanita satu persatu meliriknya. Mulai usia muda hingga dewasa dan orang tua.

Menggunakan sepeda dan motor listrik telah menjadi tren kekinian yang digandrungi oleh hampir semua lapisan masyarakat di wilayah kepulauan terluar dan terpencil di Madura itu. Ternyata banyak faktor yang membuat masyarakat setempat memilih beralih dari kendaraan konvensional berbahan bakar fosil seperti bensin ke kendaraan listrik. Salah satunya karena alasan ekonomi.

Sayyidah Alifah, 37, misalnya. Pemilik salah satu minimarket di Pulau Sapeken itu lebih memilih menyiapkan dua sepeda listrik sebagai inventaris untuk dua orang karyawannya dibandingkan sepeda motor konvensional. Dia memilih sepeda listrik karena dengan kendaraan tersebut dia tak perlu lagi membeli BBM.

Menurut perempuan yang akrab disapa Lipah itu, sebelum menggunakan sepeda listrik seperti sekarang, dia menyediakan sepeda motor konvensional berbahan bakar bensin sebagai inventaris untuk dua orang karyawannya. Minimal dia harus menyediakan uang Rp 50.000 untuk membeli BBM sepeda motor yang bisa digunakan selama seminggu.

“Sekarang dengan sepeda listrik operasional mereka sangat jauh lebih hemat. Saya nggak perlu mikiran BBM lagi. Mereka tinggal cash di rumah mereka masing-masing yang tarif listriknya nggak seberapa,” tutur Lipah, Selasa (29/10).

Selain alasan ekonomi, Lipah menyediakan sepeda listrik untuk dua karyawannya juga karena alasan kesehatan. Dia menyadari bahwa bekerja di minimarket yang banyak diam membutuhkan aktivitas fisik di luar jam kerja. Karena itu, dia berulang kali mengingatkan agar dua karyawannya yang juga perempuan sesekali mengayuh pedal sepeda listrik mereka.

“Misalnya saat pulang kerja dari toko ke rumah. Kan nggak ada yang diburu-buruin juga untuk sampai rumah. Jadi, mending manfaatkan waktu pulang untuk berolahraga (mengayuh pedal sepeda listrik),” ujar Lipah.

Tak hanya karyawan minimarket, sepeda listrik juga berhasil menaklukkan hati salah satu pelajar di Pesantren Abu Hurairah Sapeken, Petty Sabrin. Sebelum penggunaan sepeda listrik booming seperti sekarang, santri kelas III MTs (setingkat SMP) itu setiap harinya berangkat dan pulang dari pesantren menggunakan sepeda motor konvensional.

Meski awalnya hanya ikut-ikutan melihat beberapa temannya menggunakan sepeda listrik, namun belakangan dia merasakan manfaatnya. “Banyak sekali (manfaatnya menggunakan sepeda listrik). Salah satunya uang saku nggak berkurang untuk beli BBM,” ucap Petty lantas tertawa.

WhatsApp Image 2024 10 30 at 18.59.44
Beberapa unit sepeda listrik terparkir di salah satu minimarket di Pulau Sapeken. (Foto: Hairul Faisal)

Petty bersama teman-temannya juga biasanya menggunakan sepeda listrik untuk refreshing di sekitar pantai dan dermaga Pulau Sapeken saat sore hari. Menikmati udara pulau dan suasana senja yang dipadu dengan hamparan pasir putih merupakan perpaduan sempurna menutup hari sebelum melanjutkan aktivitas malam di pesantren.

Harganya yang tidak semahal sepeda motor konvensional membuat beberapa temannya meminta dibelikan sepeda listrik pada orang tuanya. “Untuk menikmati keindahan Pulau Sapeken secara sempurna itu harganya terasa semakin murah (dengan adanya sepeda listrik),” kata Petty lalu kembali tertawa.

Pengguna sepeda dan motor listrik di Pulau Sapeken dan pulau-pulau sekitarnya memang mengalami pertumbuhan signifikan dalam setahun terakhir. Termasuk di kalangan remaja. Hery Azhar, 40, salah seorang pemilik toko sepeda dan motor listrik di Sapeken menyatakan, dalam sebulan minimal dia bisa menjual 10 unit sepeda maupun motor listrik.

Peredaran sepeda dan motor listrik di pulau yang hanya seluas sekitar 3 kilometer itu semakin marak karena tiga toko lain juga tak kalah ramai diserbu pembeli. “(Kalau di toko saya) kurang lebih 10 unit (perbulan),” jelas Hery bangga karena Pulau Sapeken merupakan salah satu pulau terpencil dan terluar di Jawa Timur.

Kolaborasi Wujudkan Lingkungan Sehat

PLN memang terus mendorong pertumbuhan dan peralihan dari kendaraan konvensional ke kendaraan berbasis listrik yang ramah lingkungan. Dikutip dari laman resmi PLN, pln.co.id, salah satu langkah yang dilakukan perusahaan pelat merah itu adalah membangun infrastruktur kendaraan listrik seperti Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU).

Hingga semester I tahun 2024, PLN telah mengoperasikan total 1.582 SPKLU, 2.182 SPBKLU, dan home charging sebanyak 14.524. Dirut Utama PLN Darmawan Prasodjo menyatakan, pihaknya akan terus berkomitmen memberikan pelayanan terbaiknya untuk mendukung transisi energi di sektor transportasi.

Dengan cara itu masyarakat semakin yakin untuk beralih dan merasakan secara langsung mudahnya menggunakan kendaraan listrik. “Semakin banyak masyarakat yang beralih ke kendaraan listrik, semakin cepat juga kita mencapai net zero emissions pada tahun 2060 mendatang,” tegas Darmawan dalam rilis resmi perusahaan yang dimuat di pln.co.id pada 1 Agustus 2024 lalu.

Executive Vice President Pelayanan Pelanggan Retail PLN, Tonny Bellamy, menambahkan dalam rilis resmi PLN yang lain. Menurutnya, saat ini penggunaan kendaraan listrik menjadi pilihan strategis karena masyarakat turut serta dalam mengurangi emisi karbon di Indonesia. Selain itu, keuntungan yang didapat setelah beralih menggunakan kendaraan listrik adalah dapat menghemat biaya operasional hampir 80 persen.

“Perbandingannya cukup jauh. Dengan asumsi tarif listrik Rp 1.699 per kilowatt hour, hanya diperlukan Rp 2.500 untuk sepeda motor listrik menempuh jarak 50 kilometer, sedangkan jika menggunakan BBM harus menghabiskan sekitar Rp 13.000,” jelas Tonny.

Sementara itu, Kepala Desa Sapeken Joni Junaidi merasa senang dengan tren peningkatan penggunaan sepeda dan motor listrik di desa yang dipimpinnya. Salah satunya karena mengurangi emisi karbon yang dihasilkan sepeda motor konvensional. Dengan begitu, kualitas udara wilayah pesisir seperti Pulau Sapeken tetap terawat dan tidak berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat.

Menurut Joni, udara yang dihirup warganya saat ini masih seputih pasir pantai yang memanjang mengelilingi daratan. “Saking tingginya animo masyarakat terhadap sepeda listrik sampai anak-anak SD juga mulai pakai. Nah, untuk anak-anak ini yang kami berikan pendampingan agar tidak menimbulkan masalah di tengah jalan,” tandas Joni. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.