KabarBaik.co, Nganjuk – Di tengah hamparan makam umum Desa Tanjung Kalang, Ngronggot, Nganjuk, suasana rindang dan asri menyelimuti setiap sudut. Pohon-pohon besar memberikan keteduhan, sementara rerumputan yang terawat bersih membuat suasana semakin khusyuk.
Tak perlu menunggu menjelang bulan suci Ramadan, setiap Kamis malam Jumat, salah satu perwakilan keluarga almarhum Tugianto dan Siti Aminah selalu datang ke sini, membawa doa dan rasa rindu kepada kedua orang tua yang telah tiada.
“Setiap Kamis malam Jumat, saya dan ibu selalu ke makam nenek dan kakek, untuk mendoakan keduanya,” ungkap Ahmad Rizky, cucu dari anak keenam pasangan almarhum dan almarhumah ditemui Kabarbaik.co sore hari di lokasi makam, Minggu (15/2).
Tugianto dan Siti Aminah mempunyai enam anak, dua putra dan empat putri, yang kini semua telah membina keluarga dengan beragam latar belakang profesi, mulai dari ASN, karyawan swasta, hingga jurnalis.
Meskipun masing-masing sudah memiliki kehidupan dan kesibukan sendiri, mereka tidak pernah melupakan kedua orang tua yang telah mendidik dan membesarkan mereka dengan penuh cinta.
Rumah peninggalan orang tua di Desa Tanjung Kalang kini menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar setiap ada kesempatan. Tempat yang dulu penuh dengan suara anak-anak bermain kini sering dijadikan titik temu untuk merencanakan kunjungan bersama ke makam, serta berbagi cerita tentang masa lalu bersama kedua almarhum.
“Mendoakan orang tua adalah kewajiban atau amalan yang dapat dikirimkan kepada keluarga yang sudah meninggal. Kami saat berkunjung ke rumah peninggalan orang tua selalu datang ke makam, ini tidak hanya saat menjelang Ramadan,'” ujar Silasiatun, putri ketiga pasangan almarhum Tugianto dan Siti Aminah.
Silasiatu sendiri membaca Yasin di atas pusara kedua orang tuanya. Suaranya lembut namun penuh keyakinan, sambil menata bunga yang baru saja diletakkan di atas makam.
Jarak dan tempat tinggal tidak menjadi halangan bagi keluarga besar ini untuk terus menjaga hubungan dengan orang tua yang telah tiada. Siti Solikah, anak keempat yang tinggal di Kota Surabaya, mengaku selalu menyempatkan diri untuk pulang setiap ada kesempatan luang.
“Ya setiap ada waktu longgar, dan tidak ada kesibukan, kami selalu pulang, untuk ziarah ke makam,” timpalnya sambil menunjukkan arah jalan yang biasanya ditempuhnya saat pulang kampung.

Tradisi berziarah dan mendoakan orang tua juga terus ditanamkan kepada generasi penerus. Muzainatun, menantu dari keluarga kedua almarhum yang tinggal di Kota Nganjuk dengan jarak sekitar 35 kilometer dari tempat kelahiran suaminya, menjelaskan pentingnya memberikan pemahaman kepada anak-anak.
“Kami selalu mengajak anak-anak, untuk ziarah ke makam, dengan berziarah seperti sekarang ini, kita seakan bertemu dengan orang tua, hati jadi tenang, mungkin ini untuk menjawab rasa kangen kita ya,'” ungkapnya sambil melihat anak-anak yang sedang diam berdampingan di sampingnya, memperhatikan setiap kata yang diucapkan.
Jariyah, putri kedua pasangan almarhum Tugianto dan Siti Aminah, menegaskan bahwa ziarah makam ke orang tua bukan hanya sekadar tradisi belaka.
“Kita ini dibesarkan dan dibekali dengan ilmu pengetahuan umum dan agama oleh orang tua, sudah seharusnya mendoakan setelah beliau berpuang ke hadirat Allah SWT'” tuturnya dengan penuh penghormatan.
Saat keluarga sedang berdoa, KH Ahmad Fadoli dari Dusun Jabon Desa Tanjung Kalangan yang juga sedang berziarah ke makam keluarga dekatnya, mendekat dan menyapa mereka. Beliau yang dikenal sebagai tokoh agama di desa tersebut memberikan ulasan tentang pentingnya ziarah makam.
“Ziarah makam bukan hanya untuk mendoakan orang yang telah tiada, tetapi juga sebagai pengingat bagi kita semua bahwa kehidupan dunia ini sementara. Ketika kita datang ke makam, hati akan menjadi lebih tenang dan bisa merenungkan apa yang telah kita lakukan selama hidup,'” ujar KH Ahmad Fadoli.
Beliau menambahkan bahwa kunjungan rutin seperti yang dilakukan keluarga almarhum Tugianto dan almarhumah Siti Aminah sangat patut dicontoh.
“Banyak orang yang hanya mengingat makam keluarga ketika menjelang Ramadan atau hari raya. Padahal, doa yang dikirimkan setiap saat akan sangat bermanfaat bagi orang yang telah meninggal. Selain itu, tradisi seperti ini juga dapat mempererat tali silaturahmi antar anggota keluarga dan menanamkan nilai penghormatan kepada leluhur pada generasi muda,” pungkasnya dengan senyum hangat sebelum melanjutkan kunjungannya ke makam keluarga sendiri.
Suasana makam yang tenang dan bersih menjadi tempat di mana setiap anggota keluarga bisa merenung, menyampaikan doa, dan merasa dekat lagi dengan orang tua yang mereka cintai bukti bahwa cinta dan rasa terima kasih kepada orang tua tidak akan pernah pudar meskipun waktu dan jarak telah memisahkan. (*)






