KabarBaik.co, Blitar– Tradisi salat Tarawih kilat di Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Hikam, Desa Mantenan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, masih menjadi daya tarik warga setiap Ramadan.
Pada awal Ramadan 1447 Hijriah, ribuan jemaah kembali memadati pondok pesantren tersebut untuk mengikuti Tarawih dengan durasi singkat.
Salat Tarawih dan Witir sebanyak 23 rakaat di ponpes ini diselesaikan dalam waktu sekitar tujuh hingga 10 menit. Tradisi tersebut bukan sekadar keunikan ibadah, melainkan lahir dari kepedulian sosial pendiri pondok terhadap kondisi masyarakat sekitar.
Pengasuh Ponpes Mambaul Hikam KH Dliya’uddin Azzamzami Zubaidi, menjelaskan tarawih kilat pertama kali diterapkan oleh pendiri pondok, Mbah Kiai Abdul Ghofur, sekitar tahun 1907. Saat itu, mayoritas warga Mantenan berprofesi sebagai petani.
“Mbah Kiai Abdul Ghofur melihat masyarakat bekerja di sawah dari pagi sampai sore. Beliau tidak ingin jemaah terbebani tarawih yang terlalu lama setelah seharian bekerja,” ujar Gus Dliyak, Jumat (20/2).
Menurutnya, pendekatan tersebut justru membuat warga tetap istiqamah menjalankan ibadah Ramadan. Tarawih yang singkat dinilai menjadi solusi agar semangat beribadah tetap terjaga meski kondisi fisik sudah lelah.
“Pemuka agama itu harus bisa memberi solusi bagi masyarakat. Bukan memberatkan, tapi memudahkan tanpa meninggalkan syariat,” tambahnya.
Gus Dliyak menegaskan, meski dilakukan dengan tempo cepat, pelaksanaan salat tetap memenuhi rukun dan syarat. Tumakninah tetap dijaga dan bacaan wajib tetap dilafalkan.
“Bacaannya tetap ada dan tumakninah tetap dijaga, minimal cukup untuk membaca Subhanallah di dalam hati,” tegasnya.
Hingga kini, tradisi tarawih kilat tersebut masih diminati. Sekitar 1.500 jemaah dari berbagai daerah datang setiap malam, membuktikan bahwa warisan dakwah berbasis empati sosial itu tetap relevan lintas generasi.(*)








