KabarBaik.co – Mentari pagi merayap di celah-celah pepohonan kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang, menyebarkan cahaya hangat yang menari-nari di jalan setapak. Udara sejuk membawa aroma tanah basah dan bunga yang menempel di nisan. Suara langkah kaki peziarah terdengar bersahutan di antara bisik doa, sesekali terpotong celoteh anak-anak yang ikut orang tuanya berziarah.
Sudah 16 tahun berlalu sejak KH Abdurrahman Wahid, akrab disapa Gus Dur, wafat pada 30 Desember 2009 silam. Namun, jejak mantan ketua umum PBNU yang menjadi Presiden ke-4 RI itu masih terasa nyata. Dalam doa yang tak berhenti, dalam senyum, dan dalam denyut kehidupan di sekitarnya.
Setiap hari, diperkirakan lebih dari 4.000 peziarah menapaki Tebuireng. Angka ini melonjak pada akhir pekan dan hari libur keagamaan hingga mencapai 10.000 orang, bahkan terkadang lebih. Suasana yang padat itu menambah warna kehidupan di Tebuireng, membuat kompleks makam Gus Dur seakan tak pernah sepi, dan menunjukkan bagaimana warisan spiritualnya tetap hidup dalam langkah berjuta orang dari berbagai kota dan provinsi.
Kompleks makam Tebuireng bukan hanya tempat pesarean Gus Dur. Di sini juga dimakamkan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, kakek Gus Dur sekaligus pendiri NU, KH A. Wahid Hasyim, ayah Gus Dur yang pernah menjadi Menteri Agama, serta keluarga besar Pesantren Tebuireng lainnya. Nisan-nisan di kompleks itu seolah menegaskan bahwa Tebuireng bukan sekadar pesantren dan makam tokoh bangsa, melainkan pusat sejarah dan spirit keluarga besar NU yang terus hidup dalam doa dan pengabdian.
Di luar area makam, ritme kehidupan berbeda tapi selaras. Pedagang menata dagangan dengan gerakan teratur, menumpuk tasbih, peci, busana hingga gantungan kunci. Tukang parkir sigap melambaikan tangan menertibkan kendaraan yang berdatangan, sementara pemandu ziarah menuntun rombongan dari satu titik ke titik lain, suaranya lembut menyeimbangkan gemuruh pengunjung.
Keramaian itu bukan sekadar hiruk-pikuk. Namun, denyut kehidupan yang lahir dari warisan Gus Dur, di mana doa, harapan, dan ekonomi berjalan berdampingan. Banyak pengunjung dari luar kota bahkan luar pulau datang, membawa doa, bunga, dan harapan, menambah warna dan keragaman kehidupan di Tebuireng.
Samsul, 47 tahun, menata tasbih dan peci di lapaknya. Ia mengaku memulai usaha sejak 2011, semula hanya coba-coba. “Awalnya ragu. Sekarang alhamdulillah, dari sini saya bisa menyekolahkan dua anak sampai SMA,” ujarnya sambil tersenyum hangat.
Omzet harian di hari biasa berkisar Rp 300–500 ribu, dan naik dua hingga tiga kali lipat saat libur panjang atau menjelang haul. Namun bagi Samsul, setiap senyuman peziarah dan ucapan terima kasih lebih bernilai daripada uang. “Kalau ada pembeli kurang uang, ya sudah. Rezeki datang dari tempat lain. Rasanya bahagia bisa ikut membantu mereka,” katanya.
Di sisi lain, Siti, 39 tahun, menata jajanan di meja kayunya. Dulu, ia hanya menganggur di rumah. Kini, aroma gorengan dan manisan yang dihidangkan menciptakan kesan hangat dan menyenangkan bagi peziarah. “Saya mulai jualan seadanya. Rezekinya mengalir. Bukan kaya, tapi cukup dan tenang,” katanya sambil tersenyum. Banyak pengunjung kembali lagi bukan karena jajanan semata, melainkan karena keramahan yang dihadirkan, menyulap transaksi sederhana menjadi interaksi yang hangat dan bermakna.
Roni, 52 tahun, berdiri di bawah pohon tua sambil mengamati barisan kendaraan yang masuk kawasan makam. Setiap gerakan tangannya yang sigap menata parkir terasa seperti ritme tak terlihat yang menjaga kenyamanan para peziarah. “Ini bukan sekadar pekerjaan. Menjaga peziarah adalah bentuk adab. Gus Dur mengajarkan kami soal kemanusiaan,” ujarnya. Bersama rekan-rekannya, Roni memastikan peziarah merasa aman, membuat setiap langkah di Tebuireng menjadi bagian dari ibadah.
Di sudut lain, Rina, 34 tahun, menata kaus bergambar Gus Dur, poster, dan gantungan kunci serta lambang Nahdlatul Ulama (NU). Warna-warna cerah dan desain sederhana menarik perhatian sebagian peziarah yang ingin membawa pulang kenang-kenangan. “Saya jual ini supaya peziarah bisa membawa doa pulang. Rasanya seperti ikut menebar semangat Gus Dur,” ujarnya. Beberapa peziarah bahkan meminta dibungkuskan kaus itu sebagai hadiah untuk keluarganya, membuat setiap transaksi terasa personal dan penuh makna.
Fenomena di Tebuireng jauh lebih dari sekadar transaksi ekonomi. Pedagang, tukang parkir, dan pemandu merasa sedang melayani tamu-tamu Gus Dur, bukan hanya berjualan. Ramah, jujur, dan saling menjaga menjadi etos yang tumbuh di situ, di mana spiritualitas berjalan berdampingan dengan kebutuhan material.
Dari tasbih yang terjual, kaus yang dibeli, hingga jasa parkir yang diberikan, semua terasa seperti bagian dari berkah. Arus peziarah yang stabil membuat kehidupan ekonomi warga berputar setiap hari, dan mereka menyebutnya “ekonomi berkah”, di mana rezeki datang seiring doa dan niat baik.
Makam Gus Dur bukan monumen kaku. Namun, sebuah ekosistem kehidupan: doa yang tak pernah berhenti, perjumpaan lintas latar, dan roda ekonomi yang berputar setiap hari. Dari balik nisan, Gus Dur seakan masih memberi makan ribuan perut rakyat kecil, satu tasbih, satu bunga, satu kaus pada satu waktu.
Saat matahari condong ke barat, aroma bunga tetap menguar, langkah peziarah terdengar berirama di jalan setapak, dan senyum para pedagang menambah kehangatan kompleks Pesantren Tebuireng. Gus Dur tidak pernah benar-benar pergi.
Gus Dur tetap hadir, menghidupi kehidupan, menebar berkah, dan mengajarkan kemanusiaan yang sederhana, namun abadi. Di tengah hujan atau terik matahari, langkah peziarah dan senyum pedagang tetap bertahan, menjadi pengingat bahwa warisan Gus Dur adalah kehidupan itu sendiri: humanis, sederhana, dan hidup. (*)






