KabarBaik.co – Awal tahun 2026 dibuka dengan kewaspadaan baru di bidang kesehatan. Temuan kasus infeksi influenza A (H3N2) subclade K, yang dikenal sebagai Super Flu, dilaporkan telah menyebar di delapan provinsi di Indonesia. Kondisi ini mendorong para ahli kembali mengingatkan pentingnya Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai benteng utama pencegahan penyakit menular.
Epidemiolog Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Windhu Purnomo, menegaskan bahwa PHBS tidak boleh hanya menjadi respons sesaat ketika wabah muncul, tetapi harus tumbuh menjadi budaya masyarakat Indonesia.
“PHBS itu tetap harus menjadi budaya. Jangan sampai kita kembali seperti sebelum Covid-19, ketika masyarakat bersikap sembarangan terhadap kesehatan,” ujar Windhu saat dikonfirmasi, Selasa (6/1).
Ia mencontohkan kebiasaan sederhana namun krusial, seperti mencuci tangan dengan sabun dan memakai masker saat sedang sakit, yang dinilainya masih sering diabaikan. Padahal, praktik tersebut terbukti efektif menekan penularan penyakit pernapasan.
Windhu membandingkan kondisi ini dengan budaya kesehatan di Jepang. Menurutnya, jauh sebelum pandemi Covid-19, masyarakat Jepang sudah terbiasa menerapkan PHBS dalam kehidupan sehari-hari.
“Di Jepang, kalau batuk mereka langsung pakai masker. Itu sudah menjadi kebiasaan sejak lama, bahkan sebelum Covid-19,” katanya.
Ia menambahkan, penggunaan masker saat berada di kerumunan dan kebiasaan mencuci tangan setelah menyentuh benda di ruang publik seharusnya kembali dibiasakan. Langkah-langkah kecil ini, kata Windhu, memiliki dampak besar dalam memutus rantai penularan.
Sementara itu, berdasarkan rilis Kementerian Kesehatan RI, provinsi dengan temuan kasus Super Flu terbanyak meliputi Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala flu yang berkepanjangan.
Masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam, batuk, pilek, atau keluhan flu lain yang tidak kunjung membaik dan terus berkembang. Deteksi dini dinilai penting untuk mencegah komplikasi serta penyebaran yang lebih luas.
Di tengah mobilitas masyarakat yang kembali tinggi, para ahli menekankan bahwa kewaspadaan tidak berarti panik. Namun, disiplin menerapkan PHBS dinilai menjadi kunci agar Indonesia mampu menghadapi ancaman penyakit menular, termasuk Super Flu, dengan lebih siap dan tenang.






