5 Dampak Tak Terduga Jika Anak Telat Diajarkan Toilet Training, Yuk Simak!

oleh -49 Dilihat
TOILET TRAINING
Foto Pinterest

KabarBaik.co- Toilet training atau proses pembiasaan anak untuk menggunakan toilet merupakan langkah penting dalam perkembangan anak. Meskipun setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda, keterlambatan dalam toilet training dapat memiliki dampak psikologis, sosial, dan kesehatan.

Umumnya, toilet training dilakukan sejak Si Kecil memasuki usia dua tahun. Meski begitu, perkembangan setiap anak berbeda-beda sehingga Bunda harus melihat tentang kesiapan diri mereka.

Tidak perlu terburu-buru mengajari anak toilet training. Jika memulainya terlalu cepat, mungkin Bunda akan membutuhkan waktu lebih lama untuk melatih mereka.

Tanda anak siap toilet training;

  • Anak sudah bisa berjalan dan duduk di toilet
  • Anak bisa menurunkan celana dan menaikkannya lagi
  • Anak bisa tidak mengompol hingga dua jam
  • Anak memahami dan bisa mengikuti petunjuk dasar
  • Anak bisa berkomunikasi saat perlu buang air
  • Anak tampak tertarik menggunakan toilet

Dampak Anak Terlambat Toilet Training;

1. Anak tidak mandiri

Anak yang sudah bisa melakukan buang air kecil atau buang air besar sendiri di toilet artinya sudah terlatih untuk mandiri, Bunda. Sebaliknya, anak yang telat melakukan toilet training akan selalu bergantung dengan orang tua atau orang-orang sekitarnya.

Biarkan anak memerhatikan orang tua atau saudara kandungnya saat ingin buang air kecil sehingga mereka bisa belajar secara visual. Berikan dorongan dan motivasi ketika mereka ingin mencoba menggunakan toilet.

2. Anak boros popok

Semakin lama anak dilatih toilet training, maka semakin lama mereka akan menggunakan popok. Karena itu, Bunda mungkin harus membeli popok sekali pakai lebih banyak dan menyebabkan masalah pada finansial.

Sebaliknya, anak yang sudah bisa pergi ke toilet tidak lagi membutuhkan popok. Ini tentu akan menghemat pengeluaran keluarga.

3. Keterbatasan Aktivitas

Anak yang belum terbiasa menggunakan toilet mungkin dibatasi dalam berbagai aktivitas.Pihak sekolah atau tempat permainan anak-anak dapat memiliki kebijakan yang mengharuskan anak untuk sudah terlatih toilet sebelum diterima.

4. Resiko Infeksi Saluran Kemih

Anak yang masih menggunakan popok atau training pants terlalu lama dapat memiliki resiko lebih tinggi terhadap infeksi saluran kemih. Popok yang basah dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri.

5. Memengaruhi kesehatan mental

Ketika anak belum sepenuhnya dilatih menggunakan toilet pada usia empat tahun, mereka akan dicap ‘buruk’ dan mengalami rasa malu serta kecewa pada dirinya sendiri. Selain itu, anak juga akan mendapatkan reaksi yang tidak menyenangkan dari lingkungan sosial dan hal itu bisa merusak citra diri serta kepercayaan dirinya.

Mungkin Moms bertanya-tanya, pada usia berapa sebaiknya anak mulai dilatih toilet training? Saat tepat memulai toilet training pada anak dilihat dari kesiapannya, yaitu kematangan fisik dan psikologis yang secara umum timbul sekitar usia 18 bulan sampai 2,5 tahun.

Tips Melakukan Toilet Training

Persiapan Awal:

  • Pilih waktu yang tepat: Pilih waktu ketika anak sedang tidak sakit atau mengalami perubahan besar dalam hidupnya (misalnya, pindah rumah).
  • Siapkan perlengkapan: Siapkan toilet duduk khusus anak, pispot, celana dalam yang mudah dilepas, dan pakaian yang nyaman.
  • Jelaskan dengan sederhana: Gunakan bahasa yang mudah dipahami anak untuk menjelaskan tentang toilet dan proses buang air.
  • Buat suasana menyenangkan: Libatkan anak dalam memilih toilet duduk atau pispot yang disukainya.

Proses Toilet Training:

  • Latihan duduk: Biasakan anak duduk di toilet atau pispot secara teratur, meskipun awalnya mungkin tidak langsung berhasil.
  • Kenali tanda-tanda: Perhatikan tanda-tanda ketika anak akan buang air, seperti meremas-remas popok atau mencari tempat yang sepi.
  • Beri pujian: Berikan pujian dan hadiah kecil setiap kali anak berhasil buang air di toilet.
  • Jangan marah: Hindari memarahi anak jika terjadi kecelakaan. Tetap tenang dan bantu bersihkan.
  • Konsisten: Teruslah melakukan toilet training secara konsisten, meskipun terkadang mengalami kemunduran.
  • Libatkan anak: Ajak anak untuk memilih pakaian dalamnya sendiri dan ikut membersihkan diri setelah buang air.

Tips Tambahan:

  • Buat jadwal: Buat jadwal buang air secara teratur, misalnya setelah bangun tidur, sebelum tidur, atau setelah bermain.
  • Gunakan buku cerita: Bacakan buku cerita tentang toilet training untuk membantu anak memahami prosesnya.
  • Libatkan anggota keluarga lain: Libatkan anggota keluarga lain untuk mendukung proses toilet training.
  • Bersabar: Toilet training membutuhkan waktu dan kesabaran. Jangan terburu-buru dan nikmati prosesnya.

Semoga informasi ini bermanfaat!

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Lilis Dewi


No More Posts Available.

No more pages to load.