PERANG terbuka antara Iran melawan Amerika Serikat (AS)-Israel sejak akhir Februari 2026 telah menimbulkan dampak besar di berbagai sektor. Mulai dari korban jiwa, kerusakan infrastruktur, hingga krisis energi global. Serangan udara, misil, dan drone yang saling diluncurkan memperluas konflik ke beberapa negara Timur Tengah dan memicu gangguan ekonomi dunia.
Berikut setidaknya tujuh dampak utama konflik tersebut berdasarkan laporan media internasional yang dirangkum dalam beberapa hari terakhir;
1. Korban jiwa besar, termasuk anak-anak sekolah
Perang ini menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar sejak hari pertama serangan. Salah satu insiden paling mematikan terjadi pada 28 Februari 2026, ketika sebuah sekolah dasar (SD) perempuan di Minab, Iran selatan, terkena serangan misil. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sekitar 168–180 orang, sebagian besar siswa perempuan, dan melukai hampir 100 orang lainnya.
Selain itu, korban jiwa juga terjadi di negara lain akibat serangan balasan Iran. Misalnya di Arab Saudi, sebuah proyektil menghantam bangunan tempat tinggal dan menewaskan dua orang warga sipil.
Menurut laporan berbagai media internasional, jumlah korban terus meningkat seiring intensitas serangan udara dan misil yang terjadi hampir setiap hari.
2. Krisis politik di Iran setelah pemimpin tertinggi tewas
Serangan awal konflik juga memicu krisis politik besar di Iran. Laporan Reuters menyebutkan bahwa serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khemenei dan keluarga, yang kemudian memaksa negara itu melakukan pergantian di tengah jalan.
Beberapa hari kemudian, Iran mengumumkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru, sebuah keputusan yang memicu perdebatan politik di dalam negeri serta disebut meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan. Pergantian kepemimpinan di tengah perang meningkatkan ketidakpastian politik sekaligus memperkeras retorika militer Iran terhadap AS dan Israel.
3. Konflik meluas ke negara-negara Teluk
Perang tidak lagi terbatas antara Iran dan Israel. Serangan balasan Iran juga menyasar negara-negara yang menjadi sekutu AS di kawasan Teluk. Iran dilaporkan meluncurkan 189 misil balistik, 941 drone, dan beberapa rudal jelajah ke Uni Emirat Arab sejak awal konflik, menewaskan empat orang dan melukai lebih dari seratus orang.
Serangan juga terjadi di Qatar, di mana 66 misil ditembakkan ke arah target yang diduga terkait dengan pangkalan militer AS. Sebagian besar berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara. Menurut laporan media internasional, Iran juga menargetkan fasilitas energi di Saudi Arabia dan Qatar sebagai bagian dari eskalasi konflik regional.
Hal ini meningkatkan kekhawatiran bahwa perang dapat berubah menjadi konflik regional berskala penuh.
4. Jalur energi global terganggu akibat krisis Selat Hormuz
Konflik ini juga mengganggu jalur pelayaran energi paling penting di dunia, yaitu Selat Hormuz. Reuters melaporkan bahwa lalu lintas kapal tanker minyak di selat tersebut sempat turun dari 37 kapal per hari menjadi hampir nol setelah Iran mengancam akan menyerang kapal yang mencoba melewati wilayah itu.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilewati sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia. Akibat gangguan tersebut, sekitar 150 kapal tertahan di kawasan Teluk, sementara beberapa tanker mengalami kerusakan akibat serangan. Gangguan ini menjadi salah satu faktor utama yang memicu gejolak pasar energi global.
5. Harga minyak dunia melonjak tajam
Dampak ekonomi paling cepat terasa adalah lonjakan harga energi global. Menurut laporan The Guardian, harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga 119,50 dolar AS per barel, sementara WTI mencapai sekitar 103 dolar AS per barel, tertinggi sejak 2022.
Lonjakan harga ini dipicu oleh beberapa faktor. Di antaranya, penutupan sementara fasilitas energi, gangguan pelayaran di Selat Hormuz, serangan terhadap kilang dan depot minyak. Bahkan sejumlah analis memperingatkan harga minyak dapat mencapai 150–200 dolar per barel jika konflik terus berlanjut. Kenaikan ini langsung memicu inflasi energi di berbagai negara.
6. Infrastruktur energi dan industri menjadi target
Fasilitas energi menjadi salah satu sasaran utama dalam konflik ini. Pada 2 Maret 2026, sebuah kilang minyak besar milik Saudi Aramco di Ras Tanura menjadi target serangan drone yang diduga diluncurkan Iran. Serangan tersebut menyebabkan kilang menghentikan operasi sementara.
Serangan terhadap fasilitas energi juga terjadi di Qatar dan beberapa lokasi industri lain di kawasan Teluk, yang memicu penghentian sementara produksi gas alam cair (LNG). Kerusakan atau penghentian operasi fasilitas energi ini memperburuk krisis pasokan energi global.
7. Pasar keuangan global terguncang
Konflik Iran melawan AS–Israel juga berdampak langsung pada pasar finansial dunia. Menurut laporan Reuters, pasar saham di Amerika Serikat dan Eropa mengalami penurunan karena investor khawatir konflik akan memicu krisis energi dan resesi global.
Selain itu, produksi minyak di beberapa negara juga menurun drastis. Reuters melaporkan produksi minyak Irak bahkan turun sekitar 70 persen karena gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik tersebut dapat berkembang menjadi krisis ekonomi global yang lebih luas.
Jadi, konflik Iran dengan AS-srael tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur di Timur Tengah, tetapi juga mengguncang sistem energi dan ekonomi dunia. Gangguan jalur perdagangan minyak, serangan terhadap fasilitas energi, serta ketidakstabilan geopolitik membuat perang ini berpotensi menjadi salah satu krisis global terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Srop War, Peace! (*)






