UCAPS 2025 Bahas Tantangan Kesehatan Mental Remaja, Hadirkan Psikolog Internasional

oleh -740 Dilihat
IMG 20250208 WA0014
simposium dan workshop The 3rd Updates on Child and Adolescent Psychiatry Surabaya (UCAPS) 2025

KabarBaik.co – Sepanjang tahun 2023, sekitar 6,1 persen remaja Indonesia berusia di atas 15 tahun dilaporkan mengalami gangguan mental dengan kasus gangguan depresi menjadi yang paling dominan.

Kondisi ini menyoroti pentingnya terapi berkelanjutan, pengobatan yang konsisten, serta dukungan keluarga untuk membantu pemulihan kesehatan mental remaja.

Hal ini menjadi topik utama dalam simposium dan workshop The 3rd Updates on Child and Adolescent Psychiatry Surabaya (UCAPS) 2025 yang diselenggarakan oleh Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) bersama RSUD dr Soetomo Surabaya, pada Sabtu (8/2) di Hotel Bumi Surabaya City Resort.

Ketua Panitia UCAPS 2025, dr. Melati Wahyurini, SpKJ, menjelaskan bahwa acara ini mengusung tema Mental Health Challenge in Young Generation yang membahas berbagai tantangan kesehatan mental remaja dari aspek neurobiologi, pencegahan, hingga terapi farmakologis dan non-farmakologis.

“Kegiatan ini rutin diadakan dua tahun sekali untuk meningkatkan kemampuan para klinisi dan pemerhati kesehatan mental. Kami berharap ini dapat berkontribusi pada visi Indonesia Emas 2045,” ujar dr. Melati.

UCAPS 2025 juga menghadirkan puluhan pembicara ahli dari berbagai daerah, termasuk seorang psikolog ternama asal Malaysia, Prof. Zubaidah Jamil, BSc, MSc, PhD, yang dikenal sebagai spesialis kedokteran jiwa anak dan remaja.

Menurut dr. Melati, topik pembahasan dalam UCAPS kali ini sangat relevan dengan berbagai tantangan kesehatan mental saat ini, seperti dampak pinjaman online (pinjol), seks resesi, adiksi gadget, perilaku melukai diri sendiri (self-harm), hingga isu bunuh diri di kalangan remaja.

Dr. Melati juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam mendukung pemulihan remaja yang mengalami gangguan mental.

“Keluarga adalah kunci utama. Kami selalu melibatkan orang tua dalam proses terapi, mulai dari wawancara hingga menentukan langkah pengobatan,” katanya.

Namun, tantangan terbesar para psikiater saat ini adalah menghilangkan stigma negatif terhadap profesi psikiatri.

“Banyak orang menganggap psikiater hanya menangani pasien gangguan jiwa berat, padahal kami juga fokus pada masalah tumbuh kembang dan perilaku anak remaja,” ungkapnya.

Gangguan mental pada remaja sering kali memengaruhi proses belajar dan perkembangan kepribadian mereka. Oleh karena itu, dr. Melati mengajak seluruh pemerhati kesehatan mental untuk berkolaborasi mengatasi tantangan ini.

“Kita harus memastikan generasi muda Indonesia mampu berkembang secara optimal, karena mereka adalah aset bangsa menuju Indonesia Generasi Emas 2045,” tutupnya.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.