8.843 Hektare Sawah di Bojonegoro Terancam Kekeringan, Petani Diminta Waspada

oleh -180 Dilihat
WhatsApp Image 2026 04 13 at 10.50.41 1
Panen raya di Desa Pacul, Bojonegoro. (Foto: Shohibul Umam)

KabarBaik.co, Bojonegoro – Ancaman kekeringan mulai membayangi sektor pertanian di Kabupaten Bojonegoro pada tahun ini. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro mengimbau para petani untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul prediksi ribuan hektare lahan sawah berpotensi terdampak musim kemarau.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro memperkirakan sekitar 8.843 hektare sawah akan mengalami kekeringan. Kondisi tersebut akan berlangsung jika musim kemarau berlangsung sesuai prakiraan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Kepala DKPP Bojonegoro, Zainal Fanani menyatakan, jumlah sawah yang akan mengalami kekeringan tersebut merupakan hasil pemetaan bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Pemetaan dilakukan untuk memastikan potensi dampak kekeringan terhadap produktivitas petani, khususnya pada komoditas padi.

“Ada 8.843 hektare yang disinyalir terdampak kekeringan pada 2026, apabila jadwal kekeringan di Bojonegoro sesuai ramalan BPBD,” ujar Zainal, Senin (13/4).

Berdasarkan hasil pemetaan, lanjut Zainal, potensi kekeringan tersebar di 92 desa yang berada di 15 kecamatan. Wilayah dengan jumlah desa terdampak terbanyak yaitu Kecamatan Sugihwaras sebanyak 17 desa, Kecamatan Baureno 13 desa, Kecamatan Kedungadem 12 desa, serta Kecamatan Purwosari 11 desa.

Selain itu, sejumlah kecamatan lain seperti Kapas, Balen, Gayam, Malo, Kasiman, hingga Padangan juga diprediksi terdampak. Kondisi ini diperparah dengan sistem pengairan yang masih didominasi tadah hujan. Hanya sebagian kecil lahan yang mendapatkan pasokan air dari irigasi Sungai Bengawan Solo maupun sumur bor.

Hal tersebut membuat sektor pertanian di Bojonegoro rentan terhadap kekeringan, terutama saat musim kemarau panjang. Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui DKPP bekerja sama dengan Kementerian Pertanian, khususnya Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, untuk membangun infrastruktur pengairan. Upaya tersebut meliputi pembangunan irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, serta bangunan konservasi air di 128 titik.

Sebelumnya, Pemkab Bojonegoro juga telah menerbitkan surat edaran pada 16 Maret 2026 yang ditandatangani oleh Setyo Wahono. Dalam edaran tersebut disebutkan bahwa musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dan berlangsung lebih lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Prediksi tersebut mengacu pada prakiraan BMKG Tuban yang menyebutkan wilayah Bojonegoro akan mengalami musim kemarau dengan sifat “bawah normal”. Dengan kondisi ini, petani diharapkan dapat menyesuaikan pola tanam serta memanfaatkan sumber air alternatif guna meminimalkan risiko gagal panen. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Shohibul Umam
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.