Serial Drama Kriminal Keji: 4 Klaster Konstruksi Penculikan dan Pembunuhan Kacab BRI

oleh -348 Dilihat
ILHAM PRADIPTA
Flyer duka cita dari keluarga besar Faperta Unsoed di Instagram.

KabarBaik.co- Kasus penculikan dan pembunuhan Kepala Cabang (Kacab) Pembantu Bank BRI, Mohamad Ilham Pradipta (37), terus mendapat atensi publik luas. Bahkan, banyak yang menyebutnya mirip sebuah serial drama kriminal. Betapa tidak, satu orang korban menyeret hingga 15 orang menjadi tersangka, dan bukan tidak mungkin jumlah itu masih akan bertambah.

Peristiwa ini bukan sekadar tindak pidana biasa. Ada peran dan perencanaan panjang. Polisi menemukan para pelaku terbagi dalam empat klaster dengan peran berbeda: otak intelektual, tim pembuntut (spy man), kelompok penculik, hingga eksekutor yang menganiaya dan membuang jasad korban. Di balik itu, muncul dugaan kuat bahwa motif utama berkaitan dengan upaya pembobolan uang bank melalui pemalsuan dokumen-dokumen dan praktik ilegal lainnya.

Semasa hidup, Ilham dikenal sebagai sosok berintegritas. Diduga karena mengetahui rencana gelap itulah tragedi terjadi. Konon, saat berada di sebuah tempat setelah diculik, Ilham sempat ditekan agar menuruti kemauan para pelaku. Namun, Ilham menolak tunduk. Sikapnya inilah yang kemungkinan membuat para pelaku nekat menghabisinya. Jasad Ilham kemudian ditemukan dalam kondisi mengenaskan di area persawahan kosong di wilayah Bekasi.

Polisi hingga kini masih menutup rapat motif di meja penyidikan. Namun, kabar yang beredar juga menyebut adanya keterlibatan oknum aparat dan orang dalam perbankan. “Kami berhati-hati dan proporsional dalam mengungkap kasus ini,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi.

Empat orang disebut sebagai otak intelektual, salah satunya Dwi Hartono alias DH, residivis yang belakangan dikenal sebagai pengusaha muda sukses sekaligus dermawan. Dwi bersama dua rekannya ditangkap tim gabungan di Solo, Jawa Tengah, Minggu (24/8) malam. Adapun C alias Ken diamankan di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Video penangkapan Ken bahkan viral karena polisi sempat menyinggung kebiasaannya memakai wig lantaran kepalanya botak.

Meski dikenal suka bergaul dan aktif di kegiatan sosial, Dwi ternyata diduga sebagai aktor atau dalang di balik rencana penculikan hingga pembunuhan tersebut. Ia juga punya bisnis di bidang pendidikan non-formal melalui platform Guruku.com dan kerap membagikan konten motivasi bisnis di YouTube dengan ribuan pengikut. Kontras antara citra publiknya dan dugaan peran kriminalnya membuat kasus ini semakin menyita perhatian.

Di klaster kedua, polisi menangkap Rohmat Sukur (RSu) di wilayah Semarang setelah sempat melarikan diri. RSu berperan menyiapkan tim pemantau untuk mengikuti gerak-gerik Ilham serta menyiapkan dukungan IT. Polisi masih memburu seorang lagi berinisial F, yang diduga oknum aparat.

Klaster ketiga adalah kelompok penculik, beranggotakan empat orang debt collector: AT, RSa, RAH, dan EW alias Eras. Untuk membedakan dengan Rohmat Sukur, polisi menyebut RS di kelompok ini adalah orang yang berbeda. Mereka bertugas menjemput paksa korban di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Timur. Eras, yang ditangkap di Bandara Komodo, Labuan Bajo, ternyata mantan atlet kickboxing.

Kuasa hukumnya sempat menyebut bahwa mereka dijanjikan imbalan Rp50 juta oleh seseorang berinisial F itu. Para penculik tersebut kaget karena tidak mengetahui kalau korban Ilham akhirnya tewas. Bahkan, mereka dikabarkan sampai menangis di depan penyidik.

Adapun klaster keempat adalah para eksekutor. Lima orang ditetapkan. Mereka berinisial M, T, U, Z, dan N. Perannya langsung menganiaya hingga menghabisi nyawa Ilham, lalu membuang jasadnya ke persawahan di Bekasi.

Kini, masyarakat menanti jawaban: siapa sebenarnya pihak paling berkepentingan menghabisi Ilham, berapa besar nilai uang yang dipertaruhkan, dan sejauh mana keterlibatan aktor-aktor lain yang masih belum tersentuh. Polisi memastikan, kebenaran soal motif masih dikunci rapat dan akan diungkap secara hati-hati.

Namun, bila terlalu lama, bukan tidak mungkin bisa menjadi blunder bagi reputasi institusi Polri. Apresiasi karena cepat bergerak bisa saja berubah menjadi ketidakpercayaan publik apabila lamban memberi penjelasan terbuka. Misalnya, muncul komunikasi di “ruang-ruang gelap” dalam perkara ini. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi


No More Posts Available.

No more pages to load.